Loading...
INSPIRASI
Penulis: Yoel M Indrasmoro 01:00 WIB | Sabtu, 27 September 2014

Kisah Dua Anak

Sang Ayah ingin anaknya bekerja untuk mendapatkan nafkahnya sendiri. Ini bukanlah paksaan, melainkan tawaran halus. Yang tujuannya adalah untuk kebaikan anaknya sendiri.
Foto: www.parokilaurentiusbdg.org/

SATUHARAPAN.COM – Mengapa Yesus menggunakan perumpamaan dan tidak menggunakan definisi? Definisi merupakan cara termudah untuk mengajarkan suatu hal. Naradidik hanya diminta menghafal, setelah itu selesai. Ujiannya pun hanya di sekitar hafalan tadi. 

Yesus berbeda. Dia tidak menjejali para pendengar-Nya dengan sekeranjang definisi. Dia mengajar dengan menggunakan perumpamaan. Mengapa? Karena dengan perumpamaan naradidik diajak melihat dirinya sendiri dalam perumpamaan itu. Perumpamaan akan membuat naradidik terpaksa bercermin. Kemudian, mengambil kesimpulan dari bayangan yang dilihatnya dalam cermin.

Perumpamaan Yesus hari ini cukup sederhana. Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: ”Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur. Jawab anak itu: Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi. Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga” (Mat. 21:28-30).

Gagasan dasar dalam perumpamaan ini terungkap pada kata "menyesal". Anak yang mulanya tegas-tegas tidak mau menuruti kemauan ayahnya itu kemudian menyesal. Menurut Rama Gianto, gagasan ”menyesal” di sini bukanlah perasaan gegetun karena telah berbuat sesuatu yang kurang baik dan kini merasa tak enak; atau ada ganjelan dalam hati, kenapa tadi berbuat begini atau begitu. Oleh karena itu, kuranglah tepat bila kita bayangkan anak yang akhirnya menjalankan permintaan ayahnya itu sebagai orang yang punya hati, berperasaan, dan ingin memuaskan ayahnya.

Perkaranya menjadi lebih jelas bila dibandingkan dengan anak kedua. Sebetulnya dia tidak pernah berniat berangkat bekerja di kebun anggur ayahnya. Ia sekadar basa-basi waktu mengatakan ”Baik Pak!”, tetapi sebetulnya hanya ingin agar tidak diganggu lebih lanjut. Ia lebih berminat meneruskan yang sedang dikerjakannya. Tidak juga ia berminat mencari tahu mengapa ayahnya memintanya pergi bekerja di kebun anggurnya. Ia cuma mau membungkam ayahnya dengan sebuah janji. Ia tidak berpikir panjang mengenai tindakannya atau alasan permintaan ayahnya.

Jadi pengertian ”menyesal” dalam perumpamaan ini lebih cocok dipahami sebagai ”memikirkan kembali”, ”meninjau kembali keputusan yang telah dibuat” dan ”urung menjalankan yang sudah diniatkan”. Ada usaha untuk tidak membiarkan diri terpancang pada satu pandangan mati. Itulah yang terjadi pada anak pertama. Meskipun sudah dengan jelas mengatakan tidak mau berangkat, ia akhirnya berangkat pergi juga.

Sejatinya, dengan permintaan itu, Sang Ayah ingin anaknya bekerja untuk mendapatkan nafkahnya sendiri. Ini bukanlah paksaan, melainkan tawaran halus. Yang tujuannya adalah untuk kebaikan anaknya sendiri. Dan anaknya ternyata memahami hal itu.

Pertanyaannya: kita jenis anak yang mana?

 

Editor: ymindrasmoro

Email: inspirasi@satuharapan.com


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home