Google+
Loading...
RELIGI
Penulis: Yamoye AB 12:56 WIB | Minggu, 09 Juli 2017

Kisah Haru Pastor Neles Tebay 25 Tahun Rawat Noken Waghete

Kisah Haru Pastor Neles Tebay 25 Tahun Rawat Noken Waghete
RD. Neles Tebay Kebadabi, Pr ketika mengangkat nomen yang terus dirawatnya sejak dia mendapatkannya dari umat Katolik Waghete pada 28 Juni 1992 saat ia ditahbiskan menjadi imam Katolik Keuskupan Jayapura. Kisah mengharukan itu ia ceritakan saat berkhotbah pada pada misa 25 tahun Imamat Pater Neles Tebay di gereja Katolik St. Yohanes Pemandi Waghete, Deiyai, Keuskupan Timika, (25/6/2017) lalu. (Foto: Yamoye’AB)
Kisah Haru Pastor Neles Tebay 25 Tahun Rawat Noken Waghete
RD Neles Tebay Kebadabi,PR saat berkhotbah pada misa 25 tahun Imamat Pater Neles Tebay di gereja Katolik St. Yohanes Pemandi Waghete, Deiyai, Keuskupan Timika, (25/6/2017) lalu. (Foto: Yamoye’AB)
Kisah Haru Pastor Neles Tebay 25 Tahun Rawat Noken Waghete
RD. Neles Tebay Kebadabi, Pr ketika mengangkat nomen yang terus dirawatnya sejak dia mendapatkannya dari umat Katolik Waghete pada 28 Juni 1992 saat ia ditahbiskan menjadi imam Katolik Keuskupan Jayapura. Kisah mengharukan itu ia ceritakan saat berkhotbah pada pada misa 25 tahun Imamat Pater Neles Tebay di gereja Katolik St. Yohanes Pemandi Waghete, Deiyai, Keuskupan Timika, (25/6/2017) lalu. (Foto: Yamoye’AB)
Kisah Haru Pastor Neles Tebay 25 Tahun Rawat Noken Waghete
RD. Neles Tebay Kebadabi, Pr ketika mengangkat nomen yang terus dirawatnya sejak dia mendapatkannya dari umat Katolik Waghete pada 28 Juni 1992 saat ia ditahbiskan menjadi imam Katolik Keuskupan Jayapura. Kisah mengharukan itu ia ceritakan saat berkhotbah pada pada misa 25 tahun Imamat Pater Neles Tebay di gereja Katolik St. Yohanes Pemandi Waghete, Deiyai, Keuskupan Timika, (25/6/2017) lalu. (Foto: Yamoye’AB)

DEIYAI, SATUHARAPAN.COM - Tanggal 28 Juni 1992 di Timipotukebo Paroki Waghete, Keuskupan Jayapura (kala itu)  ditahbiskan seorang imam baru. Ia merupakan imam ke-4 yang berasal dari suku Mee. Namanya dikenal sebagai RD Neles Tebay Kebadabi, Pr. 

Ia ditahbiskan Uskup Keuskupan Jayapura, Mgr. Herman Ferdinandus Maria Munninghoff, OFM dan diberikan nama adat Kebadabi. Artinya: pembuka jalan (orang yang membuka jalan). 

Pada kesempatan itu umat paroki setempat dari kring (sekarang komunitas basis) Damabagata memberikan sebuah noken yang dirajut dengan benang warna kuning pakai hakpen. Noken itu dituliskan bernama "Kenangan Untuk Neles Tebay" berwarna coklat. 

RD. Neles Tebay Kebadabi, Pr mengatakan, noken bagi orang asli Papua (OAP) merupakan simbol perdamaian serta kesuburan dan noken sebagai wadah segala sesuatu yang mempunyai nilai khusus bagi masyarakat di Tanah Papua. 

Bagi OAP, noken itu berfungsi sebagai tas, tetapi nilai noken lebih tinggi dari pada tas pada umumnya. “Ini noken yang dulu (28 Juni 1992) umat Waghete dari pos Damabagata berikan kepada saya saat pentahbisan di Timipotu. Saya sudah jaga dan rawat dia (noken) dengan baik. Sampai sekarang masih utuh dan awet,” ungkap Pater Neles Tebay Kebadabi, Pr dalam khotbahnya pada misa 25 tahun pesta perak Imamatnya di gereja Katolik St. Yohanes Pemandi Waghete, Deiyai, Keuskupan Timika, (25/6/2017) lalu.

Ia mengatakan, noken yang dikalungkan di lehernya itu selalu ia bawa ke mana saja ia pergi, sebagai sebuah kekayaan yang ia miliki. Dan ia menganggap noken tersebut merupakan sebuah kekayaan istimewa yang harus dirawat terus- menerus. 

“Noken dari Waghete ini sudah kelilingi dunia. Noken ini sudah sampai di Filipina, Australia, Amerika, Roma, Belgia, Belanda, New Zealand, Italia dan negara lainnya. Saya sudah rawat dan simpan baik. Dan saya akan rawat baik lagi,” jelasnya, disambut tepuk tangan yang meriah bahkan ada umat yang meneteskan air mata karena terharu melihat noken tersebut.

Selain itu, ia mengaku, pemberian nama adat Kebadabi juga secara kebetulan saja. Sebab, ia tidak pernah punya motto tahbisan layaknya imam Katolik baru lainnya. Namun, nama tersebut bahkan melekat dalam hidupnya bahwa telah terbukti sesuai dengan nama itu.

“Sejujurnya saya tidak punya motto tahbisan. Ya, tidak ada ayat kitab suci yang menjadi ayat favorit saya waktu itu. Mottonya cuma nama Kebadabi itu saja. Itu merupakan motto pentahbisan. Maka, nama ini sungguh-sungguh saya hayati di dalam perjalanan kehidupan saya. Hal itu bisa terlihat dan terbukti, saya menjadi imam pertama Papua yang pergi kuliah ke Filipina dan Roma. Setelah saya, ada beberapa imam projo lainnya pergi studi di luar negeri. Saya percaya bahwa saya telah membuka jalan untuk itu,” urai mantan petugas PPK Epouto ini.

Di dalam kehidupan bermasyarakat, lebih lanjut dikatakan,  ia telah bekerja sebagai pendamai dengan wadahnya Jaringan Damai Papua (JDP). Untuk mencari jalan terbaik terhadap konflik yang terjadi di Papua, melalui JDP  ia berusaha mendekati dan mengetuk pintu hati pihak-pihak yang bermusuhan untuk berdamai. 

“Saya pergi (dekati) ke saudara saya yang berjuang di hutan, di luar negeri. Saya mengunjugi para pejabat negara di Indonesia. Saya mencoba mengetuk pintu hati mereka untuk duduk secara bersama untuk mencari jalan terbaik di dalam konflik tersebut secara damai. Itu supaya konflik yang sedang terjadi ini bisa terselesaikan dengan baik melalui jalan damai,” tukas pater suku Mee (Paniai) yang ke empat ini.

Dalam 25 tahun menjadi imam Katolik, Neles Tebay lebih banyak melayani sebagai intelektual, dengan menjadi dosen di Sekolah Tinggi Filsafat Fajar Timur dan belum pernah melayani umat di tiap komunitas basis (Kombas), stasi bahkan paroki terutama di wilayah Meuwo. Kendati demikian, ia berbahagia dapat  menjadi guru bagi para pastor di Tanah Papua.

“Dari 25 tahun menjadi imam, hampir 23 tahun saya menghabiskan waktu di kampus Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Fajar Timur (STFT "FT") Jayapura. Tetapi, saya merasa bahagia sudah menjadi bagian dari kampus ini. Saya merasa bangga dan bahagia ketika melihat siswa saya sekarang yang sudah menjadi seorang imam (pastor). Saya ajari supaya mereka  menjadi pengganti saya. Jadi, saya ini guru dari para pastor di Tanah Papua ini,” kata dia.  

Editor : Eben E. Siadari

Back to Home