Google+
Loading...
RELIGI
Penulis: Dewasasri M Wardani 11:37 WIB | Rabu, 14 Agustus 2019

Kisah Toleransi Gereja dan Masjid yang Berdempetan di Solo

Walaupun bangunan Gereja Kristen Danukusuman, Joyodoningratan, dan Masjid Al Hikmah, di Solo, Jawa Tengah itu kini jauh lebih mentereng, nilai-nilai toleransi yang disepakati 80 tahun silam, masih dipegang teguh oleh pemimpin dan jemaah gereja serta pengelola dan umat masjid tersebut. (Foto:bbc.com)

SOLO, SATUHARAPAN.COM – Keberadaan gereja dan masjid yang berdempetan di Kota Solo, Jawa Tengah, merupakan saksi bisu perwujudan tenggang rasa dan welas asih, yang dirawat terus-menerus oleh pemimpin dan umat dua tempat ibadah itu.

Awalnya, kira-kira tahun 1939, gereja didirikan oleh jemaat Kristen Danukusuman di Joyodiningratan, Solo, di atas tanah yang dibeli dari seorang Muslim.

Bangunan itu didirikan karena ada kebutuhan untuk beribadah bagi warga Kristen yang terus tumbuh di kawasan tersebut.

Saat itu, pemilik tanah membolehkan tanahnya dibeli oleh pengelola gereja, dengan syarat mereka dibolehkan mendirikan musala di samping gereja, yang kelak diperbesar menjadi masjid.

Kesepakatan pun dibuat antara kedua pihak, yang ditandai pendirian semacam prasasti setinggi sekitar 1,5 meter berbentuk lilin di antara dua bangunan ibadah itu.

"Jadi prasasti itu menandakan tidak akan terjadi apa pun, meskipun dua tempat ibadah itu saling berdampingan," kata Muhammad Nasir Abu Bakar, ketua takmir Masjid Al Hikmah, mengisahkan sekelumit sejarah dua bangunan ibadah itu, pada Rabu (7/8).

"Makna tugu lilin juga supaya tetap selalu rukun dan tidak terjadi apa pun," kata Nasir, seperti dilansir bbc.com pada Minggu (10/8).

Dan sejarah mencatat, sejak 80 tahun berdiri, tidak ada gesekan berarti di antara umat Islam dan Kristen di kawasan itu, bahkan hubungan harmonis pemimpin dan umat dua bangunan ibadah itu kerap menjadi rujukan berbagai anggota masyarakat.

"Antara pengurus gereja dan masjid benar-benar menjunjung tinggi sejarah yang sudah terjalin dua tempat ibadah ini," kata salah-seorang pendeta Gereja Kristen Jawa (GKJ) Joyodiningratan, Beritha Tri Setyo Nugroho.

Tugu lilin, yang masih berdiri kokoh, kini posisinya terletak di dekat tempat wudhu perempuan masjid tersebut. Pihak gereja merelakan tanahnya untuk lokasi pendirian prasasti tersebut.

Idul Adha, Gereja Meniadakan Kebaktian Pagi

Komitmen para pendiri gereja dan masjid di Jalan Gatot Subroto, Solo itu, untuk menjaga kerukunan di antara umatnya terus dijaga dan ditularkan kepada penerusnya.

Walaupun bangunan gereja dan masjid itu kini jauh lebih mentereng, nilai-nilai toleransi yang disepakati 80 tahun silam, masih dipegang teguh pemimpin dan jemaat gereja dan umat masjid tersebut.

Itulah sebabnya, ketika sejumlah masjid dan gereja di beberapa kota ramai-ramai diberitakan saling mengalah untuk menunda atau membatalkan jadwal ibadahnya demi umat lain, pengelola dua tempat ibadah di Joyodiningratan, Solo, sudah mempraktikkannya sejak dahulu.

Kedua belah pihak lebih mengedepankan sikap bertenggang rasa ketika dihadapkan jadwal ibadah yang bersamaan waktunya. Menurut pemimpin gereja dan masjid, hal itu sudah sering dilakukan.

"Peniadaan kebaktian pagi itu bukan hal yang baru untuk gereja dan masjid di sini," kata Beritha Tri Setyo Nugroho, pendeta di gereja tersebut. Pihak masjid pun begitu.

Dan tahun ini, gereja memilih meniadakan ibadah kebaktian pagi untuk memberi kesempatan umat Islam melaksanakan salat Idul Adha dan ibadah qurban di lokasi itu, Minggu (11/8).

"Majelis memutuskan meniadakan ibadah kebaktian pagi yang dimulai pukul 06.30 WIB," kata Beritha, untuk menghormati saudara umat Islam yang melaksanakan salat Id dengan memanfaatkan jalan di depan gereja dan masjid.

"Selain meniadakan ibadah pagi, kami juga mengundurkan jadwal ibadah kedua yang biasanya pukul 08.30 menjadi pukul 09.00 WIB,” katanya.

Beritha mengungkapkan, pengumuman terkait peniadaan ibadah kebaktian pagi disampaikan kepada jemaat sejak jauh hari sebelumnya. Jemaat pun bisa memahami keputusan tersebut, selain itu mereka juga ingin menghormati umat Islam untuk melaksanakan ibadah salat id.

"Kami sudah mewartakan peniadaan dan pengunduran jadwal ibadah kebaktian sejak dua minggu berturut-turut. Warga gereja bisa memahaminya," kata dia.

Beritha mengakui, keputusan meniadakan kebaktian pagi memang murni keputusan dari pihak gereja, tidak ada paksaan dari pengurus masjid.

Ia beralasan sikap seperti itu memang sudah menjadi hal biasa ketika hidup berdampingan dengan umat Muslim.

"Keputusan itu inisiatif dari gereja kami dan sudah komunikasi nonformal dengan pihak pengurus masjid," kata dia.

Sementara itu, Ketua Takmir Masjid Al Hikmah, Muhammad Nasir Abu Bakar mengatakan, pihak gereja yang memundurkan jadwal ibadah kebaktian pagi karena berbarengan dengan salat id.

Hal itu bukan yang pertama kali, namun yang kesekian kalinya. Jika salat Id jatuh pada hari Minggu, pihak gereja akan meniadakan ibadah pagi.

"Jadi luar biasa indahnya karena pihak gereja memundurkan kebaktian pagi. Kami tidak memaksa, tapi memang kami selalu saling berkomunikasi dengan pihak gereja ketika ada waktu yang bersamaan. Kami selalu begitu dan tidak ada masalah," katanya.

Sepanjang Nasir ingat, hanya pernah sekali waktu pihak masjid lupa menjalin komunikasi dengan gereja saat ada pelaksanaan salat Id yang jatuh pada hari Minggu.

Pihak gereja tidak memundurkan jadwal kebaktian pagi, namun hal tersebut juga tidak menjadi masalah yang berarti.

"Pernah sekali kelupaan, tetapi semuanya tetap berjalan dengan lancar dan damai. Jadi ada yang ke masjid dan ke gereja, biasa saja, semuanya saling menghormati. Tidak ada ketersinggungan dari pihak mana pun karena semuanya bertujuan beribadah kepada Tuhan," katanya.

Pihak Masjid Juga Pernah  Mengalah

Dalam merawat toleransi itu, tidak hanya pihak gereja yang 'mengalah', pengurus masjid juga melakukan sikap seperti itu ketika tempat ibadah tetangganya itu merayakan hari besarnya.

Bahkan, Nasir menceritakan saat peringatan Maulid Nabi yang hampir berdekatan dengan perayaan Natal, pihaknya memutuskan memajukan acara pengajian untuk merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.

"Natal tetap di tanggalnya, tapi kalau pengajian untuk peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW kan bisa diundur atau maju. Itu tidak ada masalah. Pengajian kita gelar tanggal 23 Desember pada waktu itu, sehingga tidak terjadi suatu peribadatan yang berbarengan,“ katanya.

Selain itu, dia mengungkapkan saat umat Kristen melakukan ibadah Natal di GKJ Joyodiningratan, pihak masjid juga memutuskan menurunkan suara volume speaker masjid.

Bahkan, pembacaan ayat suci Alquran yang dilakukan sebelum azan salat lima waktu juga dihilangkan.

"Suara azan melalui pengeras suara direndahkan. Untuk ngajinya (membaca Alquran sebelum azan), kita tidak ngaji tapi langsung azan. Jadi kita harus tahu diri karena mereka juga beribadah. Jadi jemaah masjid sudah paham kalau yang biasanya ada ngaji 10-15 menit tidak ada dan langsung azan," katanya.

Menurut Nasir pada saat pelaksanaan salat Id yang memanfaatkan jalan di depan gereja dan masjid, biasanya pihak gereja juga akan ikut membantu membersihkan di depan bangunan tempat ibadah yang akan digunakan untuk salat Id.

Sedangkan saat perayaan Natal dan Paskah, halaman depan masjid difungsikan sebagai tempat parkir kendaraan para jemaat gereja, katanya.

"Biasanya kalau Natal atau Paskah, lampu di depan masjid ini dinyalakan untuk parkir karena halaman masjid ini jadi tempat parkir," kata dia sambil menunjuk halaman masjid yang menjadi lokasi parkir.

Menjadi Rujukan

Kini, kerukunan antara umat beragama yang terjadi di dua tempat ibadah itu, menjadi semacam percontohan tentang toleransi antar umat beragama.

Tak hanya dari Indonesia, namun sejumlah perwakilan dari berbagai negara telah mendatangi dua bangunan tempat ibadah itu untuk belajar tentang kerukunan umat beragama.

"Sudah sering sekali dikunjungi seperti dari Inggris yang terdiri atas ustaz dan pendeta, Malaysia, Thailand dan negara lainnya. Sedangkan dari Indonesia dari belahan Timur ke Barat sudah pernah datang ke sini. Mereka datang untuk melihat kerukunan yang terjalin di lingkungan ini," katanya.

Dari kunjungan para delegasi itu, menurut Nasir, mereka sangat takjub karena meskipun berbeda tidak terjadi gesekan. Bahkan, dua umat beragama yang tempat ibadahnya saling berdampingan ini juga saling rukun dan damai.

"Ternyata mereka menyatakan betul dan sangat rukun. Ini yang menjadi ikon bagi kita untuk selalu menjaga kerukunan. Kita sampaikan tidak hanya di Indonesia, tapi hingga dunia," katanya.

Kesaksian Warga Muslim Kami Sudah Seperti Keluarga

Salah satu jemaah Masjid Al Hikmah, Khalid Badres, mengaku sangat senang dengan kerukunan yang terjalin antarpemeluk dua tempat ibadah tersebut. Ia pun merasa sangat nyaman dan tidak terganggu meskipun berbeda agama.

"Masjid Al Hikmah dan gereja memang selama ini rukun, tidak pernah terjadi apa-apa sama sekali. Kami di sini itu sudah seperti saudara, alhamdulillah," kata Khalid yang keturunan Arab.

Ia telah tinggal di kampung yang menjadi lokasi dua tempat ibadah yang berbeda itu sejak 40 tahun. Selama puluhan tahun itu, Khalid mengaku belum pernah terjadi gesekan sedikit pun antarumat beragama.

"Kita selalu bekerja sama jika ada apa-apa. Kalau di gereja ada apa-apa, kita hormati. Kalau di masjid ada kegiatan, gereja juga hormat. Kalau kita butuh bantuan, mereka akan membantunya. Karena kita keluarga," katanya .

Terpisah, salah satu jemaat GKJ Joyodiningratan, Susiati mengaku sangat suka ketika pertama kali menjadi jemaat gereja tersebut, pasalnya bangunan gereja ini berdampingan masjid.

Tak hanya itu, ia juga merasa takjub dengan kerukunan yang terjalin di antara umat gereja dan masjid.

"Saya dari kecil sampai dewasa belum pernah melihat yang namanya masjid dan sampingnya gereja," kata dia yang merupakan warga pendatang di Solo.

Susiati mengungkapkan, pengalaman yang paling mengesankan menjadi jemaat di gereja tatkala terdapat hari besar umat Islam yang jatuh pada hari Minggu, seperti Idul Fitri dan Idul Adha.

 

 

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home