Google+
Loading...
RELIGI
Penulis: Bayu Probo 15:33 WIB | Jumat, 06 Juli 2018

Kisah Yesus Kristus, Piala Dunia 2018, dan Tim Brasil

Bintang sepak bola dari Brasil dengan bandana "100% Jesus" saat menerima medali emas olimpiade. (Foto: Wikimedia Commons)

SATUHARAPAN.COM – Di Brasil, negara sepak bola internasional, hubungan antara agama dan bola sudah sangat lama. Para atlet Brasil bermain dengan salib, medali para Santo, atau pita pergelangan tangan untuk menghormati para dewa lokal, Candomblé.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, ekspresi iman secara eksplisit atlet Kristen Evangelikal (Kristen Injili) telah mendominasi adegan olahraga negara Amerika Selatan ini.

Mungkin tidak mengejutkan di negara dengan hampir 25 persen populasinya Kristen Protestan, tim nasional Brasil berdoa sebelum dan sesudah pertandingan dan merayakan gol dengan menampilkan T-shirt dengan pesan-pesan Kristen. Setidaknya enam atlet di tim nasional saat ini bermain di Piala Dunia musim panas ini telah menyatakan diri sebagai Kristen Evangelikal, termasuk Fernandinho, Thiago Silva, Alisson, Douglas Costa, Willian, dan bintang tim, Neymar.

Namun, tidak seperti turnamen internasional sebelumnya, tim Brasil kini dilarang merayakan keberhasilannya di lapangan melalui ekspresi agama.

Tepat sebelum Piala Dunia FIFA 2018, Konfederasi Sepak Bola Brasil (CBF) melarang tim melakukan selebrasi bertema agama. CBF mengeklaim praktik ini dapat mengalihkan fokus pada kompetisi dan membatasi atlet yang mempraktikkan keyakinan lain atau agnostik. Larangan ini diumumkan pada bulan Juni, sejalan dengan pedoman dari FIFA itu sendiri. FIFA sejak Piala Dunia 2006 telah membatasi demonstrasi keagamaan di lapangan.

Perayaan keagamaan telah lama menjadi bagian dari sepak bola Brasil. Setelah memenangkan Piala Dunia 1994, Cláudio Taffarel dan Jorginho menghubungkan sebagian dari kemenangan mereka dengan aksi ilahi. Sebuah gambar Taffarel yang berlutut di lapangan mengangkat tangan di depan Roberto Baggio—pemain Italia yang gagal melakukan penalti pada tendangan terakhir—membuat Brasil juara, digunakan sebagai demonstrasi keunggulan iman evangelikal atas agama Buddha. Buddha adalah agama striker Italia itu. Foto itu juga menjadi sampul buku Quem Venceu o Tetra? [Siapa yang Memenangkan Kejuaraan Keempat?]—berisi kesaksian para atlet evangelikal yang memuji Tuhan atas kemenangan mereka.

Namun, tidak semua orang menghargai implikasi buku tersebut. Pemain sepak bola veteran Mário Jorge Zagallo mengkritiknya karena menyatakan bahwa jika keberhasilan atletik semata-mata terkait dengan keyakinan, argumen ini mengurangi nilai dedikasi dan upaya atlet.

100% Jesus?

Seiring para pemain evangelikal secara terbuka merayakan iman mereka di lapangan dan di akun media sosial mereka, banyak gereja neo-Pentakosta Brasil telah mulai secara terbuka menggunakan kehadiran atlet terkenal di jajaran mereka untuk meningkatkan citra mereka sendiri. Ketika legenda sepak bola Kaká adalah anggota denominasi Renascer, citranya muncul di iklan-iklannya. Sara Nossa Terra, yang memiliki gereja di lingkungan elit di kota-kota besar Brasil dan mengabarkan pesan Injil kemakmuran, menarik atlet terkenal ke perayaannya. Bahkan Romario, yang terkenal karena kehidupan cintanya, menghadiri beberapa ibadah dengan mantan istrinya.

Karena Protestantisme telah tumbuh di Brasil, maka ada pelonggaran budaya dari nilai-nilai tradisional kekristenan. Tidak ada yang lebih jelas daripada dengan Neymar. Ketika negaranya memenangkan emas di Olimpiade pada 2016, ia mengambil podium untuk menerima medali emasnya dengan ikat kepala yang bertuliskan “100% Jesus.” Namun, ekspresinya ini menimbulkan kontroversi, mengingat pemain bintang punya anak di luar nikah dan hidup berganti-ganti pasangan.

Akibatnya, orang Kristen terkadang khawatir bahwa tindakan beberapa pemain ini mengurangi nilai-nilai kesaksian kekristenan mereka.

“Perilaku tidak bermoral atau tidak etis di luar lapangan menimbulkan bahaya besar. Orang-orang mengutuk sikap seperti itu saat seseorang mengatakan bahwa mereka takut akan Tuhan,” kata Luís Paulo Rocha de Mattos, yang menggembalakan sebuah gereja evangelikal di Rio de Janeiro. “Ketenaran dan keberuntungan selalu berbahaya bagi orang Kristen. Saya lebih suka melihat lebih sedikit pemain yang menampilkan diri sebagai evangelikal, dan lebih banyak orang benar-benar berkomitmen pada standar alkitabiah.”

Beberapa bintang Kristen Brasil sadar bahwa publik melihat ketidakkonsistenan ini. “Atlet Kristen memiliki tanggung jawab besar untuk selalu memberikan kesaksian yang baik,” kata Kaká, seorang gelandang yang bermain di tim yang memenangkan Piala Dunia 2002. “Kapan pun saya bisa, saya mencoba mendemonstrasikan apa yang telah Tuhan lakukan dalam hidup saya dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai alkitabiah.”

Sadar bahwa menjaga iman di lapangan dan di luar lapangan adalah tantangan berat bagi pemain, organisasi seperti Athletes of Christ mendukung tim melalui pelajaran Alkitab dan pendeta.

Di Luar Lapangan

Apakah keputusan baru CBF ini akhirnya akan memengaruhi religiusitas di luar sepak bola Brasil masih harus dilihat. Apa yang paling jelas adalah bahwa cengkeraman agama Katolik pada budaya negara telah berakhir.

“Sebelumnya, ketika agama Katolik praktis mutlak di Brasil, ekspresi evangelikal hampir tidak terlihat,” kata ilmuwan sosial Roberto Afranio Nunes. “Sejak tahun 1980-an—dan terutama sejak dekade terakhir—terkait dengan gereja evangelikal, sesuatu yang dulu didiskriminasi, telah memberi status sosial tertentu.”

Ketika komunitas sepak bola evangelikal tumbuh, begitu juga peluang bagi mereka yang telah berjalan selama bertahun-tahun dengan iman untuk membagikan kisah mereka. Kemenangan Taffarel membuatnya terabadikan dalam memori sepak bola Brasil selamanya. Hampir 25 tahun kemudian, prestasinya menempatkannya sebagai pelatih gawang saat ini. Dan, ini menjadi sarana untuk berbagi tentang hubungan dengan Tuhan yang bertahan melampaui puncak kemenangan Piala Dunia.

“Sejak saya mengundang Yesus Kristus untuk hidup di hati saya, saya mulai mengandalkan kekuatan, kasih, dan kuasa Tuhan di saat-saat terpenting dalam hidup saya,” katanya. “Tidak semuanya adalah lautan mawar dalam kehidupan pengikut Kristus, dan milik saya tidak berbeda.”

“Tapi di masa-masa sulit, pada saat pengkhianatan antara pelatih dan direktur, pada saat kehilangan bola dan ejekan dari penggemar, pada saat saya kehilangan ayah saya atau saya melihat istri saya tergantung antara hidup dan mati, dan pada saat penangkapan penalti yang menentukan [melawan Italia], saya menyadari pentingnya tidak sendirian. Tuhan tidak pernah meninggalkan saya sendirian.” (Christianity Today)

Editor : Bayu Probo

Back to Home