Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 08:39 WIB | Senin, 16 April 2018

KlaqSon, Lobby Hotel, dan Ruang Pamer Seni Rupa

Pameran seni "Klaq Son" yang dibuka pada Minggu (15/4) malam akan berlangsung hingga 28 April 2018 di Raintree boutique & villa-gallery, Jalan Melati Wetan No. 24 Yogyakarta.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Empat puluh enam lukisan dalam berbagai medium, gaya-aliran, dan dimensi karya sembilan seniman-perupa yang tergabung dalam kelompok KlaqSon dipamerkan di lobby, dan lorong Raintree boutique & villa, Yogyakarta. Dengan menjadikan nama kelompoknya sebagai tajuk, pameran "KlaqSon" dibuka pada Minggu (15/4) malam.

Sembilan seniman dengan gaya yang berbeda direpresentasikan dalam karya-karyanya. Agus Nuryanto dengan penggalian pada khasanah wayang dihubungkan dengan konteks kekinian menghasilkan ragam lukisan wayang dalam versinya. Lima pameran tunggal yang telah digelar Agus sejak tahun 1994 lebih banyak mengangkat tentang wayang.

Empat pelukis perempuan lebih banyak menampilkan karya lukisan bergaya dekoratif-dekoratif. Dalam satu lukisan berjudul "Jaran Goyang", Harbani Setyawati membuat lukisan tiga badut bermain dalam isu-isu sosial. Badut kerap menampilkan muka dua dunia yang bertolak belakang. Kemarahan, kesedihan, atau kegetiran apapun perasaan yang sedang dialami, di depan pihak lain dia harus tetap tersenyum. Dengan kisah yang melatarbelakanginya, lukisan badut berjudul "Pogo the Clown" yang dibuat John Wayne Gacy cukup melegenda.

Sementara Tini Jameen pada karya berjudul "Nyanyian Maluku" dengan teknik plothothan warna yang saling menumpuk dan gaya dekoratif-naifnya menghasilkan lukisan dengan warna-warna yang matang.

Ketut Adi Chandra dengan lima lukisan abstraknya dan sapuan kuas (brush stroke) Sentot T Raharjo yang bermain dengan bentuk menjadi pembeda diantara karya-karya lukisan dekoratif.

Sebagaimana pameran seni rupa yang kerap dihelat di cafe, warung makan, dan ruang lobby hotel mungkin perlu mendapat perhatian adalah display-penataan karya, kapasitas ruang, maupun narasi pendukung lainnya sehingga pesan-pesan bisa tersampaikan dalam kemasan yang tetap menarik. Dengan demikian pameran seni rupa tidak terhenti hanya sekedar memindahkan karya pada ruang-ruang publik. Tentunya pemandangan yang tidak terlalu produktif dan menguntungkan manakala beberapa karya yang sama kuat harus berebut ruang apresiasi pada sebuah dinding. Penataan tersebut menjadi penting sehingga setiap karya bisa lebih berbunyi tanpa harus mengganggu sekelilingnya.

 

 

Back to Home