Google+
Loading...
RELIGI
Penulis: Reporter Satuharapan 09:24 WIB | Kamis, 02 Mei 2019

Komunikator Kristen Berikrar Melawan Ujaran Kebencian

Ilustrasi. Sekjen WACC Philip Lee menyebutkan teknologi digital telah menciptakan risiko baru dan dilema etis yang memengaruhi hak asasi manusia. (Foto: QWenu)

SATUHARAPAN.COM – Asosiasi Dunia untuk Komunikasi Kristen Wilayah Eropa (The Europe Region of the World Association for Christian Communication/WACC) memilih komite eksekutif regional yang baru dalam pertemuan empat tahun sekali. Pertemuan kali ini, diadakan sebagai bagian dari seminar bersama yang diselenggarakan dengan Konferensi Gereja-Gereja Eropa (Conference of European Churches/CEC) dari 10- 12 April di Helsinki dan Stockholm.

Stephen Brown, konsultan komunikasi asal Inggris dan berbasis karya di Prancis, yang bekerja dengan Dewan Gereja Dunia (World Council of Churches/WCC), terpilih kembali sebagai presiden untuk masa jabatan kedua selama empat tahun ke depan.

Dalam sambutannya, Brown berkata, “WACC memperjuangkan komunikasi yang lebih adil. Sebagai komunikator Kristen, kami mengarahkan komitmen untuk kebebasan berekspresi, kebebasan pers, keragaman media, dan hak berkomunikasi lainnya.”

Pertemuan itu mengangkat tema, “Apa yang telah membuat kita sangat marah? Ujaran kebencian, berita palsu, dan hak berkomunikasi”.

Sekretaris Jenderal WACC, Philip Lee, menyampaikan renungan bagi komunikator yang berkumpul, tentang hak-hak berkomunikasi di dunia yang belakangan terpecah-belah.

Teknologi digital telah menciptakan “risiko baru dan dilema etis yang memengaruhi hak asasi manusia,” kata Lee.

Ia menggarisbawahi, kebenaran, martabat manusia, dan non-kekerasan, adalah tiga prinsip universal yang seharusnya “membentuk dan menentukan hak-hak berkomunikasi di dalam dunia yang terpecah-belah.”

Sementara belum ada “kesepakatan jalan keluar” untuk membahas hak-hak berkomunikasi di dunia yang terpecah-belah ini, Lee mengatakan “kepedulian lintas sektor adalah ruang publik yang tersisa untuk berkomunikasi di mana teknologi digital diharapkan dapat memainkan peran yang semakin besar.”

Lee mencatat, hak berkomunikasi seseorang saat ini dipengaruhi oleh tren global “menyusutnya ruang publik”, yang pada gilirannya “menambah tantangan yang ditimbulkan oleh teknologi digital” itu.

Pdt Anders Gadegaard, dekan pada Katedral Kopenhagen, dan anggota dewan pengurus CEC, yang juga berbicara di pertemuan itu, menegaskan semua jenis ujaran kebencian bertentangan dengan prinsip-prinsip Kristen, dan harus ditentang.

Dunia saat ini berada “di dalam Ladang Tuhan,” di mana ada kebingungan tentang apa yang salah dan apa yang benar ketika tiba pada persoalan berita, kata Gadegaard, yang pada pertemuan itu menyampaikan refleksi teologis tentang “Teologi Palsu, Berita Palsu”. Menjadi “di dalam Ladang Tuhan” adalah ungkapan di Denmark, yang berarti “dalam situasi yang sama sekali tidak berdaya dan bingung” dan mengandalkan “bantuan dari atas”, Gadegaard menjelaskan.

Kabar baiknya, kata Gadegaard, bahwa kebenaran diungkapkan kepada umat manusia “tepat di luar sana, di dalam Ladang Tuhan, di ladang gembala di luar Betlehem.”

WCC adalah anggota WACC. Dalam sebuah pesan kepada majelis, Marianne Ejdersten, direktur komunikasi WCC dan wakil presiden WACC Eropa, menggambarkan komunikasi sebagai “penting dalam menghadapi ancaman terhadap kehidupan”.

Komunikasi, ia menulis, “menegaskan kehidupan dengan mempromosikan pengungkapan kebenaran, keadilan, partisipasi, masalah keamanan, dialog, keterbukaan dan inklusi.” (oikoumene.org)

Editor : Sotyati

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home