Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 01:00 WIB | Minggu, 01 Juli 2018

Kontemplasi Nasirun di atas Kanvas: Satu Hari Satu Wirid Lukisan

Kontemplasi Nasirun di atas Kanvas: Satu Hari Satu Wirid Lukisan
Seorang pengunjung menikmati lukisan berjudul "Ketika Tangan Bicara" karya Nasirun pada pembukaan pameran "Wirid" di Natan artspace, l. Mondorakan No.5A, Prenggan, Kotagede, Jumat (29/6) malam. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
Kontemplasi Nasirun di atas Kanvas: Satu Hari Satu Wirid Lukisan
Lukisan berjudul "Tawaf di Bulan Romadhon" (bawah) dan "Menembus Langit" (atas).
Kontemplasi Nasirun di atas Kanvas: Satu Hari Satu Wirid Lukisan
Lukisan berjudul "Tempat Padusan" (kiri) dan "Ibu Malaikat Tak Bersayap" (kanan).

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Setelah bulan Maret lalu berpameran berdua dengan penyanyi Trie Utami di Jogja Gallery, seniman-perupa Nasirun menggelar pameran tunggal di Natan artspace. Pameran bertajuk "Wirid" dibuka oleh pemilik Natan artspace Nasir Tamara, Jumat (29/6) malam.

Berbeda dengan karya-karya Nasirun sebelumnya yang banyak mengangkat wayang, tradisi, problematika kehidupan sosial-lingkungan sebagai akar dan eksplorasi karya-karya, pada pameran "Wirid" Nasirun lebih banyak menggali akar dirinya sendiri. Karya dalam pameran "Wirid" digarap Nasirun di sela-sela menjalani ibadah puasa. Dua puluh sembilan lukisan dipajang pada dua ruang pamer Natan artspace.

"Setelah sholat tarawih saya ke meja dengan menu cat (minyak) dan kanvas. Setiap malam saya goreskan satu karya ke atas kanvas." jelas Nasirun pada pembukaan pameran. Dengan jumlah tersebut yang diselesaikan selama bulan puasa tahun ini, tanpa penjelasan di awalpun pengunjung bisa mereka-reka bahwa Nasirun membuat satu karya setiap harinya. Nasirun membuat setiap  karya dalam satu malam.

Dua puluh sembilan karya lukisan dalam tema yang berbeda-beda punya kisahnya sendiri. Menariknya meskipun berdiri sendiri-sendiri kedua puluh sembilan lukisan membangun cerita besar: kontemplasi Nasirun dalam laku wirid. Wirid mengacu pada sebuah ritual ibadah (dalam berbagai laku) yang dilakukan secara kontinyu sebagai bentuk penghambaan kepada sang Pencipta.

Melalui kontemplasi yang dihadirkan atas ingatan ataupun pengendapan perjalanan yang dilalui, Nasirun menghasilkan karya-karya lukisan wirid dalam berbagai kedalaman makna. Setiap karya lukisannya menjadi pengembaraan tanpa dibatasi oleh dimensi waktu, ruang, dan juga berbagai aspek lainnya.

Memasuki ruang pamer Natan artspace, pengunjung langsung disapa dua lukisan yang dipajang secara bersusun vertikal: "Tawaf di Bulan Romadhon", dan "Menembus Langit". Lukisan "Menembus Langit" berbentuk segitiga sama sisi yang disusun di atas "Tawaf di Bulan Romadhon" secara visual akan 'memaksa' mata pengunjung mendekat begitu masuk ruangan. Dengan lingkaran berlapis dalam gradasi warna serta kotak kecil berwarna hitam di tengahnya "Tawaf di Bulan Romadhon" seolah tersambung dengan "Menembus Langit" yang dibelah garis emas menuju sudut puncak segitiga, dimana sang Pencipta adalah tujuan dari wirid itu sendiri.

Nuansa goresan emas yang dominan dan lelehan warna merah menjadi keprihatinan Nasirun bahwa "Palestina" belum menjadi rumah emas bagi anak-anak di sana bagi tumbuh-kembangnya bahkan untuk sekedar terbebas dari desingan peluru kematian.

Kecintaan pada ibunya dituangkan dalam karya "Ibu Malaikat tak Bersayap".  Inyong mung bisa nyangoni Bismillah (Ibu hanya bisa memberi bekal Bismillah)," itulah kalimat yang terucap dari ibunya saat Nasirun hendak berangkat ke Yogyakarta setelah lulus SMP untuk melanjutkan sekolah menggambar-melukis dengan tanpa dibekali tujuan alamat yang pasti. Dengan doa restu ibu dan uang sebanyak Rp 70.000,00 hasil penjualan pintu rumah berikut gawangannya, Nasirun berangkat ke Yogyakarta. Doa restu ibu menjadi malaikat penjaga pengembaraan Nasirun. Bulan Ramadlan dan Syawal adalah momen yang tidak akan hilang dalam ingatan Nasirun yang sudah merantau sejak usia belia dan kembali ke kampung halaman: kangen simbok, malaikat tak bersayap.

Sebuah karya berjudul "Tempat Padusan" dalam gaya abstrak-kubisme menjadi lukisan pertama laku wirid Nasirun. Dalam tradisi Jawa di berbagai tempat menjelang bulan puasa kerap melakukan padusan (mandi), sebuah prosesi mandi yang dilakukan bersama-sama masyarakat di kolam, sungai, sumber/mata air sebagai ikhtiar membersihkan diri untuk memasuki bulan yang dianggap suci.

"Ini dua puluh sembilan lukisan (dengan cat minyak). Entah kekuatan apa, energi apa yang telah memasuki diri Nasirun kecuali itu datang dari Sang Maha Kuasa." jelas Nasir Tamara dalam sambutan pembukaan pameran Jumat (29/6) malam, mengomentari proses berkarya Nasirun untuk menghasilkan lukisannya yang dilakukan sebulan penuh setiap malam tanpa henti, kontinyu, sebagai mana laku wirid itu sendiri yang hanya akan memberikan berbagai dampak, pencerahan, atau apapun itu jika dilakukan secara terus-menerus.

Pameran tunggal Nasirun bertajuk "Wirid" digelar di Natan artspace, l. Mondorakan No.5A, Prenggan, Kotagede, Yogyakarta hingga 22 Juli 2018.

 

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home