Google+
Loading...
RELIGI
Penulis: Sampe L. Purba 14:08 WIB | Sabtu, 16 Mei 2020

Kristen Bertanya, Muslim Menjawab

Sebuah buku yang ngademin dan ngangenin.
Foto: istimewa

SATUHARAPAN.COM – Ketika menjelajahi buku Kristen Bertanya, Muslim Menjawab karya Ahmad Nurcholish, kita akan dibawa ke dalam pengembaraan dan dialog spritualitas yang sejuk. Buku ini menunjukkan bahwa  untuk menjawab pertanyaan yang rada-rada seram pun tidak perlu harus dengan diksi dan kalimat seram.

Peluncuran buku secara daring—yang dihadiri sekitar 100 orang—menampilkan tiga pembahas yang sangat kompeten: Pdt. Gomar Gultom–Ketum PGI; Rama Jo Hariyanto–Sekum ICRP; dan ibu Susi Ivvaty–founder alif.id. Beberapa pandangan, harapan, apresiasi, dan masukan diberikan. Semua bermuara pada bagaimana dalam rumah bersama Indonesia ini dialog antariman menjadi sesuatu yang konstruktif, kolaboratif, dan memberi kontribusi dalam  semangat  kebinekaan keluarga besar Indonesia.

Beberapa pertanyaan yang kritis disampaikan terhadap refleksi dan ekspektasi para penanggap tersebut, mendapat jawaban secara proporsional. Bung Jerry Sumampow sebagai host moderator dapat mengatur lalu lintas diskusi—sambil ngabuburit online—tersebut dengan baik.

Sambutan-sambutan dari berbagai kalangan pada bagian awal buku ini sesungguhnya telah menunjukkan kelas sosial dan kasta pergaulan spritualitas penulisnya. Penulis, yang menyandang nama Nurcholish di belakangnya, tidak berada di bawah bayang bayang kebesaran almarhum Nurcholish Madjid, sang cendekiawan muslim par excellence pada zamannya. Namun, justru mempertegas benang biru DNA tradisi kecendekiawanan mereka sebagai keluarga muslim yang inklusif, toleran dan mempraktikkan bahwa agama itu adalah rahmat untuk manusia dan kemanusiaan kita.

Musdah Mulia, Ketua Umum Indonesia Conference on Religion And Peace (ICRP) menyimpulkan dengan tepat  bahwa letak penting buku ini adalah menjelaskan ajaran Islam yang benar dan kompatibel dengan nilai-nilai kemanusiaan universal sehingga selaras dengan prinsip demokrasi dan pluralisme beragama, serta selaras juga dengan nilai-nilai Pancasila—ideologi bangsa Indonesia.

Jawaban-jawaban yang diberikan dalam buku ini juga tidak menunjukkan adanya kepongahan rohani—meminjam istilah Pdt. Albertus Patty—debat kusir apologetik. Buku ini juga menjawab hoaks yang lagi subur-suburnya berseliweran di jagat maya Indonesia. Buku ini merupakan menu yang pas bagi penggemar kuliner ”berkuah” ukhuwah wahtoniyah maupun ukhuwah basyariyah, meminjam istilah K.H.  M. Cheng Hoo Djadi Galapajo. Buku ini merupakan sebuah oasis yang dirindukan.

Walau cukup tebal, 530 halaman,  yang dibagi atas tujuh bagian, di luar sambutan dan daftar pustaka, sesungguhnya isinya dapat kita cerna dengan santai, sembari  mendengar lagu lagu top hit dari spotify misalnya. Tidak membosankan.

Cara menjawab Cak Nurcholish yang terkadang jenaka, tetapi mengena dan walau  sedikit diambangkan bagi saya sangat terasa pas. Beberapa bagian coba saya kutip di sini.

Pada bagian I hal Kitab Suci dan Kenabian Muhammad, ada yang bertanya apa alasan Nabi Muhammad berpoligami. Saya memperhatikan struktur cara menjawab Cak Ahmad yang cukup jitu. Ada  simpati kepada para wanita yang mungkin mempertanyakan dan menolak praktik tersebut. Kemudian dilanjutkan dengan alasan historis, alasan teologis, dan kondisi faktual pada zaman Nabi, terutama akibat kekalahan pada perang Uhud yang menyisakan banyak anak yatim dan janda-janda, yang tidak terlalu percaya kepada sebagian wali yang lebih tertarik kepada harta almarhum dibanding untuk melindungi anak anak itu.

Juga dijelaskan bahwa Nabi berpoligami selang tiga atau empat tahun setelah  isteri pertama beliau meninggal, dan yang dinikahi tersebut adalah para janda. Penulis juga menjelaskan bahwa tradisi poligami itu telah ada jauh sebelum masa Nabi. Nabi mengaturnya agar memenuhi unsur keadilan.  

Atas pertanyaan di bagian II tentang Jilbab, Perempuan dan Kesehatan Reproduksi, ada pertanyaan, apakah hijab dan cadar, kewajiban agama atau budaya Arab. Beliau mengutip beberapa pandangan, termasuk yang bertolak belakang, misalnya pendapat Al-Qurtubi. Pendapat yang mengaitkan bahwa orang Arab meniru  agama Persia lama, yang mewajibkan atau juga yang tidak memerintahkan dan tidak melarang juga dikutip. Penulis juga mengaitkan praktik berjilbab di Indonesia yang mulai marak pascarevolusi Iran. Didukung oleh industri fashion, sehingga menjadi pakaian populer bagi wanita muslim.

Akan halnya cadar, penulis juga menanggapi secara hati-hati. Ada pernah stigmatisasi terkait dengan bom Bali, di mana isteri isteri para pelaku semuanya bercadar. Penulis tidak jelas menanggapi pertanyaan itu. Namun, menutupnya dengan cerdas. Asal-usul wanita bercadar tidak penting dijadikan perdebatan apalagi sampai mengecam agama dan mencaci masyarakat tertentu. Dan masih banyak pertanyaan tajam, yang dijawab dengan cukup jitu.

Model menjawab pertanyaan ala Ahmad Nurcholish relatif seperti beberapa contoh tadi. Beliau sadar bahwa misi buku ini adalah untuk mengomunikasikan hal-hal secara umum, menghilangkan prasangka yang salah, dan menunjukkan nilai-nilai universalitas di dalamnya. Beliau mencoba meluruskan beberapa hal yang sering menjadi isu yang hangat atau kontroversial di masyarakat.

Bagian akhir atau bagian VII dari buku ini bertema ”Dari dialog Kristen-Islam menuju Indonesia Damai”. Bagian ini tidak menyangkut pertanyaan-pertanyaan sebagaimana pada enam bab sebelumnya. Bagian VII merupakan perjalanan sejarah perjalanan dialog dan kerukunan antarumat beragama, yang menjadi dasar penting bagi terwujudnya perdamaian.

Bab tersebut berisi prinsip dalam dialog. Penulis menjelaskan ada tiga pendekatan dialog, yakni pendekatan teologis, pendekatan kultur atau budaya serta pendekatan politis. Bab ini juga mencatat adanya tiga tantangan perdamaian di bumi, yaitu: menguatnya kelompok radikal keagamaan yang bekerja masif, pendidikan agama yang eksklusif doktrinal, serta menguatnya kelompok mayoritas diam, yang hanya mengandalkan kata prihatin, mengutuk keras dan menyayangkan tindakan kekerasan atau radikalisme (agama) yang kerap terjadi di masyarakat.  

Pemilihan judul yang mendahulukan kata Kristen dari Islam pada bagian terakhir ini menunjukkan kecerdasan sosial, simpati dan elegansi seorang Ahmad Nurcholish, yang memanusiakan ngewongke rekan saudaranya.  

Bagi saya, kehadiran buku ini—sekali lagi—sangat bermakna dalam menciptakan dan membangun kedamaian dan adab Nusantara yang damai. Ibarat air dari oasis yang ngademin dan ngangenin untuk diteguk berkali-kali, di tengah kegersangan dan hawa yang tidak terlalu adem di negeri kita ini.

 

Sampe L. Purba (Penikmat dan Pecinta Budaya Nusantara)

Editor : Yoel M Indrasmoro

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home