Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 10:07 WIB | Rabu, 08 Agustus 2018

Kua Etnika Pentaskan "Tetabuhan"

Pementasan "Tetabuhan" oleh kelompok musik Kua Etnika di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK) Dusun Kembaran RT 04 Tamantirto, Kasihan-Bantul, Selasa (7/8). (Foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Bertempat di panggung Padepokan Seni Bagong Kussudiardja, kelompok musik asal Yogyakarta Kua Etnika menggelar pementasan "Tetabuhan", Selasa (7/8) sore. Pementasan tersebut merupakan presentasi karya Kua Etnika yang akan menjadi salah satu acara pembuka (opening ceremony) pada International Gamelan Festival (IGF) 2018 di Solo, 9-16 Agustus 2018. Rangkaian acara IGF 2018 diantaranya performance art gamelan-karawitan, konferensi, pameran, screening film.

Pementasan "Tetabuhan" seakan menjadi tanggungjawab memberikan sajian bagi masyarakat Yogyakarta sebelum Kua Etnika pentas pada IGF 2018. Kehadiran Kua Etnika sendiri pada IGF 2018 mewakili DI Yogyakarta.

Setelah diawali dengan sound check dengan komposisi lagu Tokecang, Kua Etnika menampilkan repertoar pertama berjudul "Nirwana" sebuah komposisi yang terinspirasi dari perjalanan salah satu inisiator Kua Etnika Djaduk Ferianto di Penanjakan, Gunung Bromo.

"Kali ini Kua Etnika (tampil) agak beragam. Ada unsur Sunda, Bali, ada juga dari luar Jawa. Ini menjadi sebuah konsep bahwa Jogja bukan hanya Jawa (sentris). (Ini sekaligus untuk mengabarkan) Indonesia dalam miniatur (keberagaman) ada di Jogjakarta," jelas Djaduk saat perform "Tetabuhan", tentang komposisi pemain-instrumen yang dibawa ke IGF 2018 menggabungkan gamelan Jawa, Sunda, Bali, alat tiup tradisional slompret, serta alat musik modern (drum set, gitar bass, gitar akustik, gitar elektrik, dan synthesizer).

Kua Etnika melanjutkan repertoar keduanya berjudul "Bromo" masih bercerita tentang Penanjakan dan sekitarnya. Kombinasi permainan gamelan Bali-Jawa yang kadang cepat dan tiba-tiba melambat serta permainan pengendang Sukoco dengan membawa warna Sunda yang dinamis bersautan dengan permainan drummer Ari, membuat lagu "Bromo" menjadi komposisi yang sangat jazzy. Bisa dipahami, dua gitaris (bass dan gitar elektrik-akustik) serta drummer merupakan pemain musik yang hingga saat ini terus menghidupkan Jazz Mben Senen bersama komunitas jazz Jogja di Bentara Budaya Yogyakarta.

Pada repertoar ketiga, Kua Etnika mengajak seluruh hadirin berdoa bersama untuk masyarakat Lombok yang dalam dua minggu terakhir dilanda bencana alam gempa agar diberikan ketabahan, keselamatan, dan kekuatan. Dalam khusuknya doa, Kua Etnika mengiringi dengan komposisi lagu berjudul "Siklus". Pada lagu "Siklus" dua penyanyi Kua Etnika Silir Pujiwati dan Anita secara bergantian melagukan tetembangan Jawa.

Sebuah komposisi lama berjudul "Jawa Dwipa" dari album Gending Djaduk (2018) dimainkan melanjutkan komposisi "Siklus". Beberapa bagian lagu "Jawa Dwipa" mendapat sentuhan serta aransemen ulang dari komposisi yang pernah dibuat Djaduk saat awal bermain musik dengan penggalian atas musik etnik dengan pendekatan modern.

Pada repertoar terakhir berjudul "Ronggeng to Latinos" yang terinspirasi dari Bagong Kussudiardja saat membuat karya koreografi based novel karya Ahmad Tohari berjudul Ronggeng Dukuh Paruk. Djaduk merespon proses berkarya Bagong Kussudiardja dengan musik pengiring dalam komposisi lagu "Ronggeng to Latinos" dalam ragam warna musik latin Samba-Rumba-Tango dan Kua Etnika memainkannya dengan kombinasi musik gamelan bernada pentatonis dengan instrumen musik modern. Uniknya lagi pada beberapa bagian lagu Silir Pujiwati dan Anita membawakan lirik dalam cengkok sindhen Jawa.

 

Back to Home