Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 07:13 WIB | Selasa, 12 Maret 2019

Kuaetnika Gelar Konser "Sesaji Nagari"

Penampilan Kuaetnika dalam konser bertajuk "Sesaji Nagari" di concert hall Taman Budaya Yogyakarta, Minggu (10/3) malam. (Foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Setelah menggelar konser dalam rangka memperkenalkan album baru “Sesaji Nagari” di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki Jalan Cikini Raya No. 73 Jakarta, Sabtu (23/2), musisi Djaduk Ferianto bersama kelompok musiknya Kuaetnika kembali menggelar pementasan "Sesaji Nagari", di Concert hall Taman Budaya Yogyakarta, Minggu (10/3) malam. Konser tersebut sekaligus merupakan upaya memperkenalkan kembali khasanah musik yang tumbuh dan berkembang di nusantara.

Dalam perjalanannya, Kuaetnika telah mengeluarkan beberapa album musik sekaligus menggelar konser diantaranya: Nang Ning Nong Orkes Sumpek (1996), Ritus Swara (2000), Unen Unen (2001), Many Skyns One Rhythm (2002), Pata Java (2003), Raised From The Roots, Breakthrough Borders (2007), Vertigong (2008), Nusa Swara (2010), Gending Djaduk (2014).

 “Ragam budaya Indonesia dapat kita lihat hampir di setiap daerah yang ada di Indonesia, terutama musik daerahnya. Setiap daerah memiliki alat musik khas dengan bentuk dan bunyi-bunyian yang unik yang membedakan daerah satu dengan daerah lainnya,” kata Djaduk Ferianto saat mengawali konser, Minggu (10/3) malam.

Lebih lanjut Djaduk menjelaskan bahwa seiring berjalannya waktu, kian lama nada dan melodi indah ini semakin jarang terdengar di telinga kita, khususnya generasi muda. Berangkat dari hal tersebut, Kuaetnika mencoba melakukan inovasi dengan menyajikan aransemen dan memadukan musik tradisi dan menambahkan unsur modern. Harapannya, inovasi yang dilakukan Kuaetnika dapat menyelaraskan semangat keindonesiaan dari ujung barat hingga ujung timur, merekatkan kembali apa yang disebut Indonesia dan mengingat kembali menjadi orang Indonesia yang menghargai keberagaman.

Sepuluh lagu dipersiapkan dalam pementasan “Sesaji Nagari”. Setelah musik pembuka, Kuaetnika memainkan komposisi lagu yang berasal dari Sasak-Lombok, Nusa Tenggara Barat berjudul Kadal Nongak. Djaduk mengawali komposisi Kadal Nongak dengan permainan instrumen tiup rinding. Di Indonesia dikenal instrumen rinding dalam berbagai penyebutan diantaranya rinding (Jawa Tengah, Yogyakarta), karinding (Jawa Barat), maupun genggong (Bali).

Pada masa lalu, instrumen musik rinding dekat dengan kehidupan petani di Indonesia dalam kesehariannya. Selain sebagai hiburan di sela-sela saat mengerjakan sawah-tegalan, rinding diyakini petani dapat mengusir hama wereng dan serangga lain yang sering menyerang tanaman padi. Pemilik Rumah Kopi Ranin-Bogor dan peneliti pada Via Campesina, Tejo Pramono menyebutkan rinding memiliki gelombang suara frekuensi pendek, karena itu selain sebagai alat musik, bilah bambu mini ini konon juga mampu menghalau beberapa jenis serangga/ hama. Menghalau hama dengan rinding dengan demikian jauh lebih ekologis dari pada membasminya dengan pestisida kimia. Rinding merupakan inovasi tua yang sangat modern.

Pada komposisi lagu Doni Dole dari Poso-Sulawesi Tengah dimainkan rebana berukuran kecil yang dikenal dengan nama kecimpring. Alat musik perkusi rebana dalam berbagai ukuran banyak ditemui di berbagai tempat terutama di daerah pesiriran. Pada repertoar ketiga Kuaetnika memainkan komposisi lagu dari Jambi berjudul Batanghari. Komposisi Batanghari dimainkan dalam irama melayu yang memainkan banyak instrumen khas seperti akordeon, biola, celo, serta gitar gambus. Dalam komposisi Batanghari dua instrumen khas dimainkan Kuaetnika yaitu mandolin menggantikan gitar gambus dan rebana besar.

Komposisi lagu Anak Khatulistiwa yang liriknya dibuat oleh sastrawan Landung S Simatupang dimainkan dalam irama musik Papua menjadi repertoar kelima Kuaetnika dilanjutkan dengan komposisi lagu Lalan Belek yang berasal dari Bengkulu. Dalam memainkan Lalan Belek, Kuaetnika memainkan sekaligus lima buah Doll, alat perkusi sejenis jimbe berukuran besar khas Bengkulu.

Memasuki repertoar keenam, penampilan jeda sejenak dengan doa bersama yang dipandu oleh mantan Ketua Mahkamah Konstitusi M. Mahfud MD. Dalam orasi singkatnya Mahfud MD mengajak untuk bersatu membangun bangsa.

“Pada saat-saat ini Indonesia menghadapi cobaan-cobaan meskipun kecil dan belum berbahaya, tetapi sebagai ancaman (bisa) menjadi potensi yang lebih besar harus kita antisipasi yaitu gejala perpecahan akibat persoalan politik (lokal-nasional). Kemudian politik identitas, saling menyalahkan, dan lain-lain yang tidak perlu saya sebutkan mudah-mudahan ini segera berakhir dan kita (bangsa Indonesia) bersatu padu setelah pemilu 17 April.”

“Indonesia ini sungguh anugerah Tuhan Yang Mahakuasa yang sangat luar biasa. Kita harus bersyukur pada nikmat dan rahmat yang telah diberikan Tuhan. Karena seandainya Indonesia tidak merdeka, hampir semua rakyat Indonesia itu miskin. Tetapi sekarang sesudah Indonesia merdeka masih banyak orang hidup dibawah garis kemiskinan dalam arti kira-kira 8 %. Kalau dulu sebelum Indonesia merdeka diatas 90 % rakyat Indonesia miskin semua. Oleh karena itu, sisanya (yang berada dibawah garis kemiskinan) kita atasi bersama-sama dengan bersatu,” jelas Mahfud MD dalam orasi singkatnya.

Setelah komposisi lagu Sesaji Nagari yang menjadi judul konser sekaligus album terbaru Kuaetnika, lagu Ulan Andung-andung diaransemen dalam irama yang lebih lembut-lambat menjadi repertoar ketujuh. Dalam aransemen tersebut ada perubahan cukup mencolok dengan warna ethnic jazz fusion dipadukan dengan warna musik kuntulan khas Banyuwangi di interlude dan akhir lagu yang cukup dinamis.

Sebuah komposisi lagu anak-anak dari Bali berjudul Made Cenik dimainkan dengan iringan seruling, kendang alit, serta rindik sebuah instrumen perkusi dari potongan bambu. Sebelum menutup penampilannya dengan lagu Air Kehidupan, vokalis Kuaetnika Silir Pujiwati dan Anita Siswanto yang sebelumnya bergantian menyanyikan lagu-lagu sebelumnya, pada komposisi lagu Sigulempong yang berasal dari Tapanuli-Sumatera Utara keduanya menyanyikan secara duet.

Untuk sebuah konser musik, sepuluh lagu dibawakan dalam waktu lebih dari dua jam tentu cukup menguras energi penonton untuk dapat menyaksikan pertunjukan sampai selesai. Namun itulah bagian dari edukasi Kuaetnika memperkenalkan kembali beberapa khasanah musik yang ada di nusantara.

 

Editor : Melki Pangaribuan

Back to Home