Loading...
RELIGI
Penulis: Melki Pangaribuan 03:49 WIB | Senin, 29 Juni 2015

Kuntadi: Panggilan Kaum Beruntung Bagi Kaum Buntung

Pdt. Em. Kuntadi Sumadikarya. (Foto: Melki Pangaribuan)

SATUHARAPAN.COM – Kaum Beruntung yang kita maksudkan adalah mereka yang hidup dalam kecukupan, kelebihan dan amat sangat berkelebihan dan mereka ini bisa saja mencakup kita sendiri. Kaum Beruntung di sini kita kontraskan dengan Kaum Beruntung, yakni mereka yang hidup dalam kekurangan dan penderitaan.

Kaum Beruntung biasanya diuntungkan bahkan mendapatkan penghidupannya dari konstalasi dan eskalasi sistem ekonomi Empire, khususnya mereka yang menikmati hipertofi (penggelembungan) ekonomi. Sebaliknya Kaum Buntung selalu sengsara karena ketidakadilan dari sistem ekonomi yang sama. Kedua kaum ini menghuni dunia dan gereja. Adalah maksud Allah agar semua hidup bersama (bandingkan konsep filosofis Ubuntu, Oikonomia Convivencia, Sansaeng, Samak Kawsay, Si Tou Timou Tumou Tou) dalam damai sejahtera, bukan yang satu menindas yang lain.

Kaum Beruntung bukan tak tergerak hati, manakala berhadapan dengan Kaum Buntung. Kita bahkan menyaksikan banyak tindakan yang dianggap saleh dari Kaum Beruntung kepada Kaum Buntung. Kita patut bersyukur tentang hal itu. Namun adalah menggelikan bahwa di aras jemaat, secara Khusus tindakan popular memberikan pakaian bekas – yang kadang-kadang dihaluskan dengan sebutan ‘pakaian layak pakai’ – dianggap sebagai sebuah kesalehan. Sebenarnya ini adalah tindakan cuci gudang, karena lemari pakaian Kaum Beruntung – dengan terus menerus membeli pakaian – sudah terlalu padat. Pakaian yang tak berharga itu yang “direlakan” bagi Kaum Buntung.

Dalam terminologi Alkitab, ini adalah memberi dari kelebihan. Bukan murni pemberian, karena pemberian murni berasal dari kekurangan bukan dari kelebihan. Memberi dari kekurangan, seperti imperatif Yesus, membuat Teresa mengungkapkan, Give until it hurts. Jika belum terasa sakit dalam memberi sesungguhnya belumlah memberi,  melainkan justru menerima (rasa senang). Imperatif dalam Yes 58:10 kira-kira berarti Tuhan menginginkan agar jika memberi kita memberi seperti apa yang kita sendiri inginkan. Kaum Beruntung yang juga mencakup lembaga-lembaga seperti individu-individu.

Suatu ketika saya merasa terpukul menyaksikan bagaimana gereja begitu rela menggalang dan membelanjakan dana, katakanlah 10-50 miliar untuk membangun gedung gereja, sementara sama sekali tak rela menggalang dan membelanjakan dana dengan jumlah yang sama untuk tindakan perubahan bagi Kaum Buntung dari kehidupan kekurangan menjadi kehidupan berkecukupan , atau apalagi untuk biaya advokasi ketidakadilan dan HAM bagi Kaum Buntung ini.

Masalahnya bukan Kaum Beruntung tidak bisa, melainkan belum ada penanaman kesadaran mendalam tentang ke mana kehidupan segala ciptaan sedang bergerak, yakni omnicidal threat (ancaman kepunahan total). Di atas jemaat semua tampaknya masih terus memegangi kebajikan dan kesalehan tradisional, yang kurang berminat mengubah nasib Kaum Buntung. Boleh jadi ini dampak dari doktrin yang beranggapan, “kaya atau miskin itu ditentukan oleh Tuhan, jadi barangsiapa mau mengubah kemiskinan berarti melawan Tuhan.” Sebab itu tindakan bagi Kaum Buntung hanyalah sekadar basa-basi Kaum Beruntung yang memuaskan diri, tapi tidak memberi kontribusi, humanisasi atau transformasi.

Pelbagai forum ekumenis seperti Oikotree Global Forum - Joburg, SRXDGD – Busan, SRXVIPGI – Nias, SRXIVCCA – Jakarta, serta pelbagai dokumen seperti Kairos Afrika Selatan, Konfesi Accra, AGAPE, PWE, Kairos Global, membahas secara eksplisit dan implisit tentang ketidakadilan dan ketimpangan yang membinasakan ini. Dunia kita – jika benar disadari – sudah berubah menjadi dunia mengerikan bagi kehidupan (manusia, alam dan bumi). Respon gereja dan Kristiani perlu berubah dalam kesetiaan kepada Allah yang tidak merancang kebinasaan melainkan kehidupan bagi segala ciptaan-Nya.

Ekonomi, Ekologi dan Ekumenis

“Ekonomi, ekologi dan ekumenis memiliki akar kata yang sama yakni oikos, yang menunjukkan keterkaitan ketiganya. Ilmu ekonomi adalah ilmu tentang cara mengelola sumber daya bumi. Tetapi ilmu ini jangan dipahami hanya sebagai konsep sekular. Ilmu ekonomi bermuatan teologis. Pada periode Patristik teologi dipahami berbeda, pertama-tama dan terutama sebagai teologia, artikulasi iman kepada Allah Tritunggal, dan kedua sebagai Oikonomia, yang mengurus ekonomi keselamatan ilahi yang terwujud dalam dan melalui dan oleh Yesus Kristus.

Peristiwa Kristus dari inkarnasi sampai parousia eskatologis dipahami sebagai Oikonomia. Ekonomi ilahi berupa peristiwa Kristus memberi kita kriteria penting untuk menilai beragam sistem yang menindas. Allah Tritunggal hadir secara istimewa melalui Pribadi Yesus Kristus yang mewakili ekonomi ilahi atas bumi. Keadilan adalah ciri khas ekonomi ini, sehingga sistem ekonomi apapun yang tidak berorientasi keadilan harus dicurigai terkait dengan komunitas iman.”

“Keadilan adalah kebajikan yang mencakup semua kebajikan lain. Dengan kata lain, keadilan adalah kategori etis dan imperatif normal di jantung ekonomi keselamatan ilahi. Menurut Alkitab, keadilan berarti memperjuangkan hak mereka yang kurang beruntung dan masyarakat kelas bawah (the less privileged). Intinya semua manusia berhak menikmati hidup yang holistik. Istilah mispat (kebenaran) dan sedek (keadilan) dalam bahasa Ibrani adalah istilah yang saling berhubungan. Baik keadilan maupun kebenaran merupakan bagian dari hakikat (ontos) Allah. Ide keadilan alkitabiah tidak bebas nilai (value-netral) atau mewakili keberadaann pasif.

Keadilan adalah kata benda verbal, bukan tanpa praksis. Keadilan menuntut tindakan responsif dari orang percaya. Seperti tertulis dalam Mikha 6:8, ‘Dan apakah yang dituntut Tuhan dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?’ seperti ungkapan Yeremia, mengenal Allah berarti melakukan keadilan (Yer. 22:15-16). Ditinjau dari perspektif ini, sistem ekonomi yang tidak terkait keadilan sosial dan tidak berpihak kepada kaum miskin dan mereka yang terpinggirkan, dipandang cacat sehingga tidak dapat dikompromikan dengan ajaran dasariah visi Kristen tentang ekonomi ilahi.”

Ketamakan dan Ketidakadilan

Sementara berbicara tentang lembaga-lembaga dan sistem yang tadak adil, kita sering beranggapan bahwa dengan sendirinya kita, orang percaya, warga dan pimpinan gereja adalah orang-orang yang adil. Asumsi itu seringkali ambruk jika diperhadapkan kepada kenyataan di level akar-padi.

Saya sering melalui pembinaan dan khotbah bertanya, “Mengapa kalau berbelanja Kaum Beruntung pemilik swalayan, supermarket, minimarket kita tidak menawar, tetapi kalau berbelanja kepada orang kecil Kaum Buntung di pasar, kaki lima atau pedagang keliling kita selalu menawar habis-habisan.” Bukankah itu perilaku tak adil? Padahal kalau berhasil menawar tidak membuat kita makin kaya, dan kalau tak berhasil menawar tak membuat kita makin miskin. Sekalipun perilaku menawar adalah suatu hobi bahkan keterampilan. Kini ada perspektif baru, yakni dimensi keadilan dari sudut transaksi spiritualitas dan iman.

Ketidakadilan adalah kejahatan di mata Tuhan, sehingga Tuhan membenci perayaan, ibadah, persembahan umat. “Untuk apa itu korbanmu yang banyak-banyak? ... Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku. ... Perayaan-perayaan bulan barumu dan pertemuan-pertemuanmu yang tetap, Aku benci melihatnya; ... Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik, usahakanlah keadilan, ...” (Yes. 1:11-17). Tak kurang Yesus sendiri dalam Injil Matius berkata,”Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (Mat. 9:13).

Einstein secara sinis pernah mengatakan, “Tiga kekuatan yang menggerakkan dunia adalah kebodohan, ketakutan dan ketamakan.” Mitologi Yunani tentang Raja Midas yang terjebak dalam ketamakan akan emas, justru kehilangan putrinya yang menjadi emas karena tersentuh olehnya. Gandi berkata, dunia menyediakan cukup untuk memuaskan kebutuhan, tapi bukan ketamakan manusia.” Yesus juga memperingatkan, “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.” (Luk. 12:15).

Salah satu workshop Madang di SRXDGD – Busan 2013, membahas apa yang DGD percaya bahwa “musuh terburuk dari keadilan adalah ketamakan struktural, yang memungkinkan manusia menguras alam dan memiskinkan sesamanya.” Dalam workshop itu Dr. Lucas Andrianos memperkenalkan indeks Ketamakan (greed index) yang dapat dipakai mengukur ketamakan individual, nasional dan global. Disamping menjelaskan greed index  dan Greed Line temuannya itu, Andrianos juga menceritakan bagaimana masyarakat Yunani kuno merasa perlu mengukur dan mengendalikan ketamakan demi kebahagiaan manusia.

Dalam rangka spirit budaya seperti itu, Pythagoras menciptakan apa yang disebut Cangkir Keadilan (Cup of Justice) atau disebut juga Cangkir Ketamakan (Cup of Greed). Dari cara bekerja cangkir ini pesannya jelas sekali seperti air yang dapat kita minum dari cangkir itu: “Anda dapat minum sedikit dan lagi bahkan sedikit lagi jika Anda suka. Anda dapat berbagi dengan orang lain dan memuaskan kebutuhan Anda. Namun jangan berharap memenuhi cangkir melebihi garis pembatasnya (garis ketamakan), dalam rangka minum lebih banyak ketimbang orang lain. Karena itu akan membuat Anda kehilangan semua.”

Sekilas Buku Justice Not Greed

Dikonfirm oleh kenyataan, bahwa salah satu isu panas buku ini adalah “sistem finansial internasional telah menciptakan beban hutang dan krisis di seluruh dunia.” Kenyataan itu paling terasa oleh Kaum Buntung. Selain itu “umat manusia sedang menghadapi krisis moral dan etis global yang harus direspon oleh gereja dan komunitas iman lain serta masyarakat sipil.” Hal mana terkait dengan “kegagalan sistem akuntabilitas tiap negara.” Dengan demikiankita memandang “dunia berjalan pada suatu sistem – perekonomian global – yang gagal merealisasikan misi Allah,” yakni “menghadirkan kabar baik kepada kaum miskin dan kepenuhan hidup bagi manusia dan ciptaan-Nya.”

Oleh karena itu, buku ini menyerukan “kesepakatan baru” untuk mengontruksikan sistem global yang ‘lebih proporsional, lebih developmental, tidak terlalu berat sebelah, lebih universal, lebih berorientasi kebutuhan sosial dan lingkungan, tidak memfasilitasi kepentingan finansial dan ekonomi.” Di tengah kondisi global demikian, dari sudut perspektif teologis “Defisit Etis dalam Sistem Finansial Global Saat ini” diperlukan refleksi perspektif Yobel (penghapusan hutang) bagi keuangan yang adil.”

Krisis juga dipandang sebagai “manifestasi dari cacat moral yang mensyaratkan transformasi hati dan budi serta transformasi ekonomi yang menjamin keadilan bagi semua orang.” Usul diajukan untuk panduan ekumenis dan etis yang dapat menunjang upaya berkelanjutan mengatasi kemalangan global yang sekarang, sebagaimana sedikit terpapar di atas.

Krisis antara lain “dipicu oleh spekulasi berlebihan pada pasar perumahan dan finansial baik AS” dan tampak juga di berbagai negara termasuk Indonesia. Jakarta misalnya adalah kota nomor satu dari lima kota besar di Asia Pasifik sejak tahun 2012, dalam ekspansi pengembangan perumahan, melebihi Hongkong, Singapura, Kualalumpur dan Sydney. Sayangnya di mana-mana perumahan dibuat dan dibeli bukan untuk pemukiman, melainkan untuk pengembangan investasi dana.

Buku ini juga menjelaskan bahwa “tidak ada hubungan uang kartal (real money) dan uang virtual.” Dijelaskan bahwa “PBB yang demokratis secara serius dipandang sekunder dibandingkan dengan lembaga seperti IMF.” Diusulkan agar “kasus sebagai indikator baru untuk mengukur dan merencanakan kemajuan ekonomi dengan Indeks Kebahagiaan nasional bruto (Gross National happines). Kontributor dari China menekankan bahwa “jika hanya kondisi internal Kapitalisme diatasi dan pasar finansial diregulasi, dan jika hanya arsitektur finansial baru dibangun, kita tak hanya gagal mengatasi krisis finansial saat ini, melainkan tidak dapat mencegahnya terpulang kembali.”

Krisis ekonomi sebagaimana dibahas buku ini disebut juga sebagai “prospek cerah berlumuran darah.” Karena “kematian sia-sia dan hidup tak menentu dari banyak perempuan dan anak” dan tidak terbatas pada mereka ini saja, mengingat angka kelaparan global 2013 untuk pertama kalinya dalam sejarah sudah mencapai lebih dari 1 miliar. Jadi “hanya gerakan sosial global dapat melancarkan tekanan perubahan sebelum akhirnya mengurangi kemiskinan, ketersingkiran sosial, dan marjinalisasi ekonomi.”

Diperkenalkan juga konsep “ekonomoral” dengan tujuan “memberikan muatan moral dan teori-teori ekonomi.” Oleh karena itu, sistem ekonomi harus “dipertanyakan secara radikal lebih dari sekadar penyesuaian kebijakan, sebab penderitaan manusia sudah mencapai tahap krisis tertinggi.” Perlu disadari bahwa ini “bukan soal bagaimana menormalisasi sistem, melainkan masalah hidup dan mati yang memerlukan transformasi radikal ke arah ekonomi yang menghidupkan.

Sementara itu sambil menyadari semua paparan buku ini, sesuai dengan maksud tulisan ini, “kita tidak bisa menolak telah mengambil untung dari sistem yang telah mematikan jutaan orang.” Baik individu maupun lembaga sosial dan lembaga agama seperti gereja “menikmati patronase kekuasaan tertinggi dan kekuasaan lainnya.”

Kontribusi Yang Dapat Diberikan

Tanpa mengabaikanpentingnya kapasitas berbasis komunitas dan kapasitas berpusat kaum marjinal, tulisan ini ditujukan kepada Kaum Beruntung. Seperti kita sadari dari kilasan pembahasan di atas, memberikan donasi lebih banyak demi membersihkan harta, sebagaimana dipromosikan oleh lembaga agama bukanlah satu-satunya jalan memenuhi panggilan Kaum Beruntung yang ada di dalam gereja, masyarakat dan dunia.

Krisis terlalu besar untuk diatasi hanya dengan donasi dana. Seperti kata Teresa, “Kami (kaum termiskin dari kaum miskin) tidak (sungguh-sungguh) memerlukan dana, yang kami perlukan adalah kehadiran Anda.” Ungkapan itu diartikan sebagai ikut campur tangan (dibidang dan pekerjaan masing-masing) dalam mencari alternatif-alternatif dari sistem-sistem (manapun: ekonomi, ekologi, politik, militer, budaya, teknologi bahkan teologi) yang tak adil, yang hanya menguntungkan Kaum Beruntung dan mematikan Kaum Buntung. Kaum Beruntung perlu membiarkan hati dan pikiran mendengarkan Suara Allah yang senantiasa membela Kaum Buntung di setiap zaman dari abad ke abad, sekalipun lembaga agama dan para pemimpin agama mungkin membungkam suara itu.

Don’t worship you pastor, don’t worship your church, don’t worship your church building, don’t worship your Mammon!

Ambillah perspektif baru dalam menyembah Allah melalui kasih karunia yang Allah berikan dan ambillah bagian dalam misi penyelamatan Allah atas segala ciptaan dari krisis-krisis sistemik lokal, nasional, regional dan global yang membinasakan. Apakah misi begini ini memang misi Allah? Jawabnya, Ya! Sekiranya Allah menghendaki kebinasaan, Dia tentu tidak perlu susah-susah mengutus Yesus Kristus ke dunia untuk menyelamatkannya.

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yes. 29:11 LAI-TB)

*Tulisan karya Pdt. Em. Kuntadi Sumadikarya ini merupakan makalah pada acara diskusi bertajuk “Ekonomi Kehidupan”dan Peluncuran Buku Terjemahan “Justice Not Greed”, yang diselenggarakan Pokja Oikotree Indonesia yang bekerja sama satuharapan.com dan PMK HKBP di Aula Gedung Sinar Kasih Jakarta, pada 25 Juni 2015.

Editor : Sotyati


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home