Google+
Loading...
FOTO
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 01:09 WIB | Rabu, 05 Juli 2017

Kupatan Kendeng: Menjaga Persaudaraan Menanam Penghidupan

Kupatan Kendeng: Menjaga Persaudaraan Menanam Penghidupan
Gunungan ketupat untuk acara Kupatan Kendeng 2017 dengan tema Njaga Paseduluran Nandur Panguripan di Desa Timbrangan Kec. Gunem - Kab. Rembang, Minggu (1/7). (Foto-foto- Moh. Jauhar al-Hakimi)
Kupatan Kendeng: Menjaga Persaudaraan Menanam Penghidupan
Prosesi Temon Banyu-Beras pada Sabtu (1/7) siang. (Foto: JM-PPK)
Kupatan Kendeng: Menjaga Persaudaraan Menanam Penghidupan
Prosesi pengambilan air pada Temon Banyu-Beras pada Sabtu (1/7) siang di Sendang Wali Desa Timbrangan, Kecamatan Gunem-Rembang. (Foto: JM-PPK)
Kupatan Kendeng: Menjaga Persaudaraan Menanam Penghidupan
Persiapan pembuatan ketupat untuk Kupatan Kendeng 2017 di posko warga penolak pabrik-tambang semen di Desa Timbrangan, Kecamatan Gunem-Rembang. (Foto: JM-PPK)
Kupatan Kendeng: Menjaga Persaudaraan Menanam Penghidupan
Pertunjukan liong-barongsai pada Kupatan Kendeng 2017 di lapangan Desa Timbrangan, Minggu (2/7).
Kupatan Kendeng: Menjaga Persaudaraan Menanam Penghidupan
Hadrah sholawatan menjaga ibu bumi oleh Ghufron dan kawan-kawan.
Kupatan Kendeng: Menjaga Persaudaraan Menanam Penghidupan
Drama teatrikal yang dimainkan warga mengedukasi tentang perlunya merawat alam dan menjaga persaudaraan sebagai salah satu bagian mitigasi potensi bencana.
Kupatan Kendeng: Menjaga Persaudaraan Menanam Penghidupan
Dukungan pada upaya penyelamatan lingkungan di kawasan CAT Watuputih dari warga Bali yang menolak program reklamasi pantainya.
Kupatan Kendeng: Menjaga Persaudaraan Menanam Penghidupan
Doa bersama sebelum acara brokohan (kenduri bersama) di lapangan Desa Timbrangan.
Kupatan Kendeng: Menjaga Persaudaraan Menanam Penghidupan
Brokohan secara sederhana masakan ala desa dengan alas daun jati.
Kupatan Kendeng: Menjaga Persaudaraan Menanam Penghidupan
Prosesi ritual lamporan untuk mengusir hal-hal yang dianggap mengganggu kehidupan warga pada Minggu (2/7) malam keliling Desa Timbrangan dengan penerangan obor bambu. (Foto: JM-PPK)
Kupatan Kendeng: Menjaga Persaudaraan Menanam Penghidupan
Brokohan setelah prosesi lamporan. (Foto: JM-PPK)

REMBANG, SATUHARAPAN.COM - Setelah sehari sebelumnya dilakukan prosesi Temon Banyu Beras, pada Minggu (2/7) Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JM-PPK) melakukan grebeg ketupat didahului dengan perform art. Meskipun panggung tidak diramaikan oleh kelompok kesenian dari berbagai kota yang bersimpati karena bersamaan acara mereka, panggung tetap meriah dengan penampilan masyarakat melalui pertunjukan liong-barongsai, geguritan, kesenian gejog lesung, sholawatan yang dipimpin Ghufron, serta penampilan teatrikal oleh warga setempat.

Performing art tersebut merupakan rangkaian acara Kupatan Kendeng 2016 yang diselenggarakan selama dua hari (1-2 Juli) di Desa Timbrangan, Kecamatan Gunem Kabupaten Rembang Jawa Tengah.

Jika pada tahun sebelumnya Kupatan Kendeng mengangkat tema Menjaga Alam Merawat Tradisi, tahun ini mengangkat tema "Njaga Paseduluran Nandur Panguripan" (menjaga persaudaraan, menanam penghidupan). Dengan mengusung tema itu Kupatan Kendeng 2017 merupakan aksi budaya untuk menegaskan tekad warga Kendeng utara dalam menjaga persaudaraan di antara mereka sekaligus memperkuat solidaritas dan semangat untuk terus berjuang menolak keberadaan industri semen yang berpotensi merusak lingkungan dan kehidupan.

Pada prosesi Temon banyu-beras yang dilakukan di  Sendang Wali, sumber mata air di Desa Timbrangan dimana airnya terus mengalir sepanjang tahun (perennial) dan tidak pernah mati, dalam persiapan Kupatan Kendeng 2017 ibu-ibu mencuci beras di sendang wali, lalu mengambil air dan dibawa ke posko untuk memasak ketupat.

Sementara pada grebeg, gunungan ketupat diarak keliling desa dengan diikuti warga yang berjalan kaki serta kelompok kesenian terlibat (liong-barongsai, hadrah sholawat, teatrikal) berakhir di lapangan Desa Timbrangan. Malam harinya dilakukan prosesi Lamporan, sebuah ritual yang dimaksudkan untuk mengusir lampor yang diyakini masyarakat telah membuat 'kegaduhan' sehingga menimbulkan keresahan di masyarakat. Pada prosesi grebeg Kupat Kendeng maupun Lamporan diakhiri dengan brokohan, sebuah ritual doa serta kenduri-syukur bersama atas hasil panen yang diraihnya.

Valuasi Ekonomi Jasa Lingkungan sebuah Cekungan Air Tanah

Berbeda dari tahun lalu, Kupatan Kendeng 2017 diramaikan dengan pementasan teatrikal yang melibatkan warga mengangkat isu valuasi ekonomi jasa lingkungan sekitar cekungan air tanah (CAT) Watuputih. Kajian yang dilakukan oleh JM-PPK menyebutkan bahwa potensi karst CAT Watuputih tidak semata-mata dari komposit-deposit tambangnya. Ada potensi lain yang jika dihitung secara ekonomi memiliki nilai yang sangat besar. Ini menjadi salah satu upaya mitigasi atas potensi bencana di masa datang.

Di hamparan pegunungan karst Kendeng Utara, terdapat Cekungan Air Tanah (CAT) Watuputih. Cekungan selama bertahun-tahun menghidupi para petani lintas kabupaten, yakni Rembang, Blora, Pati, hingga Grobogan. CAT Watuputih merupakan satu di antara 19 cekungan air tanah di Jawa Tengah yang menyimpan 109 mata air. Beberapa mata air terletak di lokasi penambangan pabrik semen, dan sebagian lainnya dimanfaatkan warga untuk lahan pertanian.

Cekungan Air Tanah (CAT) Watuputih adalah zona Epikarst dan jaringan sungai bawah permukaan. Dalam surat Badan Geologi Nomor 1855/40/BGL/2014 dijelaskan CAT Watuputih merupakan bentang alam yang tersusun oleh batu gamping pejal dan batu gamping dolomitan Formasi Paciran yang memiliki karakteristik akuifer dengan aliran melalui celahan, rekahan dan saluran.

Watuputih oleh pemerintah ditetapkan sebagai cekungan air tanah (CAT) berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 26/2011 tentang Penetapan CAT. CAT seluas 31 kilometer persegi ini memiliki potensi suplai air yang sangat besar bagi 14 kecamatan di Rembang. Berdasarkan Pasal 25 Undang-Undang (UU) Nomor 7/2004 tentang Sumber Daya Air, CAT merupakan kawasan konservasi yang perlu dilindungi dan dikelola.

JM-PPK menyebutkan bahwa setidaknya rencana penambangan di atas CAT Watuputih akan berpotensi mengubah pola penyebaran air. Secara langsung, penambangan akan menyebabkan penurunan debit air yang tersimpan di dalam CAT. Aliran air tersebut terbagi menjadi air diffuse yang merupakan air hujan yang jatuh ke permukaan tanah kemudian di serap melalui pori-pori tanah dan tersimpan di zona epikarst. Sementara aliran air conduit menyebar ke berbagai arah secara tidak beraturan melalui retakan batu gamping.

Dengan curah hujan di kawasan CAT Watuputih sebesar 1.624 mm/tahun dimana 0,812 jumlah airnya menjadi air tanah, adanya rencana penambangan dapat mempengaruhi jumlah serapan air tanah yang hilang sebanyak 131.901.280.000 liter/tahun. Valuasi kerugian secara ekonomi akbat hilangnya air sebesar Rp 217.637.112.000 per tahun.

Penambangan akan berpengaruh pada hilangnya lapisan air tanah sehingga jaringan sungai bawah tanah menjadi terbuka. Proses tersebut akan mempercepat tercemarnya 75 persen air tanah yang menjadi sumber baku air bagi PDAM Kota Rembang dan PDAM Batalyon 410, sumur-sumur resapan warga, serta saluran irigasi.

Jasa lingkungan lainnya, JM-PPK menyebutkan peran satwa endemik kelelawar sebagai predator serangga penyebab hama menjadi terganggu. Kemampuan terbang kelelawar sejauh 10 km untuk memakan serangga yang ada di 4 gua akan berpengaruh pada predator alami serangga pada areal lahan pertanian di sana. Hitungan JM-PPK, untuk dua kali masa tanam diperlukan biaya pengendalian hama sebesar 10.989.250.000 per tahun.

Potensi lingkungan lain dalam kajiannya JM-PPK menyebutkan sumber pencemaran partikel dari industri semen memiliki efek pada iritasi mata, kulit, serta sistem pernapasan makhluk hidup. Debu silica bebas yang hisa terhirup dan masuk ke pari-paru bisa menyebabkan silikosis. Dalam hitungan JM-PPK, sebanyak 64.544 jiwa dari warga Kabupate Rembang dan Blora dapat terpapar langsung debu pabrik semen tersebut. Kajian JM-PPK menyebutkan angka Rp 322.720.000.000 per 1-2 tahun untuk biaya pengobatan masyarakat akibat paparan debu silika.

Sementara potensi wisata di sekitar CAT Watuputih sejauh ini masih belum tergarap secara optimal. Di berbagai tempat, potensi wisata karst secara ekonomi cukup tinggi semisal di Kabupaten Gunung Kidul dengan susur Gua Pindul, susur sungai di air terjun Sri Gethuk, susur goa Jomblang, Gunung Api Purba Nglanggeran, yang saat ini menjadi destinasi wisata unggulan Gunung Kidul.

Hitungan rinci valuasi ekonomi jasa lingkungan yang dilakukan oleh JM-PPK dengan didasarkan pada Kajian Lingkungan Hidup Strategis yang meliputi potensi ancaman keberlangsungan hidup keanekaragaman hayati, penurunan kualitas dan kelimpahan sumberdaya alam, ancaman keberlangsungan pertanian masyarakat yang merupakan sumber penghidupan masyarakat yang sebagian besar petani, potensi ekologi-ekosistem kawasan, maupun konstruksi sosial-ekonomi, potensi kerugian yang harus ditanggung masyarakat jika kawasan CAT Watuputih dijadikan area pertambangan mencapai 3.273.710.000.000/tahun.

Njaga Paseduluran Nandur Panguripan

Dalam pementasan teatrikal yang sederhana dengang keterlibatan perangkat desa dan warga dimana muncul dukungan maupun penolakan atas rencana pembangunan dikemas dalam sebuah dialog yang cair khas masyarakat desa yang guyub: ana rembug dirembug, ana pangan dipangan bareng. (ada permasalahan bersama dibicarakan dengan duduk bersama, ada makanan/rejeki dinikmati bersama).

Penyampaian yang dikemas dalam sebuah pementasan teatrikal oleh warga menjadi edukasi bagi masyarakat tentang potensi lingkungan sekitarnya yang kadang tidak terpikirkan. Kesadaran bersama dalam sebuah dialog berbagai arah inilah yang seharusnya mulai dikembangkan untuk pengelolaan lingkungan hidup di masa datang agar tetap lestari serta memiliki manfaat ekonomi yang optimal tanpa meninggalkan mitigasi potensi bencana serta ekuitas lahan kadang lebih besar nilai ekonominya dan kerap tidak diperhitungkan.

Adanya pabrik serta rencana penambangan di sebuah desa yang dulunya jauh dari hiruk pikuk sedikit banyak akan berpengaruh pada kehidupan masyarakat desa yang sebagian besar bermatapencaharian petani. Konstruksi sosial masyarakat desa dengan budaya agraris yang terikat pada tanah tempat beraktivitas serta rumah keduanya menjadi gambaran petani dan lahan pertanian berikut sumberdaya airnya adalah satu kesatuan ekosistem.

Memisahkan petani dari lahan pertaniannya sama saja dengan memisahkan mereka dari rumahnya: tempat tinggal sekaligus tempat beraktivitas merajut hubungan dengan alam dan lingkungan sosialnya. Rencana masuknya industri di ranah kehidupan masyarakat perdesaan memerlukan perencanaan yang matang, diperlukan ruang dialog intensif diantara mereka secara setara dan bermartabat. Setidaknya, masyarakat desa sekitar rencana pembangunan itulah yang nantinya merasakan dampaknya secara langsung jika rencana tersebut terus dijalankan: segala dampak untuk masa yang panjang.

 

Back to Home