Google+
Loading...
FOTO
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 13:01 WIB | Jumat, 22 November 2019

“Kutukan” Sepuluh Perantau

“Kutukan” Sepuluh Perantau
Karya berjudul “Hello My Friend” (Decky ‘Leos’ Firmansyah) pada pameran seni rupa “Sepuluh Perantau” berlangsung di Jogja Gallery Jalan Pekapalan No 7 Yogyakarta, 9-25 November 2019. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi).
“Kutukan” Sepuluh Perantau
“Marginal #1” dan “Menu Utama” (kiri atas/Riduan), Beautiful Girl (3 panel/kanan atas/Robi Fathoni), "I Cursed You into The Stone" (bawah/Dedy Sufriadi).
“Kutukan” Sepuluh Perantau
“Blessing Family on The Golden Tree” / Royal Wedding series 1 – set bridal stage dengan lukisan dan karya variabel dimensi, photobooth performance – Lugas Syllabus – 2019.
“Kutukan” Sepuluh Perantau
"I Cursed Your Thoughts and Text into a Stone" – buku, semen, pasir, scaffolding – Dedy Sufriadi – 2019.
“Kutukan” Sepuluh Perantau
Pengunjung sedang menikmati karya dari kejauhan. Dari kiri ke kanan: “Burning series” (Dedy Sufriadi), “Bioskop” (Ronald Apriyan), “Internal Connection” (Erzane Nova Erlan), Kamis (21/11).
“Kutukan” Sepuluh Perantau
Dari kiri ke kanan: “Animal Story” (Yarno), "DNA Purba" ( 3 panel/Hayatuddin)

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Sepuluh seniman-perupa berasal dari seputaran Sumatera Selatan yang merantau selama menempuh studi di seni rupa ISI Yogyakarta serta melanjutkan proses berkeseniannya di Yogyakarta mempresentasikan karya dua-tiga matranya di Jogja Gallery. Pameran yang berlangsung hingga 25 November 2019 dibuka oleh kolektor karya seni Oei Hong Djien,

Kesepuluh perantau seniman-perupa tersebut adalah Decki “Leos” Firmansah, Dedy Sufriadi, Erzane Nova Erlan, Hayatuddin, Iabadiou Piko, Lugas Syllabus, Riduan, Robi Fathoni, Ronald Apriyan, dan Yarno Munir.

Berada di perantauan seolah sedang menjalani “kutukan” bagi kesepuluh seniman-perupa dalam berproses kreatif saat memutuskan untuk menjadikan seni sebagai pilihan hidupnya. Suka-duka, dramatika kehidupan,  terekam dalam karya-karya yang dipresentasikan. Setidaknya hal tersebut bisa dibaca dari dua puluh karya lukisan yang didisplay di lorong atas Jogja Gallery. Dalam ukuran yang sama dan tanpa satu pun caption karya, pengunjung diberikan kebebasan untuk mencerna sedikit perjalanan kreatif kesepuluh seniman-perupa tersebut.

Realis, surealis, abstrak, figuratif-naif, yang menjadi warna-gaya dari kesepuluh seniman-perupa dengan mudah dikenali pada dua puluh karya tersebut. Hayatuddin misalnya yang selalu memunculkan obyek deformasi manusia-burung dalam lukisan drawingnya. Ataupun Erzane dengan dekoratif-naif yang mendekonstruksi obyek manusia-binatang dipadukan dengan obyek-obyek masa kini dalam warna kontras cerah-gelap. Decky “Leos” dengan obyek figur manusia tambun berbulu di sekujur tubuhnya, Iabadiou Piko dengan goresan abstrak, Robi Fathoni dengan obyek-obyek potret anak-anak.

Sementara itu Ronald Apriyan dalam garis warna-warni seolah ingin berkisah tentang liku-liku hidupnya di perantauan salah satunya dengan goresan tulisan yang cukup jelas terbaca “The Pecel Lele”. Sejak pertengahan tahun 1980-an Pecel Lele menjadi clue penting bagi perantau dimanapun, dan Yogyakarta menjadi salah satu tempat dimana pecel lele berkembang cukup pesat mendampingi para pelajar-mahasiswa yang merantau: harga terjangkau dan mudah didapatkan di banyak tempat.

Lantai dasar Jogja Gallery menjadi eksperimen kesepuluh seniman-perupa membebaskan ide berkaryanya dengan eksplorasi-eksperimentasi pada medium karya.

Kutukan Sepuluh Perantau

Dalam karya “Blessing Family on The Golden Tree” seniman Lugas Syllabus membuat instalasi pelaminan lengkap dengan berbagai aksesoris dan karya lukisnya menjadi sebuah photobooth yang bisa digunakan pengunjung untuk berfoto bersama. Syllabus seakan menghadirkan ritus kawin lengkap dengan pelaminannya yang bisa diakses oleh pengunjung.  Foto pengunjung selama pembukaan di pelaminan dicetak dan didisplay melengkapi karya instalasi yang sudah jadi. Respon dan ekspresi pengunjung menjadi menarik saat diabadikan dalam karya tersebut dan menjadi karya tumbuh selama pameran berlangsung.

Tentunya akan menjadi menarik lagi sekiranya ada pasangan mempelai pengantin yang sedang melangsungkan prosesi pernikahannya dan berkunjung bersama kerabatnya ke pameran “Sepuluh Perantau” untuk selanjutnya melakukan sesi foto di karya Syllabus. Atau Anda ingin mengabadikan ritus kawin yang pernah Anda jalani bersama pasangan Anda beberapa waktu lalu? Sebagai perantau Syllabus menawarkan hal menarik untuk Anda coba dengan mengabadikan momentum sakral tersebut. Dengan begitu, Anda tidak perlu mengutuki diri sekiranya Anda kehilangan momen mengabadikan prosesi sakral tersebut yang mungkin tidak sempat Anda abadikan saat itu.

Pada karya instalasi berjudul “Bioskop” Ronald Apriyan mengalihmedia-bentuk karya dua matranya yang pernuh garis warna-warni ke dalam sebuah karya instalasi tiga dimensi. Seluruh obyek karya dua matranya yang khas bentuk-warnanya dipindahkan menjadi karya instalasi berbentuk gedung bioskop lengkap dengan obyek-obyeknya. Melengkapi karya instalasinya, Ronald menambahkan film kartun dengan figur-figur dan cerita yang senada. Melewati masa anak-anak hingga remaja di tahun 1990-an yang tidak banyak disuguhi film kartun, dalam karya “Bioskop” seakan Ronald sedang mengutuki dirinya dan membekukan pada masa kanak-kanaknya yang tidak mungkin punya banyak pilihan hiburan bermain.

Dunia fabel selalu menawarkan rekaan cerita yang menarik sekaligus sebagai pembacaan realitas yang sedang ataupun sudah terjadi dengan segala dramatikanya. Di atas kanvas berukuran 180 cm x 280 cm, Yarno menarasikannya dalam goresan cat akrilik dalam karya berjudul “Animal Story”.  Kadangkala dunia hewan dengan segala kompetisinya untuk saling mengalahkan, menindas, memangsa, bahkan meniadakan sesama menjadi gambaran bayang-bayang kehidupan manusia ketika insting (naluri) lebih dominan dibanding intuisi kemanusiaannya.

Seniman-perupa Riduan dalam karya series berjudul “Marginal #1-2” dan “Menu Utama” memotret kerusakan lingkungan dengan dampak yang dirasakan manusia akibat deforestasi, alih fungsi lahan, meningkatnya sampah plastik yang berujung pada menurunnya daya dukung lingkungan bagi kehidupan manusia dan hari ini seolah menjadi menu utama dalam berbagai pemberitaan dengan bencana banjir, longsor lahan, kekeringan, kebakaran hutan-lahan. Berlimpahnya sumberdaya alam di Indonesia menjadi berkah sekaligus kutukan ketika ketidakmampuan manusia mengelola sumberdaya alam berujung pada bencana alam dan bencana kemanusiaan.

Jangan lupa membeli semen. Kalimat ini sering menjadi bahan candaan di antara para seniman manakala di antara mereka menyaksikan karya ataupun benda berharga milik koleganya yang tergeletak begitu saja dan tidak terurus.

Jengah dengan konten acara dari berbagai stasiun televisi yang dianggapnya tidak banyak memberikan edukasi bagi masyarakat dan hanya peduli pada ratting semata, seniman-perupa Dedy Sufriadi mengecor LCD TV berukuran 40-an inch dengan semen. Dalam karya berjudul "I Cursed You into The Stone" Dedy menyampaikan pesan yang lugas: karena tayangan-konten acaranya yang tidak banyak mendidik, banyak sampah-sampah slapstick, lebih baik dicor-bekukan saja. Kita tidak memerlukan tayangan TV yang tidak mencerdaskan.

Hal yang sama dilakukan Dedy pada buku sebanyak 16.000-an seberat hampir 4,5 ton yang dicor dengan campuran semen-pasir di bilik utara Jogja Gallery menjadi dinding ruang pamer sekaligus display karyanya. Pada karya instalasi berjudul "I Cursed Your Thought and Text into a Stone" menjadi kritik sekaligus pembacaan Dedy atas perkembangan teknologi yang mengubah cara baca dan cara pandang masyarakat.

Tidak terhindarkan ketika teknologi digital telah menggerus dan memakan anaknya sendiri : media cetak bahkan buku-buku pengetahuan yang pada masanya digunakan sebagai medium transfer knowledge dan hari ini berada di ujung masanya tergantikan dengan teknologi digital. Sialnya lagi cara baca kerap dibarengi dengan cara pandang di masyarakat yang cenderung pragmatis, instan dalam mengkonsumsi informasi-berita yang begitu banyak bertebaran di dunia maya dan berganti dalam hitungan detik tanpa diimbangi dengan memfilter dan menelisik sumber berita yang bisa dipertanggungjawabkan. Perubahan cara baca dan cara pandang terhadap sumber berita-informasi di dunia maya realitasnya menjadi gambaran masih rendahnya budaya literasi digital di masyarakat.

Berhenti hanya dengan membaca judul berita, fenomena inilah yang kerap terjadi dalam dunia yang terhubung hari ini. Menelaah lebih lanjut tentang isi berita, narasumber, tanggal kejadian, hingga sumber berita yang bisa dipertanggungjawabkan sudah jarang dilakukan ketika berita-berita bertebaran dan silih berganti dalam rentang waktu yang sangat singkat. Keengganan menelaah-menelisik berita lebih dalam telah menjebak masyarakat dalam era post truth dimana dengan mudahnya mengambil kesimpulan cepat dan instan dari judul berita yang dibacanya. Bisa ditebak, masyarakat hanya beranjak dari satu keriuhan ke keriuhan berikutnya dalam kontestasi penyebaran berita bohong (hoox), dengan tanpa disadari turut mengkonsumsinya.

Cara pandang yang tidak diimbangi dengan budaya literasi pada akhirnya hanya menempatkan buku cetak maupun buku elektronik (e-book) sebagai salah satu sumber pengetahuan menjadi artefak-artefak maupun jejak digital yang bisa jadi hanya merupakan kumpulan-kumpulan ‘sampah’. Dengan semen dan pasir, Dedy memonumenkan buku-buku cetak yang mungkin bagi sebagian orang dianggap sebagai vandalisme terhadap teks sumber pengetahuan. Namun dalam realitas yang ada hari ini, di titik inilah Dedy menyampaikan pesan sederhana: Kukutuk pikiran dan buku sumber bacaanmu menjadi sebuah batu.

Pameran seni rupa bertajuk “Sepuluh Perantau” berlangsung di Jogja Gallery Jalan Pekapalan No 7 Yogyakarta, 9-25 November 2019.

 

Gaia Cosmo Hotel
Zuri Hotel
Back to Home