Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 11:12 WIB | Minggu, 05 April 2020

Laku Budaya Gaung Gong di Tengah Pandemi COVID-19

Ilustrasi. Poster Gaung Gong. (Foto: Official doc. Komunitas Gayam 16).

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Empat belas seniman-kelompok seni gamelan-karawitan di wilayah Yogyakarta, Minggu (5/4) menggelar acara budaya Gaung Gong secara daring (online) melalui kanal-kanal media sosial.

Keempat belas seniman-kelompok seni tersebut adalah Omah Gamelan, Balai Budaya Minomartani, Gasebu, Omah Cangkem, Glenk Group, Ki Catur Kuncoro, Bambang Paningron, I Ketut Sandika, Santi Ariestyowanti, Balemas Singlon, Omah Seni Tanjunganom, Paksi Raras, Sanggar Budaya Tinalah, dan Komunitas Gayam 16.

Gaung Gong dilakukan dari seluruh penjuru mata angin di Yogyakarta (kota lain boleh mengikuti dengan zona waktu masing-masing). Kelompok-kelompok karawitan yang berada di arah mata angin itu akan mewakili menabuh gong bersamaan di tempatnya masing-masing dan satu gong akan ditabuh di Titik Nol Kilometer Yogyakarta. Gaung Gong ini dilaksanakan pada Minggu, 5 April 2020.

Gaung Gong dilakukan dalam dua sesi, pada pukul 06.00 dengan menabuh gong sebanyak 5 kali di Titik Nol Kilometer Yogyakarta dan penjuru arah mata angin, menggambarkan Sedulur Papat Lima Pancer, dilambangkan dengan Pancaksara. Gong dibunyikan lima kali tepat pada pukul 06.00 pagi, sebagai penanda awal kelahiran dan hidupnya jiwa yang kembali mengenali jati diri, menuju bangkitnya kesadaran sejati.

Saat dihubungi satuharapan.com, Pardiman Djojonegoro dari Omah Cangkem menjelaskan bahwa gong adalah instrumen (dalam gamelan) yang mengawali dan mengakiri sebuah putaran gendhing. Dari greneng-greneng para pelaku seni karawitan mengajak tidak terlalu larut. Tetap tenang dan waspada dalam kondisi pandemi saat ini.”

“Gong adalah bunyi semesta. Terdengar dan terasa agung. Seperti dalam musik, dia menandai perubahan waktu. Bunyi ini akan membawa kesadaran yang hangat dan menenangkan. Vibrasi yang dihasilkan oleh gong akan menggetarkan tubuh manusia." kata direktur program Komunitas Gayam 16 Ari Wulu yang menginisiasi Gaung Gong kepada satuharapan.com, Minggu (5/4).

Pada pagi hari dibacakan Carakan walik (aksara Jawa dibaca dari belakang) dengan urutan : Nga, Tha, Ba, Ga, Ma/Nya, Ya, Ja, Dha, Pa/ La, Wa, Sa, Ta, Da/Ka, Ra, Ca, Na, Ha. Dalam pembacaan terbalik tersebut carakan memiliki arti tidak ada kematian, tidak ada kesaktian, tidak ada peperangan, tidak ada utusan.

Sesi kedua dilakukan pada pukul 18.00 dengan menabuh gong sebanyak 10 kali yang dilakukan di Titik Nol Kilometer Yogyakarta sebagai perwakilan. Gong, Ong, atau Ongkara adalah simbol bhuwana alit dan bhuwana agung. Puncak perayaan dari penyatuan Dasaksara. Titik 0 KM sebagai pancer, dilambangkan dengan Dasaksara, gong dibunyikan 10 kali tepat pada pukul 6 sore, pertemuan siang menuju malam, waktu potensial penyelarasan energi dalam diri untuk selaras dengan energi semesta.

Pada sesi sore hari dibacakan Kalacakra yang berbunyi Yamaraja-jaramaya/Yamarani-niramaya/Yasilapa-palasiya/Yamiroda-daromiya/Yamidosa-sadomiya/Yadayuda-dayudaya/Yasiyaca-yacasiya/Yasihama-mahasiya, yang artinya kurang lebih: siapa yang menyerang, berbalik berbelaskasihan/siapa yang datang dengan niat buruk, akan berbalik dan menjauhi, siapa yang membuat kelaparan berbalik memberi makan, siapa yang memaksa berbalik berbuat kebalikan, siapa yang berbuat dosa berbalik berbuat kebajikan, siapa yang memerangi berbalik memberi damai, siapa yang menyengsarakan berbalik membawa damai, siapa yang berbuat merusak berbalik sayang dan memelihara.

Baik carakan walikan maupun kalacakra keduanya merupakan doa dan harapan baik di tengah pandemi akibat virus corona yang mendera seluruh penjuru dunia. Gaung Gong  digelar untuk menyikapi situasi sosial akhir-akhir ini setelah datangnya pandemi virus corona yang hampir mematikan sendi-sendi kehidupan manusia.

Caraka Walik dan Rajah Kalacakra dikenal sebagai mantram tolak bala. Kemudian itu dipakai sebagai simbol perlawanan budaya terhadap situasi yang sedang terjadi. intinya ingin menumbuhkan kepercayaan diri dengan adanya wabah ini. Selebihnya ini menjadi upaya untuk tetap berkreasi dan berekspresi kesenian di tengah pandemi yang sedang terjadi.” papar Bambang Paningron saat dihubungi satuharapan.com.

Gaung Gong bisa disaksikan pada akun/kanal media sosial Omah Cangkem, Komunitas Gayam 16, Kiai Kanjeng, Balemas Singlon, Balai Budaya Minomartani, Omah Gamelan.

Editor : Sotyati


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home