Google+
Loading...
FLORA & FAUNA
Penulis: Dewasasri M Wardani 14:23 WIB | Jumat, 22 Mei 2020

Langusei, Maskot Sulawesi Utara Langka dan Belum Dilindungi

Langusei (Ficus minahassae). (Foto: earth.com)

SATUHARAPAN.COM – Langusei? Tidak banyak orang mengenal flora identitas Sulawesi Utara yang menjadi maskot Provinsi Sulawesi Utara ini.

Mengutip floraindonesia.web.id, langusei memiliki nama latin Ficus minahassae. Tumbuhan tropis ini adalah tanaman endemik Indonesia. Sayangnya, belum ada upaya konservasi, meskipun tumbuhan ini mulai langka dan tidak dikenal oleh generasi masa kini.

Pada masa lampau, masyarakat Minahasa memanfaatkan kulit kayu langusei untuk bahan membuat pakaian. Serat kulit kayunya lembut dan halus, namun kuat dan liat, karena itu sering digunakan juga sebagai tali pengikat rangka rumah yang seluruhnya menggunakan material kayu.

Langusei, menurut Wikipedia, masih berkerabat dekat dengan beringin (Ficus benjamina). Yang unik dari pohon langusei ini adalah bunganya yang berbentuk bongkol, sehingga menyerupai buah.

Bunga langusei tersusun menjurai ke bawah sepanjang hingga satu meter. Bongkol yang di dalamnya terdapat bunganya itulah kemudian yang berubah menjadi buah langusei. Buah ini tidak akan gugur hingga buah tersebut masak. Di dalam buah tersebut terdapat bijinya yang kecil-kecil.

Langusei merupakan tumbuhan asli Indonesia yang tersebar di pulau Sulawesi bagian utara, serta Kepulauan Sangir dan Talaud. Hingga saat ini, masih belum diketahui tentang status pohon langusei, karena tumbuhan ini tidak termasuk di daftar tumbuhan yang dilindungi.

Pemerian Botani Pohon Langusei

Pohon langusei (Ficus minahassae) mengutip dari Wikimedia.org, berukuran sedang, dengan tinggi sekitar 15 meter. Pohon langusei rindang karena mempunyai banyak cabang dan lebat.

Permukaan kulit batangnya halus dan kulit tersebut mudah terkelupas, yang bila kering akar, tampak serat-seratnya yang halus. Bagian batang terdiri atas kulit, berkas pembuluh dan empulur. Kulit batang langusei mudah mengelupas dalam kondisi masih kering.

Daun tumbuhan langusei berukuran kecil, berbentuk bulat telur dengan ujung lancip. Perbungaannya muncul dari batangnya, sering dimulai dari dekat tanah sampai pada cabang-cabang utamanya.

Bunga ini tersusun menjuntai ke bawah dengan panjang mencapai 1 meter lebih. Bunga-bunga langusei membentuk bongkol sehingga tampak seperti buahnya.

Bunganya sebenarnya ada di dalam dan bisa tampak bila dipotong secara melintang. Bongkol yang di dalamnya terdapat bunganya itulah kemudian yang berubah menjadi buah langusei. Buah ini tidak akan gugur hingga buah tersebut masak. Di dalam buah tersebut terdapat bijinya yang kecil-kecil.

Persebaran pohon mencapai Papua dan Filipina. Langusei tumbuh di hutan campuran, pada daerah dataran rendah hingga ketinggian 700 meter dpl. Tumbuhan ini dapat tumbuh baik di daerah dengan curah hujan rendah, bahkan pada tanah-tanah kurang subur dan berkapur.

Pohon langusei mengutip dari sainsindonesia.co.id, sering juga disebut beringin minahasa. Tumbuhan ini juga sering disebut mahangkusei, tambing-tambing, werenkusei, dan tulupow. Dalam bahasa Inggris tanaman ini dikenal sebagai fig tree.

Habitat dan Persebaran

Habitat asli langusei, menurut Wikimedia, di daerah tropis seperti di hutan tropis wilayah Filipina, Sulawesi, dan Kalimantan. Selanjutnya, pohon langusei dapat tumbuh hingga mencapai kurang lebih 15 m, di dataran rendah dengan ketinggian 50 sampai 700 mdpl.

Sebenarnya tumbuhan ini lebih sering ditemui di areal tepi sungai, namun ada juga beberapa yang didapati tumbuh di dalam hutan.

Manfaat Herbal Pohon Langusei

Beberapa bagian tumbuhan langusei, mengutip dari goodnewsfromindonesia.id, telah dimanfaatkan oleh masyarakat  Sulawesi Utara sejak dulu. Bagian yang dimanfaatkan seperti kulit kayu langusei yang sering dijadikan bahan pembuat pakaian ataupun tali, karena memiliki serat yang lembut dan halus namun ulet dan kuat.

Daun langusei digunakan sebagai campuran obat. Buahnya juga sering digunakan sebagai campuran minuman tradisional.

Ficus minahassae mengutip dari researchgate.net, daunnya digunakan secara topikal sebagai antirematik. Rebusan akar meningkatkan produksi ASI pada ibu menyusui, dan digunakan untuk meredakan nyeri otot. Daun panggang, ditumbuk dan dicampur dengan minyak, dioleskan langsung ke kulit untuk menyembuhkan bisul dan memar. Getah digunakan sebagai minuman,  sedangkan kulit digunakan sebagai bahan untuk pakaian dan tali.

Departemen Kimia, Universitas De La Salle, Filipina, meneliti bahan kimia dari Ficus minahassae. Skrining terhadap fitokimia daun Ficus minahassae menunjukkan adanya tanin, steroid, terpenoid, glikosida jantung, dan flavonoid. Hasil penelitian menunjukkan Ficus minahassae berbagi karakteristik kimia yang sama dengan anggota lain dari genus Ficus yang ditemukan di Filipina, menghasilkan betasitosterol.

Herny Emma Inonta Simbala dari Pascasarjana Intitut Pertanian Bogor, dalam disertasi berjudul “Keanekaragaman Floritik dan Pemanfaatannya sebagai Tumbuhan Obat di Kawasan Konservasi II Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (Kabupaten Bolaang Mongondow Sulawesi Utara), menyebutkan, dari hasil penelitian tercatat 307 jenis flora yang tergolong ke dalam 288 marga dan 165 suku. Dari 307 jenis tumbuhan yang diperoleh di TNBNW terdapat 121 jenis tumbuhan dan 57 suku yang dimanfaatkan sebagai tumbuhan obat oleh masyarakat.

Dari hasil perhitungan indeks nilai penting (INP) dan indeks of cultural significance (ICS), serta metode perbandingan eksponensial (MPE), maka jenis tumbuhan yang termasuk kategori obat dengan prioritas tertinggi, salah satu di antaranya adalah Ficus minahassae atau langusei, sedangkan yang paling tinggi adalah pinang yahi dengan jumlah nilai MPE 340,86.

Tim peneliti Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Manado, mengutip dari forda-mof.org, melakukan penelitian karena keberadaan langusei saat ini yang semakin langka. Hal ini disebabkan adanya kecenderungan bahwa jenis ini kesulitan dalam beregenerasi secara alami.

Penelitian lembaga tersebut dilaksanakan untuk mengetahui informasi budi daya jenis langusei secara generatif. Hasil penelitian menunjukkan benih langusei merupakan benih yang membutuhkan kadar air yang tinggi untuk dapat berkecambah secara optimal.

Informasi mengenai tingkat kemasakan benih yang optimal serta teknik ekstraksinya juga didapatkan. Benih langusei berukuran sangat kecil, terdapat dalam polong buah dan dilapisi cairan berminyak serta sulit dipisahkan jika tanpa perlakuan ekstraksi.

Informasi lain menyebutkan langusei oleh masyarakat Sulawesi Utara juga dikenal sebagai tanaman obat yang biasa digunakan dalam memperlancar proses kehamilan dan bersalin, selain sebagai antirematik dan dapat menyembuhkan bisul dan memar.

Editor : Sotyati

UKRIDA
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home