Google+
Loading...
RELIGI
Penulis: Melki Pangaribuan 19:38 WIB | Senin, 07 Oktober 2019

Lantik Kardinal Suharyo, Bukti RI Dipercaya Paus Fransiskus

Duta Besar RI untuk Vatikan Agus Sriyono (kanan) berfoto bersama Kardinal Ignatius Suharyo (tengah) usai acara pelantikan di gereja Basilica St. Peter, Vatikan, Sabtu (5/10/2019). (ANTARA/HO/Dokumentasi Pribadi Agus Sriyono)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Pelantikan Uskup Agung Jakarta Mgr. Ignatius Suharyo sebagai Kardinal di Vatikan oleh Paus Fransiskus menunjukkan bahwa para tokoh agama Katolik di Indonesia dinilai mumpuni, kata  Duta Besar RI untuk Vatikan Agus Sriyono saat dihubungi ANTARA dari Jakarta, Senin (7/10).

Menurut Dubes Agus, Mgr. Ignatius Suharyo ​​​​​​​diangkat sebagai Kardinal di Vatikan karena dianggap mampu memberi masukan untuk Paus Fransiskus mengenai aspek kerukunan beragama dan toleransi mengingat Indonesia merupakan negara yang memiliki masyarakat majemuk dengan ragam agama dan keyakinan.

"Bagi saya, terpilihnya Mgr. Suharyo sebagai Kardinal menunjukkan kepercayaan Paus Fransiskus kepada Gereja Katolik Indonesia, sebagai negara yang memiliki keragaman etnis dan agama," kata Agus.

Dia mengatakan bahwa Mgr Suharyo yang telah resmi dilantik di gereja Basilica St. Peter pada 5 Oktober bersama 12 kardinal lain menjadi kebanggaan tidak hanya bagi umat Katolik di tanah air, tetapi juga seluruh warga Indonesia.

Pasalnya, Kardinal Ignatius Suharyo merupakan satu-satunya wakil asal Asia yang dipilih Paus Fransiskus untuk menjadi penasihatnya di Vatikan pada tahun ini.

Kebanggaan itu, menurut Agus, ditunjukkan melalui kehadiran Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan saat acara pelantikan Kardinal Suharyo di Vatikan.

Selain itu, ungkapan kebahagiaan dan rasa bangga juga tercermin dari aksi sejumlah warga Indonesia di Vatikan yang hadir pada acara pelantikan Kardinal Suharyo.

"Pada sore hari setelah pelantikan, puluhan suster, pastur, dan umat Katholik Indonesia yang hadir dalam pelantikan bersama-sama menyanyikan Indonesia Raya sambil membawa Bendera Merah Putih sebagai wujud semangat ke-Indonesia-an. Kami semua merasa bangga dengan terpilihnya Mgr. Suharyo sebagai Kardinal," kata Agus yang ikut hadir pada acara pelantikan, dilanjutkan dengan Misa Konselebrasi Paus Fransiskus dengan 13 Kardinal baru pada 6 Oktober.

Mgr. Ignatius Suharyo merupakan WNI ketiga yang dinobatkan sebagai kardinal di Vatikan setelah Uskup Agung Semarang Justinus Darmojuwono pada 1967 dan Uskup Agung Jakarta periode 1996-2010 Julius Riyadi Darmaatmadja pada 1994.

Kardinal merupakan gelar kehormatan yang melekat seumur hidup dan tidak dibatasi oleh wilayah kekuasaan sebagaimana jabatan keuskupan dan pastur paroki. Oleh karena itu, Mgr Ignatius Suharyo masih tetap akan bertugas sebagai Uskup Agung Jakarta, meskipun telah dilantik sebagai kardinal.

Ngegetih

Uskup Agung Jakarta Mgr. Ignatius Suharyo Sabtu lalu (5/10) dinobatkan menjadi salah seorang kardinal baru oleh Paus Fransiskus di Vatikan, Italia.

Diwawancarai VOA beberapa saat setelah dilantik, Ignatius Suharyo mengatakan banyak makna simbolik di balik penobatan itu. 

Bersama 12 kardinal lain, Mgr. Ignatius Suharyo mengikuti prosesi penobatan di Vatikan, Italia, Sabtu (5/10) lalu. Ia menerima cincin lambang ikatan kesetiaan yang tidak pernah putus.

Dalam amanatnya seusai penobatan itu, Paus Fransiskus menggarisbawahi kembali pentingnya kasih sayang. Mgr. Ignatius Suharyo dalam bahasa Jawa menyebutnya sebagai “pemberian pelayanan sepenuh hati.

“Atau dalam bahasa daerah saya ‘ngegetih’ atau ‘sungguh-sungguh’ atau habis-habisan pelayanannya. Ini tidak ada kaitannya dengan kekuasaan atau finansial,” ujarnya.

Diwawancarai melalui telepon beberapa saat setelah penobatan itu, pria kelahiran Bantul, Yogyakarta, 9 Juli 1950 itu mengatakan merasa sangat bersyukur dengan pengangkatan itu. Karena, kata Ignatius Suharyo, berarti pertama, pimpinan gereja Katolik mengakui bahwa gereja Katolik di Indonesia berkembang dengan baik dan bukan sekedar bertambah pengikutnya. Meski jumlah pengikut salah satu indikasi perkembanga, tapi bukan yang paling penting.

“Kedua, pengangkatan saya sebagai kardinal merupakan pengakuan dan dukungan pimpinan gereja Katholik atas semua yang diupayakan di NKRI, khususnya untuk hidup bersama secara harmonis diantara komunitas-komunitas lintas agama. Ini sangat dihargai,” tegasnya.

Gelar Seumur Hidup

Gelar kardinal akan melekat seumur hidup, tanpa “wilayah kekuasaan” seperti uskup atau pastur paroki. Ignatius Suharyo menjelaskan bahwa tugas pokoknya tetap Uskup Agung Jakarta Jakarta.

“Kardinal itu bukan fungsi. Bukan jabatan. Kardinal adalah gelar kehormatan. Perannya adalah sebagai penasehat Paus, jika diminta,” papar Ignatius Suharyo.

Meski bergelar kardinal, Ignatius Suharoyo menegaskan bahwa pemimpin Gereja Katolik di Indonesia tetap 37 uskup yang ada di Indonesia.

“Mereka otonom dan bertanggungjawab langsung kepada Paus,’’ ujarnya.

“Indonesia Raya” Usai Penobatan

Yang menarik selepas penobatan, sejumlah warga Indonesia, termasuk Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignatius Jonan, yang ikut menyaksikan prosesi luar biasa itu menyambut Ignatius Suharyo dengan lagu-lagu nasional, termasuk lagu kebangsaan “Indonesia Raya.”

Kata Ignatius Suharyo, warga Indonesia yang menghadiri penobatan kebanyakan adalah umatnya dari Jakarta.

“Kami di Keuskupan Agung Jakarta sejak tahun 2016 mencanangkan selama lima tahun ke depan pendampingan umat dengan rumus mengamalkan Pancasila. Di setiap tahun, sila-sila itu dipahami dan gagasannya didalami, dijadikan gerakan,” ujarnya.

Ditambahkannya, setiap kali berkumpul dan dalam kesempatan-kesempatan khusus, ia memulai hal yang tidak biasa, yaitu mengajak umat Katolik yang dilayaninya menyanyikan lagu-lagu nasional.
 

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home