Loading...
RELIGI
Penulis: Prasasta Widiadi 07:13 WIB | Selasa, 09 Februari 2016

LDII Sulsel Serukan Perangi Ajakan Radikalisme ke Generasi Muda

Ilustrasi: Ribuan umat Islam dari berbagai daerah menggelar Dzikir Nasional dan Manaqib bersama di Masjid Istiqlal Jalan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Sabtu (22/8) dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dan Hari Ulang Tahun ke-70 Republik Indonesia. Hadir dalam acara tersebut Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa dan Syekh Abdul Qodir Al Jaelani QS dalam memberikan sambutan dan ceramah. (Foto: Dok. satuharapan.com/Dedy Istanto).

MAKASSAR, SATUHARAPAN.COM – Ketua Lembaga Dakwah Islam Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan (LDII Sulsel), Hidayat Nahwi Rasul, mengemukakan pihaknya melakukan sosialisasi memerangi ajaran sesat berbau radikalisme yang diajarkan teroris dengan dalih berjihad pada generasi muda. 

“Kita bisa lihat berdasarkan pengalaman, rata-rata pelakunya usia muda antara 20-30-an tahun. Sengaja merekrut dan memberikan pemahaman salah kepada pemuda, karena usia dan pengalaman termasuk pemahaman agama apalagi sudah miskin akan mudah dipengaruhi,” kata Hidayat saat pertemuan LDII Kota Makassar bertemakan Pengembangan SDM yang Profesional, Religius, Mandiri, dan Bermartabat,  di Masjid Nurul Huda, Kelurahan Manuruki, Kota Makassar, pada hari Minggu (7/2).

“Penting juga memperkuat sisi ideologi kebangsaan serta LDDI mendorong pemuda agar lebih profesional religius untuk minimalisir adanya pengikut-pengikut baru dalam menebar teror,” dia menambahkan.

Hidayat menyebutkan penyebab terjadinya gerakan radikalisme salah satunya akibat kesejangan ekonomi dan kurangnnya pemahaman agama sehingga berani menjadi teroris.

“Tentu kemiskinan dan masalah ekonomi membuat pada pemuda terjebak dengan aliran yang berbau radikalisme seperti diiming-imingi gaji puluhan juta, namun mesti menjadi bagian dari terorisme," dia menambahkan.

Menurut dia, selain masalah ekonomi juga kurangnya pengetahuan pemuda tentang ideologi kebangsaan didukung serta pemahaman ajaran agama yang kuat.

Ia menambahkan tiga faktor tersebut membuat pemuda ikut dalam ajaran terorisme.

Pertama, kurang pengetahuan tentang ideologi kebangsaan. Hal ini membuat pemuda mudah dipengaruhi para pencari eksekutor dalam menjalankan aksinya menebar teror.

Kedua, kemungkinan kurang dan miskinnya pemahaman agama para pemuda sehingga doktrin atau ajaran secara radikal gampang diterima akal mereka namun tidak mempertimbangkan hati kecil apakah langkah itu benar atau salah.

Ketiga, lanjut Hidayat, adalah pelecut radikalisme atau ketidaktahuan pemuda tentang sejumlah hal penting di lingkungan sekitar mereka sehingga berani ikut bergabung, padahal ajaran tersebut membahayakan banyak orang. (Ant).

Editor : Sotyati


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home