Google+
Loading...
OLAHRAGA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 03:02 WIB | Senin, 09 Juli 2018

Le Blues Muda Menantang Generasi Emas Die Roten Teufel

Jelang Pertandingan 4-Besar : Belgia vs Prancis
Pemain Prancis Dmitri Payet (12) dalam pertandingan persahabatan antara Belgia melawan kesebelasan Prancis, 07 Jun 2015. (Foto: Skysports.com)

SATUHARAPAN.COM - Dua timnas dari zona Conmebol yang masih tersisa Uruguay dan Brasil, akhirnya terhenti langkahnya di babak 8-besar. Uruguay yang selalu bermain dengan terorganisir secara rapi di semua lini, menjadi mati kutu saat bertemu pasukan muda Le Blues dan menyerah 2 gol tanpa balas. Sementara tim Selecao yang mulai menemukan bentuk permainan terbaiknya dipaksa mengakui keunggulan Hazard dan kawan-kawan dengan skor 2-1.

Hingga pertandingan kelima yang dijalaninya kedua kesebelasan tampil atraktif dan menyerang. Kesebelasan Prancis dengan skuad mudanya tampil begitu energik saat mengalahkan Argentina dan Uruguay di fase gugur dengan permainan yang menyerang, dan berbeda ketika mereka tampil di fase grup yang cenderung lebih berhati-hati. Sementara Belgia menjadi kesebelasan yang paling adaptif mengubah gaya permainan menyerangnya menyesuaikan strategi yang diterapkan lawannya. Dalam dua pertandingan terakhir pelatih Roberto Martinez menerapkan strategi yang berbeda dan dapat dijalankan Hazard dan kawan-kawan dengan rapi.

Kedua kesebelasan sudah sering bertemu dalam berbagai laga. Sejak tahun 1904 tercatat keduanya bertemu sebanyak 73 pertandingan dengan 30 kemenangan Belgia sementara Prancis memenangi 24 laga. Terakhir bertemu pada sebuah laga persahabatan pada tahun 2015, Belgia memenangi laga dengan skor 4-3. Di ajang Piala Dunia kedua kesebelasan bertemu pada PD 1938 dan PD 1986 dimana pada pertemuan tersebut Prancis memenangi kedua laga.

Pelatih Prancis Deschamps sedang mengejar trofi kedua bagi Prancis setelah dua puluh tahun silam sebagai pemain, sementara bagi kesebelasan Belgia ini adalah pencapaian yang menyamai prestasi mereka pada PD 1986. Sama-sama lolos pada babak 4-besar PD 1986, ketika itu Prancis dikalahkan Jerman Barat sementara Belgia ditaklukkan oleh kesebelasan Argentina. Pada perebutan tempat ketiga, Jan Ceulemans dan kawan-kawan harus mengakui kemenangan Platini dan kawan-kawan dalam babak perpanjangan waktu.

Pada babak 4-besar pasukan muda Le Blues akan menghadapi Die Roten Teufel untuk berebut satu tiket ke partai puncak Piala Dunia 2018.

Le Blues Muda Melawan Permainan yang Adaptif

Dua laga terakhir yang dijalani skuad muda Le Blues berlangsung menarik. Gelandang Pogba-Kante menjadi motor bagi serangan dan pertahanan Prancis. Ketangguhan permainan keduanya seolah memanjakan barisan lini kedua Prancis Griezmann, Mbappe, Matuidi, Toliso melalui aliran bola yang lancar. Akibatnya Griezmann dan Mbappe begitu leluasa beroperasi di daerah pertahanan Argentina.

Trend tersebut berlanjut saat Pogba dan kawan-kawan bertemu dengan kesebelasan Uruguay dimana Gimenez, Godin, Laxalt harus bekerja keras mengamankan wilayah pertahanannya. Barisan gelandang senior-muda Prancis yang semakin padu tidak sekedar merepotkan Bentancur, Vecino, Nandez, namun mengunci permainan mereka yang terorganisir menjadi tidak berkembang. Dengan Pogba-Kante di sentral serangan dan pertahanan, Griezmann-Mbappe-Tolisso begitu leluasa beroperasi bahkan bertukar posisi. Dengan pemain-pemain muda, Prancis menyajikan permainan menyerang yang atraktif melalui pergerakan pemainnya maupun duel-duel keras.

Di antara empat semi finalis PD 2018, Belgia menjadi kesebelasan dengan permainan yang paling atraktif, adaptif, dan produktif yang diperlihatkan sejak fase grup G. Empat belas gol ke gawang lawan dalam lima laga menjadi gambaran bagaimana barisan gelandang-penyerang selalu terhubung sepanjang pertandingan.

Pertarungan dua ahli strategi di masing-masing kesebelasan akan mewarnai pertemuan Belgia melawan kesebelasan Prancis. Pertarungan strategi dan kejelian pelatih membaca dinamika pertandingan akan menentukan hasil akhir pertandingan. Dengan komposisi-materi pemain pada masing-masing kesebelasan, pertandingan Belgia melawan kesebelasan Prancis akan berlangsung ketat dalam tempo tinggi sejak menit awal.

Deschamps sebagai pengatur serangan saat masih aktif menjadi pemain telah mengantarkan Prancis meraih dua trofi: Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000. Sebagai pelatih, Deschamps membawa Prancis ke partai final Piala Eropa 2016. Deschamps tentu sangat paham seluk-beluk kekuatan dan kelemahan tim yang dibawanya. Dan sejauh ini Deschamps mampu membangun solidnya tim Prancis sejak kamar ganti. Tidak munculnya ego-ego masing pemain bintangnya serta pemain muda selama perhelatan Piala Dunia 2018 menjadi gambaran bagaimana Deschamps berhasil membangun kolektivitas tim sejak di luar lapangan.

Sementara Martinez sejauh ini menjadi pelatih Belgia dengan tingkat kemenangan mencapai 80 %. Di bawah kepelatihan Martinez, Belgia meraih 24 laga kemenangan dari total 30 laga. Dan membawa skuad generasi emas Belgia yang memiliki kekuatan yang hampir setara antara skuad inti dan pemain pelapis, bukanlah pekerjaan mudah bagi Martinez memilih starter pada setiap pertandingan.

Saat menghadapi Jepang di babak 16-besar Martinez menggunakan pola 3-4-2-1 dengan de Bruyne dan Witsel sebagai motor di lapangan tengah, sementara pada saat menghadapi Brasil, Martinez mengubah pola menjadi 3-4-3 dengan menempatkan Hazard-De Bruyne-Lukaku di lini depan sementara lapangan tengah dipercayakan kepada Witsel-Fellaini. Perubahan formasi tersebut menyesuaikan strategi lawan dan pemain Belgia sejauh ini dengan cepat merespon adaptasi strategi Martinez. Hasilnya, saat ketinggalan 2 gol dari Jepang Belgia tetap bisa mengejar dan membalikkan keadaan dengan tiga gol balasan ke gawang Kawashima dalam dua puluh lima menit.

Ketika menghadapi Brasil, dengan menempatkan Hazard-De Bruyne-Lukaku di lini depan Martinez seolah membuat perjudian dengan mendorong De Bruyne menjadi penyerang tengah, posisi yang jarang ditempati De Bruyne sebagai pengatur serangan. Dalam formasi tersebut justru ketiganya menjadi trisula yang menakutkan manakala ketiganya bisa saling bertukar posisi. Satu penyerang melalui pergerakan dengan bola yang cepat saja sudah cukup merepotkan barisan pertahanan manapun, dan Belgia memiliki tiga sekaligus yang bisa saling bertukar posisi. Beruntung penjaga gawang Brasil Allison hanya kebobolan dua gol menghadapi strategi Martinez saat itu. Meski begitu, sektor pertahanan Belgia masih menyisakan celah yang bisa ditembus Griezmann-Mbappe. Dua gol Jepang berawal dari lambatnya Vermaelen- Vertonghen menutup pergerakan Kagawa dan Shibasaki.

Menghadapi Prancis yang masih akan mengandalkan Pogba-Kante sebagai motor permainan, pilihan terbaik bagi Martinez adalah mengembalikan pada formasi awal 3-4-3 dengan menampatkan empat gelandang Meunier, Witsel, De Bruyne, Carrasco. Dengan formasi tersebut akan terjadi pertarungan dua pemain sayap Meunier dan Carrasco melawan Tolisso-Griezmann-Mbappe.

Sekali lagi, partai semi final akan menjadi ujian bagi Mbappe menunjukkan kedewasaan permainannya setelah pada laga melawan Uruguay sempat melakukan aksi diving yang merugikan dirinya. Kekuatan Mbappe adalah saat dirinya tampil dingin-bersahaja. Dengan kemampuan berlari membawa bola yang cepat, pemain belakang manapun harus ekstra hati-hati menjaga pergerakannya. Dengan tampil dingin Mbappe justru akan menguntungkan bagi pergerakan Griezmann. Dua gol ke gawang Argentina menjadi bukti bagaimana Mbappe mampu menembus kokohnya pertahanan Tagliafico-Rojo-Ottamendi dalam pergerakan yang mengagumkan.

Yang harus diwaspadai pemain belakang Prancis adalah pergerakan trisula Belgia Hazard-De Bruyne-Lukaku yang kerap bertukar posisi manakala menemui kebuntuan dalam membongkar pertahanan lawan. Selagi pemain belakang Hernandez, Umtiti, Varane, Pavard cukup disiplin mengamankan wilayah pertahanannya gawang Lloris relatif lebih aman.

Pertandingan babak 4-besar antara Belgia melawan kesebelasan Prancis akan berlangsung pada Selasa (10/7) di Stadion Krestovsky, St. Petersburg.

Perkiraan susunan pemain:

Belgia (3-4-3) : Courtois (gk), Alderweireld, Vermaelen, Vertonghen, Meunier, Witsel, De Bruyne, Carrasco, Hazard, Lukaku, Mertens/Batshuayi. | pelatih: Roberto Martínez

Perancis (4-2-3-1) : Lloris (gk), Hernandez, Umtiti, Varane, Pavard, Toliso, Kante, Pogba, Griezmann, Mbappe, Dembele. | pelatih: Didier  Deschamps

 

Back to Home