Google+
Loading...
OPINI
Penulis: Cordelia Gunawan 09:09 WIB | Minggu, 03 Juni 2018

“Lima”

Cordelia Gunawan.

SATUHARAPAN.COM – Saya mencuri waktu menyempatkan diri untuk menonton Lima. Gedung bioskop penuh sesak, alhasil saya pun kebagian nonton di kursi terdepan.

Kisah demi kisah teruntai dengan indah, dan persoalan demi persoalan yang dekat dengan kehidupan kita muncul satu demi satu. Hati ini tergetar tidak hanya saat mendengar lagu Kekuatan serta Penghiburan, namun juga ketika mendengar lantunan Yasin.

Tersentuh ketika mendengar kalimat, “Saya dan dan Mbak sama-sama lahir dari rahim Ibu, mengapa sekarang Mbak halal dan saya haram?”

Terangkai kalimat baru di benak, “Kamu dan saya sama-sama lahir di Bumi Pertiwi. Hidup dari perut Ibu Pertiwi. Bernapas menghirup udara yang sama. Namun, mengapa saya dianggap haram dan kalian halal?” Film itu begitu menghanyutkan.

Terkesima melihat bagaimana Mbak Fara bersikeras menentukan kontingen ke ASEAN Games berdasarkan prestasi, sekalipun pemenangnya bukan Putra Bangsa, bukan pribumi. Demikian pula adegan Fara mempertahankan pendapatnya mengenai pribumi. Membuat sedih teringat keadaan itulah yang sering dialami oleh mereka yang lahir sebagai Tionghoa Indonesia. Namun, membuat terhibur juga mengingat bangsa kita pasti lambat laun berubah.

Idealisme yang sering kali dijual demi pangkat, jabatan, uang, begitu dipertahankan dalam film Lima ini. Film ini juga menyajikan harapan. Bangsa kita pasti akan berubah. Jangan remehkan anak muda zaman sekarang. Anak muda Indonesia punya idealisme. Anak muda zaman sekarang tidak mau lagi terpenjara dalam agama, dalam warna kulit, suku bangsa.

Tidak! Anak muda sekarang adalah mereka yang berpihak pada kemanusiaan.

Nilai-nilai yang Masih Relevan

Lima sila Pancasila dikemas sedemikian apik dalam film Lima, dengan sutradara Lola Amaria. Kelima sila itu ternyata mengandung nilai-nilai yang masih relevan untuk diperjuangkan sampai saat ini. Menyedihkan sekali jika Pancasila dianggap terlalu usang untuk bangsa kita. Memprihatinkan melihat mungkin banyak anak yang tidak mampu lagi memahami apalagi menghidupi Pancasila. Justru Pancasila menolak radikalisme, di dalam Pancasila kemanusiaan mendapat tempat terutama.

Film Lima ini bahkan tidak beredar di seluruh bioskop. Hanya beredar di bioskop tertentu. Itu pun tidak di semua studio, hanya di satu studio. Tidak lama seperti film box office Hollywood. Mungkin hanya beberapa hari.

Mungkin film ini dianggap tidak menguntungkan seperti film lain. Padahal, film ini adalah tentang kita. Film ini adalah hasil karya anak bangsa. Film ini bicara tentang kita, bukan tentang orang lain.

Melihat film ini seolah melihat diri kita, sebagai pemeran utama di sana. Film ini layak ditonton dan paling tidak film ini mengajak kita kembali menyadari tentang Pancasila.

Mari sirami bumi Indonesia dengan tindakan kebajikan yang tersimpan dalam Pancasila.

Saya Indonesia. Saya Pancasila.

Editor : Sotyati

Back to Home