Google+
Loading...
SAINS
Penulis: Reporter Satuharapan 01:32 WIB | Rabu, 09 Oktober 2019

LIPI: Spesies Baru Terancam Punah Karena Tekanan Lingkungan

Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menunjukkan spesies baru burung Myzomela prawiradilagae di Laboratorium Gedung Widyasatwaloka, LIPI Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (8/10/2019). (Foto: Antara/Arif Firmansyah)

BOGOR, SATUHARAPAN.COM - Kepala Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Cahyo Ramadi mengatakan spesies baru endemik terancam punah karena tekanan lingkungan yang menyebabkan perubahan dan kehilangan habitat.

"Setiap jenis baru yang ditemukan sudah mengindikasikan status menghadapi potensi keterancaman kepunahan," kata Cahyo dalam pertemuan dengan awak media di Pusat Penelitian LIPI di Cibinong, Jawa Barat, Selasa (8/10).

Spesies baru endemik ini memiliki habitat yang spesifik dan ternyata bagi spesies yang habitatnya tidak luas seperti burung Myzomela prawiradilagae, yang merupakan satwa endemik burung di Indonesia, yang ditemukan di Pulau Alor, Nusa Tenggara Timur, menyebabkan spesies burung ini bisa menghadapi keterancaman kepunahan, jika tidak ada upaya penyelamatan dan konservasi.

LIPI baru mengumumkan ditemukannya enam spesies baru, yakni satu katak yang diberi nama katak tanduk Kalimantan (Megophrys kalimantanensis), tiga spesies baru kodok wayang dari hutan dataran tinggi Sumatera, satu cicak-batu Gunung Muria dari Jawa, serta satu burung jenis baru yakni Myzomela prawiradilagae.

Sebaran burung ini terbatas pada ketinggian 1.000 meter ke atas dengan preferensi hutan Eucalyptus. Terhadap tingkat keterancaman kepunahan, Peneliti LIPI merekomendasikan tiga spesies kodok baru berstatus critically endangered, katak spesies baru itu berstatus vulnerable, burung jenis baru itu berstatus endangered.

Cahyo menuturkan kemungkinan besar banyak satwa belum tereksplorasi atau terungkap tapi sudah punah duluan ketika Indonesia mengalami banyak tekanan lingkungan seperti konversi lahan dari hutan ke perkebunan sawit serta kebakaran hutan dan lahan.

Dia menuturkan jika tidak ada upaya penyelamatan yang komprehensif dan berkelanjutan maka spesies baru dapat mengalami kepunahan, tidak saja karena bencana alam seperti gunung meletus tapi juga faktor lain yang kebanyakan akibat ulah manusia.

"Indonesia masih punya banyak spesies yang belum banyak diungkap dan itu masih banyak tersimpan di hutan yang belum banyak disentuh," ujarnya.

Spesies terancam punah karena perubahan atau alih fungsi lahan, ekploitasi keanekaragaman hayati dengan perburuan liar, perubahan iklim, polusi dan spesies invasif.

Peneliti bidang ornitologi Pusat Penelitian Biologi LIPI Mohamad Irham mengatakan Myzomela yang baru ditemukan di Pulau Alor diperkirakan memiliki habitat hanya seluas 120 kilometer persegi. Sementara wilayah itu bukan tergolong daerah lindung atau konservasi.

"Kita punya daerah yang sangat luas dan masih belum banyak yang dieksplorasi untuk keanekaragaman hayatinya," kata peneliti Muhamad Irham.

Dia menuturkan yang perlu dikhawatirkan adalah hilangnya spesies di populasi lokal. Sebagai contoh burung murai batu masih banyak ditemukan di negara lain seperti India dan Pakistan karena di sana warganya tidak tertarik mengkoleksi burung itu sebagai hobi. Sementara, peminat burung jenis itu di Asia Tenggara banyak sekali sehingga bisa menjadi ancaman bagi keberadaan spesies itu.

"Jangan-jangan populasi lokal di Indonesia sudah banyak berkurang, atau populasi di Jawa sendiri bisa punah anak jenisnya karena peminat tinggi untuk memelihara burung," ujarnya.

Perubahan habitat juga mempengaruhi keberlangsungan hidup spesies. Habitat dapat berubah karena campur tangan manusia yang merusaknya, alih fungsi lahan dan perubahan iklim. Amfibi rentan terganggu karena ada siklus hidup di air maupun darat. Jika satu siklus hidup terganggu misalnya karena kualitas air berubah asam atau tercemar maka amfibi paling rentan terdampak. Amfibi juga terancam dengan penyakit seperti jamur kulit. 

Irham mengatakan jenis kura-kura leher ular rote menuju kepunahan karena tidak ada lagi hidup di alam bebas di habitatnya di Pulau Rote. Saat ini kura-kura jenis ini hanya dapat ditemukan di daerah penangkaran sebagai upaya untuk mempertahankan keberadaan spesies ini. Sementara harimau Jawa dan harimau Bali telah mengalami kepunahan.

Peneliti Amir Hamidy menuturkan tiga spesies baru kodok wayang akan diajukan dengan status critically endangered terhadap tingkat keterancaman kepunahan. Tiga spesies baru kodok ini memiliki habitat di dataran tinggi saja di pegunungan Sumatra yang sangat rentan terhadap bencana alam seperti gunung berapi. Untuk itu, perlu ada upaya konservasi untuk menjaga habitat dan keberlangsungan hidup spesies ini.

 

Targetkan Temuan 50 Jenis Baru Kekayaan Hayati Sepanjang 2019

LIPI menargetkan penemuan hingga 50 jenis baru kekayaan hayati sepanjang 2019, sedangkan sejak Januari hingga awal Oktober tahun ini tercatat 33 jenis baru yang ditemukan lembaga itu.

"Sampai bulan Oktober 2019, sudah ada 33 jenis baru. Saya yakin dua bulan ke depan akan ada temuan terbaru lagi," kata Cahyo Ramadi.

Dengan bertambahnya 33 jenis baru fauna tersebut, maka ada total 519 spesies yang telah ditemukan LIPI hingga saat ini. Sebanyak 513 spesies baru itu, terdiri atas 52 mamalia, enam burung, 82 ikan, 71 krustasea, 80 moluska dan invertebrata lain, serta 150 serangga dan arthropoda lain.

Sementara itu, enam spesies baru lain diumumkan awal Oktober 2019, yakni katak tanduk Kalimantan, tiga spesies baru kodok wayang, cicak batu Gunung Muria, dan burung Myzomela prawiradilagae.

"Target 50 ini menggugah kita bahwa Indonesia mempunyai kekayaan hayati yang belum banyak dieksplorasi," ujar Cahyo.

Pada periode 2015-2019, jenis yang paling banyak adalah kelompok udang, moluska, ikan, reptil, amfibi, dan burung. Saat ini, sudah ada 1.772 jenis burung di Indonesia. Ada 3.500 anak jenis burung di Indonesia, dan ada kemungkinan anak jenis akan bertambah.

Menurut Cahyo, penemuan spesies baru itu bukan sebagai euforia untuk eksploitasi tetapi menunjukkan bahwa Indonesia mempunyai potensi keanekaragaman hayati dan adanya potensi kepunahan yang harus diantisipasi.

Cahyo menuturkan karena Indonesia merupakan negara yang luas dan kaya akan keanekaragaman hayati, maka perlu sumber daya manusia dan fasilitas yang mendukung kegiatan eksplorasi.

Untuk itu, ujar dia, diperlukan peneliti bidang taksonomi dalam upaya mengklasifikasikan dan mengidentifikasikan spesies tersebut. (antaranews.com)

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home