Google+
Loading...
OPINI
Penulis: Martin Lukito Sinaga 23:30 WIB | Rabu, 04 September 2019

Literasi Teologis: Agar umat Beriman Tidak Merasa Dinista

Literasi teologis muncul dalam praktik hidup yang nyata, dalam kehidupan sehari-hari umat beragama saat mereka menghadapi soal-soal praktis, dan mengaitkannya dengan iman, tetapi juga mau diperkaya oleh serat terbaik budaya masa kininya, di hadapan soal-soal seputar sehari-hari manusia.
Foto: istimewa

SATUHARAPAN.COM – Akhir-akhir ini suasana hidup beragama di Indonesia membuat perasaan kita jadi campur aduk, terkesima namun cemas: ada kebangkitan yang disebut dengan hidup-baru atau hijrah, tetapi ada juga sikap ataupun percakapan dalam agama yang terkesan menghina atau pun menista pihak lain.

Kita bisa menduga bahwa telah tumbuh gairah dalam hidup beragama, dan menurut saya hal itu antara lain sebagai meningkatnya kefasihan dalam wacana beragama. Umat kini lebih aktif membaca Kitab Sucinya, sehingga lebih sering bertukar atau pun berbeda pendapat dengan mengutip ayat-ayat Kitab Suci. Bahkan di dunia daring ataupun medsos, debat menyangkut ajaran agama pun marak berseliweran dan berbenturan satu dengan lainnya.

Kefasihan berwacana agama tadi memang punya pendorongnya, siaran-siaran TV yang berisi ceramah-ceramah agama telah berlangsung puluhan tahun di negeri ini. Radio-radio penuh khotbah dan wejangan telah pula menjadi teman para pelaju di jalanan yang macet. Toko-toko buku menjual buku-buku agama dengan pajangan yang berlapis-lapis, sebab isu agama jauh lebih diminati dibanding buku filsafat ataupun pemikiran sosial dan sains. Dan tentu saja, di kantor-kantor pemerintahan dan swasta selalu ada jam ibadah dan kotbah setiap minggunya.

Perasaan campur aduk atas percakapan di dalam dan antaragama ini tampaknya akan terus mengikuti masyarakat kita, dan bisa dibayangkan ekses kefasihan berwacana yang membuat perasaan terhina akan masih terus kita hadapi di masa depan. Menurut saya hal ini karena kefasihan dalam wacana agama kita belum cukup diiringi dengan literasi teologis.

 

Literasi Teologis

Di dunia pendidikan dan kebudayaan Indonesia telah bermunculan banyak gerakan literasi berskala nasional. Istilah ini antara lain hendak menegaskan bahwa keberaksaraan saja belum cukup. Bebas buta huruf dan bisa baca-tulis harus dilanjutkan dengan kecakapan memahami teks bahkan mencerna dan menerapkannya di berbagai media agar potensi diri bisa berkembang, bahkan ke arah menjadikan literasi teks itu sebentuk profesi.

Ada juga misalnya gerakan literasi sains. Hasil test PISA (Programme for International Students Assessment) mencatat bahwa kemampuan literasi sains siswa Indonesia dari hasil studi internasional pada 2006 berada pada peringkat ke-50 dari 57 negara. Skor rata-rata sains yang diperoleh siswa Indonesia adalah 393. Skor rata-rata tertinggi dicapai oleh Finlandia (563) dan terendah dicapai oleh Kyrgyzstan (322). Kemampuan literasi sains rata-rata siswa Indonesia dicatat setara dengan kemampuan literasi sains siswa dari Argentina, Brazil, Colombia, Tunisia, dan Azerbaijan.

Atas fakta ini, didoronglah dengan lebih sistematis lagi literasi sains di negeri kita, agar pengetahuan dan kecakapan ilmiah berkembang. Hal itu berarti tersedianya kemampuan untuk mengidentifikasi pertanyaan, memperoleh pengetahuan baru, menjelaskan fenomena ilmiah, serta mengambil simpulan berdasar fakta. Siswa pun dibayangkan dapat memahami karakteristik sains, juga bersikap ilmiah serta kemauan untuk terlibat dan peduli terhadap isu-isu di masyarakat yang terkait sains.

Lalu, bagaimana dengan literasi teologis?

Literasi teologis ialah kemampuan yang memadai untuk mengartikulasi pokok-pokok kepercayaan agama tertentu, yang selanjutnya membuat seseorang atau umat berpikir dan bertindak teologis (to think & act theologically) dalam menghadapi tantangan kontekstual yang dihadapinya.

Dalam buku suntingan Rodney L. Peterson, Theological Literacy for the Twenty-First Century (2002) dicatat: ”one needs to think with the doctrine we have, to put the pieces of the puzzle together, to practice, to live out the story, and to teach what faith is, and how to reform our practice dan translate the process again”.

Dari rumusan di atas tampaklah bahwa ada dua atau tiga kemampuan yang perlu tersedia bagi setiap orang yang dapat dianggap sudah cakap dalam hal teologis: selain mampu mengidentifikasi konten kepustakaan klasik agamanya, ia juga mampu mengartikulasikannya dalam konteks dan kebutuhan masa kininya. Seseorang perlu tahu teks dasar agamanya, ajaran agamanya yang berkembang di sepanjang jaman, namun juga mampu menghubungkan atau mendialogkannya dengan realitas kontekstualnya yang baru sama sekali.

Literasi teologis berarti adanya kemampuan mengartikulasi teks klasik agama tersebut, lalu secara sistematis menjelaskannya dan menghubungkannya di tengah konteks sosio-kultural masa kini, agar secara praktis dapat mengungkapkan hal itu dalam aktifitas hidup sehari-hari umat percaya. 

Sehingga kita akan menemukan betapa literasi teologi itu lebih dari sekadar kefasihan mengulang atau mereproduksi wacana atau pun kepustakaan agama. Untuk mengambil contoh dalam hal agama Kisten, maka yang muncul dari literasi teologis ialah adanya kecakapan yang lebih dari sekadar kefasihan menjelaskan doktrin: seseorang dapat mengetahui tentang sejarah doktrin kekristenan, tetapi tanpa mampu berpikir teologis.

Literasi teologis lebih dari sekadar kefasihan mengenal ayat-ayat Alkitab: di banyak tempat di dunia, Alkitab dan teologi cenderung disamakan. Mereka yang sangat meyakini bahwa teologi hanya terdiri atas membaca dan menafsirkan Alkitab, sering juga akhirnya memaksakan pendapat dengan mengutip ayat-ayat yang bersesuaian. Bahkan literasi teologis lebih dari sekadar berbagi pengalaman rohani. Meskipun pengalaman mistik penting dalam beragama, literasi teologis sesungguhnya menunjuk pada apa yang lebih daripada (pengalaman) diri kita sendiri.

Literasi teologi kiranya membuat agama dan umat beriman menemukan bahwa soal mengartikulasi wacana agama lebih dari kefasihan mengulangi apa yang tertulis di teks suci, tetapi kemampuan mengenali bahwa literasi teologis hidup antara teks dan konteks, antara tradisi yang diwariskan oleh mereka yang pernah ada sebelum kita dengan buku yang masih akan kita tulis untuk zaman kiwari ini. Literasi teologis adalah aktivitas intelektual-spiritual yang menolong agama untuk hidup secara kreatif dan setia, di hadapan situasi keduniawiannya, dan dengan sumber-sumber partikularnya.

Sehingga kecakapan literasi teologis akan memberikan tidak hanya suatu pandangan intelektual yang bernalar akan teks iman, tetapi dorongan akan sebentuk hidup dan oleh karena itu hal terbaik yang dapat dilakukan adalah pencarian akan cara hidup yang seturut dengan perspektif agama itu namun yang juga relevan bagi kehidupan masa kini.

Literasi teologis muncul dalam praktik hidup yang nyata, dalam kehidupan sehari-hari umat beragama saat mereka menghadapi soal-soal praktis, dan mengaitkannya dengan iman, tetapi juga mau diperkaya oleh serat terbaik budaya masa kininya, di hadapan soal-soal seputar sehari-hari manusia.

Tak perlu lagi arah menista atau pun membenturkan teks ataupun ajaran agama yang satu atas lainnya, sebab ikhtiar beragama atau beriman akan dipandu oleh kecakapan atau pun literasi teologis di atas: mengartikulasi warisan rohani agamanya untuk menjawab, dan bahkan, mentransformasi realitas sehari-hari yang dihadapi umat senyata-nyatanya.

Editor : Yoel M Indrasmoro

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home