Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 12:50 WIB | Minggu, 08 Oktober 2017

Lukisan Leo Kristi Dipamerkan

Pameran lukisan Leo Kristi bertajuk "Biru Emas Ibu Negeri" di Sangkring art project Jalan Nitiprayan No 88, Ngestiharjo, Kasihan - Bantul, 7-21 Oktober 2017. (Foto-foto- Moh. Jauhar al-Hakimi)

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Sembilan belas lukisan yang terdiri tujuh belas lukisan tunggal dan satu lukisan panel karya mendiang musikus balad troubador Leo Imam Soekarno yang lebih dikenal dengan nama Leo Kristi dipamerkan di Sangkring art space bertajuk "Biru Emas Ibu Negeri".

Sembilan belas lukisan abstrak menjadi penanda perjalanan Leo Kristi dalam berkesenian lintas disiplin ilmu seni. Terakhir Leo Kristi berpameran tunggal di Bentara Budaya Jakarta 1 Desember 2016 dalam Musik Kamisan.

Kecintaan Leo Kristi pada tanah air lebih banyak dituangkan dalam karya musiknya meskipun sesungguhnya bakat Leo Kristi dalam menggambar-melukis telah terlihat sejak SMA mengantarkan dirinya masuk pada jurusan arsitektur Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya. Pilihan bermusik lebih besar dibanding menggambar dengan membentuk grup musik Lemon Trees bersama Gombloh dan Franky Sahilatua pada tahun 1969.

Bersama Naniel Yakin, Mung Sriwiyana, serta kakak beradik Lita Jonathans dan Jilly Jonathans, Leo Kristi membentuk grup musik dengan nama "Konser Rakyat Leo Kristi" (KRLK).  Hingga saat ini penggemar Leo Kristi yang tergabung dalam Lkers melintasi generasi, sejak angkatan 70-an hingga angkatan 2000-an, demikian solid dan seperti sebuah keluarga besar.

Meskipun terlahir di kalangan menengah, masa kecil Leo lebih banyak dihabiskan dengan anak-anak kampung di dekat rumahnya. Di sanalah Leo kerap bernyanyi bersama, sambil memainkan kecrekan yang terbuat dari tutup botol. Leo kecil juga sering ikut ibunya berbelanja ke pasar hanya untuk menikmati suara-suara orang melakukan tawar-menawar dan suasana pasar itu sendiri. Dari sini tumbuh kecintaan Leo pada rakyat kecil serta kecintaan untuk selalu dekat dengan apa yang dirasakan rakyat. di wujudkan dalam grup musik KRLK.

Dalam tulisannya, antropolog Kris Budiman  menjelaskan bahwa di dalam karya-karya Leo Kristi dapat disimak jalinan erat diantara musik dan visualitas. Leo Kristi melukis melalui bunyi-bunyi musikal dan rangkaian kata-kata puitis. Citraan-citraan visual tersebut kerap muncul dalam karya syair lagunya.

Dalam meresapi suka duka rakyat yang mungkin dapat membuat mereka lebih bahagia di masa depan, selain dengan musik Leo merekamnya dalam lukisan. Lukisan berjudul “Lumpur di Kampung Halamanku” yang menjadi representasi bencana lumpur di Sidoarjo dirasakan sangat mendalam.

Pameran lukisan Leo Kristi bertajuk "Biru Emas Ibu Negeri" yang dibuka pada Sabtu (7/10) malam akan berlangsung hingga 21 Oktober 2017 di Sangkring art project Jalan Nitiprayan No 88, Ngestiharjo, Kasihan - Bantul.

 

Back to Home