Google+
Loading...
RELIGI
Penulis: Dewasasri M Wardani 09:41 WIB | Kamis, 22 November 2018

Lukman Hakim Saifuddin Menyayangkan Maraknya Tebar Kebencian

Ilustrasi. Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin ketika memberikan kata pembuka dan sambutan saat Deklarasi Revolusi Mental dimulai dari pendidikan di Lapangan Hall Basket, Senayan, Jakarta. (Foto: Antaranews.com/M Agung Rajasa).

BOGOR, SATUHARAPAN.COM – Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin, menyayangkan maraknya fenomena tebar kebencian yang merasuk ke sebagian warga di Indonesia.

"Patut disayangkan adanya fenomena tebar kebencian kini justru mulai mendera dan merasuk ke dalam tubuh sebagian saudara kita dengan berbagai kemasan," katanya dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Istana Bogor, Rabu (21/11) malam.

Ia menyebutkan, tebar kebencian itu ada kalanya berbungkus agama,  politik, ras, suku, dan lain sebagainya. 

"Tidak jarang kebencian berlabelkan agama ditebar melalui mimbar keagamaan, melalui suara keras para pengkhotbah yang penuh kecaman murka dan ungkapan marah,” katanya.

Menurutnya, mimbar keagamaan telah beralih dari semula sebagai tempat menyebarkan pesan kedamaian menjadi media tebar kebencian, terutama kepada mereka yang berbeda paham keagamaan atau keyakinan.

Pada awal sambutannya, Menag mengatakan memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW pada hakikatnya merupakan ikhtiar ekspresi rasa syukur, gembira, dan cinta, karena jasa besar Sang Nabi untuk manusia dan kemanusiaan.

Rasa cinta akan memberikan energi positif, untuk mengikuti jejak langkah orang yang dicintai. Cinta itu pula yang akan meleburkan pencinta dan yang dicinta dalam kebersamaan.

Ia menyebutkan, banyak ahli mengkaji salah satu kunci kesuskesan dakwah Nabi Muhammad adalah kepemimpinannya yang berlandasakan cinta kepada sesama, penuh kasih sayang dan lemah lembut dalam bingkai semangat persudaraan.

Sifat lembut, lanjut dia, bukan pertanda lemah, justru di situ tersimpan kekuatan. Sifat lemah lembut melahirkan simpati sehingga orang akan mendekat dan merapat kepadanya.

Sifat lembah lembut dan kasih sayang Nabi menjadi magnet bagi banyak orang. Kepemimpinan Rasullah SAW memberikan keteladanan bahwa pemimpin penuh kasih dan kelembutan akan melebur bersama rakyatnya dan menjadi besar dan kuat.

Menag, kemudian mengajak hadirin merenungkan seorang  muslimah yang dikisahkan Rasullah SAW akan masuk neraka karena mengurung seekor kucing, dan tidak memberinya makan sampai mati dalam kandang.

Sebaliknya, seorang wanita nakal dikisahkan masuk surga setelah diampuni Allah berkat rasa iba karena rasa sayang dalam dirinya, sehingga dia mau memberi minum seekor anjing yang kehausan.

"Rasa kebinatangan saja bisa mengantarkan seseorang masuk ke surge, apalagi rasa kemanusiaan sebagaimana diteladankan oleh Rasullah SAW," katanya. (Antaranews.com)

Editor : Sotyati

Zuri Hotel
Back to Home