Google+
Loading...
SAINS
Penulis: Sotyati 09:35 WIB | Rabu, 14 Agustus 2019

Lusiawati Dewi dan Mimpi Besarnya tentang Tempe

Lusiawati Dewi dan Mimpi Besarnya tentang Tempe
Lusiawati Dewi, Dekan Fakultas Biologi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga menerima penghargaan sebagai Tokoh atau Pegiat Pembangunan dan Masyarakat Berprestasi 2019. Penghargaan disampaikan Wali Kota Salatiga H Yuliyanto SE MM, di Lapangan Pancasila, Salatiga, 24 Juli 2019. (Foto: uksw.edu)
Lusiawati Dewi dan Mimpi Besarnya tentang Tempe
Lusiawati Dewi, dosen Fakultas Biologi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) menunjukkan inovasi makanan tempe ikan (TeKan) di Laboratorium Biologi, Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, 9 November 2018. (Foto: Antara Foto/Aloysius Jarot Nugroho)

SATUHARAPAN.COM – Lusiawati Dewi jatuh cinta pada tempe. Ia menekuni pangan fermentasi sejak tahun 2005, kemudian memfokuskan diri pada penelitian tempe, yang mengantarnya meraih berbagai prestasi.

Ketekunannya berinovasi melahirkan makanan tempe ikan, TeKan, yang memiliki kandungan asam amino lebih lengkap, karena mengandung kombinasi protein nabati dan protein hewani. Ia berharap TeKan dapat menjadi inovasi dalam bidang ketahanan pangan dan kewirausahaan mandiri.

Dra Lusiawati Dewi MSc adalah dosen, juga Dekan/Direktur Program Fakultas Biologi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga. Tidak sekadar mengemban tugas mendidik generasi penerus bangsa, sebagai dosen ia juga dituntut untuk melaksanakan dua bagian penting lain dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni melakukan penelitian serta pengabdian kepada masyarakat. Di tengah padatnya aktivitas pengajaran, ia aktif mendampingi perajin tempe dan membina mereka.

Karya bakti itu mengantar Lusiawati Dewi menerima penghargaan. Bertepatan dengan Upacara Peringatan Hari Jadi ke-1269 Kota Salatiga, pada 24 Juli 2019 pagi lalu, Badan Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bapelitbangda) Kota Salatiga, memilih Lusiawati, bersama Dr Ir Royke R Siahainenia MSi, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi (Fiskom) UKSW, sebagai Tokoh atau Pegiat Pembangunan dan Masyarakat Berprestasi 2019. Penghargaan disampaikan Wali Kota Salatiga H Yuliyanto SE MM, di Lapangan Pancasila, Salatiga.

“Saya mulai penelitian dengan tempe sejak tahun 2005. Awalnya, secara umum  saya meneliti untuk pangan fermentasi, kemudian memfokuskan untuk tempe,” kata Lusi, menjawab pertanyaan Satuharapan.com melalui surel, penggal awal Agustus lalu, tentang awal mula keterlibatannya dengan tempe.

Hingga saat ini ia sudah mengantongi hak paten untuk tempe ikan, fermentasi tempe yang ditambah ikan sebagai kombinasi dari protein hewani, karya inovasinya. “Akan saya susul dengan paten yang lain-lain untuk produk inovasi varian tempe yang lain. Yang intinya, saya ingin membuat tempe sebagai pangan fungsional atau tempe yang lebih nilainya untuk kebutuhan kesehatan,” ia menambahkan.

Kepeduliannya pada tempe juga mengantar Lusiawati didapuk menjadi sekretaris Forum Tempe Indonesia Jawa Tengah masa bakti 2019 – 2023. Dalam seminar nasional “Tempe sebagai Warisan Budaya Indonesia” yang diselenggarakan Fakultas Biologi UKSW, di Balairung Universitas, pada 27 Juli lalu, ia mengemukakan tempe, salah satu pangan fungsional sekaligus fermentasi asli Indonesia, tengah didaftarkan untuk memperoleh pengakuan dunia melalui UNESCO sebagai salah satu warisan budaya Indonesia.

Ia sangat berharap ke depan masyarakat lebih peduli pada tempe yang merupakan warisan budaya nenek moyang. Kepedulian itu yang membuatnya tidak segan mendampingi perajin tempe. “Fokus saya memberikan perubahan pola pikir, membenahi pengolahan dan inovasi produk tempe menjadi penting, agar tempe sebagai makanan fermentasi asli Indonesia masih bisa tetap eksis, tidak tergerus impor tempe suatu saat,” Lusiawati menjelaskan.

Dari survei umum dan perbincangan dengan perajin tempe di Salatiga, ia menggambarkan, pada umumnya mereka membuat tempe masih jauh dari standar mutu SNI, Standar Nasional Indonesia (satu-satunya standar yang berlaku secara nasional di Indonesia yang dirumuskan oleh Komite Teknis Perumusan SNI dan ditetapkan oleh BSN, Red). “Tetapi mereka bersedia berubah, hanya terkendala di biaya untuk membenahi infrastruktur pabrik dan alat-alat,” katanya.

Riset untuk Studi S3

Di luar aktivitas penelitian, sebagai dekan, Lusiawati menegaskan tekadnya mempertahankan mutu fakultas yang dipimpinnya yang sudah mengantongo akreditasi A. Ia mencontohkan adanya terobosan baru dengan adanya bidang konsentrasi baru, yakni Bio Entrepreuner. “Dan tempe sebagai salah satu bisa sebagai objek dalam konsentrasi ini, yang akan diikuti produk lain seperti pembibitan jamur, pupuk organik cair, minuman herbal, dan lain-lain,” katanya.

“Untuk bidang pendidikan biologi, akan mengarah pada pembuatan media pembelajaran yang berbasis materi lokal, atas keragaman asal mahasiswa, yang dapat memberikan bekal kepada mahasiswa untuk bisa bekerja sendiri jika tidak ingin kerja pada orang lain,” ia menambahkan.

Program studi Pendidikan Biologi UKSW, memperoleh akreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT), resmi menyandang akreditasi A dengan sertifikat nomor 3428/SK/BAN-PT/Akred/S/XII/2018 dan berlaku sampai Desember 2023.

Di sela-sela kesibukannya mengajar, meneliti, dan menjalankan pengabdian masyarakat, Lusiawati Dewi yang menamatkan S1 dari Fakultas Biologi UKSW bidang mikrobiologi, saat ini sedang mengambil studi S3 di Fakutas Interdisiplin di UKSW, dengan riset tentang penerimaan masyarakat untuk produk inovasi tempe dan model kewirausahaannya.

Sebagai perimbangan berkecimpung dalam dunia akademik dan pengabdian masyarakat, Lusiawati yag menamatkan sudi S2-nya di University of Amsterdam, Belanda, bidang molecular cell biology, mengaku gemar memasak. “Cooking. Sangat terkait dengan bidang inovasi saya berbasis pangan,” katanya.

Lusiawati menemukan belahan hati di almamater. Pasangan itu dikaruniai satu anak, yang sedang kuliah di Teknik Sipil (Internasional) Universitas Atmajaya Yogyakarta. 

 

Editor : Sotyati

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home