Google+
Loading...
SAINS
Penulis: Reporter Satuharapan 11:23 WIB | Kamis, 09 Mei 2019

Mahasiswa Unair Ajak Warga Desa Olah Serai Jadi Produk Berdaya Guna Tinggi

Ilustrasi. Serai. (Foto: Albrigi Inherba)

SURABAYA, SATUHARAPAN.COM – Favian Rafif Firdaus, mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Airlangga Surabaya, bersama empat rekannya, meluncurkan program Pelatihan Dilan (Distilasi Sederhana) sebagai upaya revitalisasi program serenisasi.

Program pelatihan itu digelar di Desa Codo, Malang, menyasar para ibu rumah tangga sebagai peserta. Pada pelatihan itu, peserta bisa belajar melakukan proses distilasi seperti yang dilakukan di laboratorium, dengan peralatan sederhana.

Apa yang dilakukan Favian adalah salah satu bentuk kegiatan pengabdian masyarakat, membantu masyarakat mengolah sumber daya alam yang dimiliki.

“Awalnya, kami terinspirasi dari piranti distilasi yang ada di laboratorium. Kami pun mencoba membuat alat distilasi versi kami sendiri dengan memanfaatkan benda-benda yang ada di rumah seperti dandang nasi,” ujar Favian, seperti dilaporkan Sukma Cindra Pratiwi  dari Unair News, news.unair.ac.id.

Bahan utama yang diolah dengan distilasi sederhana adalah minyak serai. Melalui proses distilasi, minyak serai dapat diolah menjadi produk berdaya guna tinggi seperti lilin aromaterapi, sabun mandi, dan karbol. Dengan begitu, nilai jual produk pun akan meningkat dan bisa ikut mendongkrak perekonomian warga setempat.

Favian mengungkapkan, di Desa Codo memang sudah ada program serenisasi. Warga menanam serai di pekarangan rumah. Namun, selama ini warga belum bisa mengolah dengan baik, hanya memanfaatkannya menjadi bumbu dapur.

“Kami berharap dengan adanya pelatihan ini, warga bisa memiliki lebih banyak pilihan untuk mengolah serai tersebut,” kata mahasiswa Farmasi angkatan 2016 tersebut.

Program ini direncanakan akan berjalan hingga bulan Juni. Selama periode tersebut, Favian dan rekan-rekannya akan terus mengunjungi Desa Codo dan memberikan pelatihan Dilan rutin. Meskipun distilasi adalah kegiatan laboratorium yang tergolong rumit, warga setempat ternyata bisa mengikuti pelatihan dengan baik dan cukup antusias.

“Warga antusias, karena hal ini merupakan sesuatu yang baru untuk mereka. Mereka senang karena bisa mengolah minyak serai menjadi berbagai macam produk,” ujar Favian.

Ia berencana ingin terus mengembangkan program ini. Ia berencana menerapkan pelatihan Dilan di daerah lain dengan hasil sumber daya alam berbeda. Harapannya, masyarakat umum bisa mengolah bahan alam, khususnya dalam bentuk minyak, menjadi produk-produk berdaya jual tinggi.

 

UKRIDA
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home