Loading...
INSPIRASI
Penulis: Yoel M Indrasmoro 01:00 WIB | Sabtu, 23 Agustus 2014

Makin Ditindas, Makin Berkembang

Firaun (foto: istimewa)

SATUHARAPAN.COM – Kitab  Keluaran dimulai dengan kisah yang menyesakkan hati. Keluarga Yakub yang pada mulanya orang asing kesayangan penguasa Mesir, bahkan diberi tempat di delta sungai Nil, telah menjadi bangsa yang menakutkan penguasa yang tidak mengenal sepak terjang Yusuf. Bagi penguasa baru Yusuf hanyalah sejarah. Meski dia mungkin mendengar bagaimana Yusuf menyelamatkan bangsa Mesir dari bahaya kelaparan—bahkan menjadi bangsa yang kaya karena penjualan gandum—tetapi itu menjadi tidak berarti baginya sekarang. Menurut dia, orang asing di Gosyen itu merupakan ancaman bagi Mesir.

Penguasa baru, yang agaknya menderita paranoia ini, kemudian menetapkan tindakan ”bijaksana”. Bijaksana bagi Mesir, namun petaka bagi Israel. Dari bangsa kesayangan, Israel berubah status menjadi budak. Dari warga negara kelas satu mereka diturunkan derajatnya menjadi warga negara kelas tiga. Mereka dipaksa bekerja paksa mendirikan kota-kota perbekalan bagi Firaun, yakni Pitom dan Raamses.

Sebagai orang asing, tak ada jalan bagi Israel kecuali menerima tanpa syarat. Namun, penulis kitab Keluaran mencatat, ”tetapi makin ditindas, makin bertambah banyak dan berkembang mereka, sehingga orang merasa takut kepada orang Israel itu” (Kel. 1:12).

Makin ketakutanlah penguasa baru itu. Ketakutan akan pembalasan dendam dari orang Israel membuatnya mengubah “kebijaksanaan” dengan cara membunuh semua bayi laki-laki orang Israel. Kebijaksanaan kedua ini pun gagal, karena Sifra dan Pua, kedua bidan itu, ternyata lebih takut kepada Allah ketimbang kepada penguasa Mesir. Alasan mereka, perempuan Ibrani lebih kuat ketimbang perempuan Mesir.

Ketakutan penguasa Mesir makin menjadi-jadi. Kebijaksanaannya pun berkembang dengan memerintahkan kepada seluruh rakyat untuk melemparkan semua bayi laki-laki ke dalam sungai Nil.

Apa yang bisa kita petik dari kisah awal Kitab Keluaran? Kisah ini membuktikan karya pemeliharaan Allah. Situasi dan kondisi dapat berubah dalam sekejap, namun kasih setia Tuhan tiada berubah. Dengan cara-Nya sendiri, Allah memelihara umat-Nya. Yang akhirnya membuat penguasa Mesir semakin ketakutan. Ada pemeliharaan Tuhan di sana.

Kisah ini pun kembali mengingatkan saya kepada lagu rohani populer: Tak pernah Dia janji slalu ‘kan panas. Tak pernah Dia janji hanya ada hujan. Tapi Dia janjikan memberi kekuatan bila badai topan melandamu. Ya, janji-Nya bukanlah rentetan berkat materi. Tetapi, penyertaan. Ya, penyertaan Allah.

Dan Israel telah membuktikannya melalui penyelamatan Allah—melalui ketiga perempuan: Ibu, Kakak, dan Ibu angkat—terhadap dari Musa. Nama Musa, yang berarti diangkat dari air, menjelaskan pula bahwa Gusti mboten Sare. Tuhan tidak tidur.

 

Editor: ymindrasmoro

Email: inspirasi@satuharapan.com


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home