Google+
Loading...
FLORA & FAUNA
Penulis: Dewasasri M Wardani 14:08 WIB | Kamis, 11 Juli 2019

Maleo Burung Unik yang Nyaris Punah

Maleo (Macrocephalon maleo). (Foto: flickr.com)

SATUHARAPAN.COM – Maleo adalah salah satu burung endemik Sulawesi yang banyak menarik perhatian baik lokal maupun Internasional. Maleo memiliki keunikan tersendiri dibandingkan jenis unggas lain.

Banyak pengamat burung menyebutkan, tidaklah lengkap mengamati burung di Sulawesi tanpa mendatangi nesting ground (tempat peneluran) maleo (Macrocephalon maleo). Menurut mereka maleo identik dengan ekosistem Wallacea Sulawesi. Sebab itu, habitat burung maleo juga menjadi salah satu destinasi wisata alam yang menarik dan unik. Tidak mengherankan, banyak wisatawan, termasuk mancanegara yang tertarik melihatnya.

Maleo adalah sejenis megapoda yang memiliki telur besar. Ukuran telur maleo enam kali besar daripada telur ayam. Burung maleo memiliki sistem perkembangbiakan yang unik, yaitu dengan cara meletakkan telurnya secara bersama-sama di suatu tempat berpasir, dan saat baru menetas anak burung maleo sudah bisa terbang.  

Burung maleo, menurut Wikipedia, memiliki bulu berwarna hitam, kulit sekitar mata berwarna kuning, iris mata merah kecokelatan. Kakinya abu-abu, paruh jingga, dan bulu sisi bawah berwarna merah-muda keputihan.

Jantan dan betinanya serupa. Biasanya, betina berukuran lebih kecil dan berwarna lebih kelam dibanding burung jantan.

Namun, saat ini maleo mulai terancam punah karena habitat yang semakin sempit dan telur-telurnya yang diambil manusia. Diperkirakan jumlahnya kurang dari 10.000 ekor saat ini.

“Maleo merupakan burung endemik Sulawesi yang unik yang saat ini statusnya genting atau endangered menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN) dan masuk daftar Appendix 1 dari Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES),” kata Koordinator Maleo Project Wildlife Conservation Society (WCS), Iwan Honuwu, yang dikutip dari Kompas.com pada 18 Desember 2014.

Morfologi  Burung Maleo

Maleo, mengutip dari ipb.ac.id, termasuk species burrow nester, yaitu burung pembuat lubang atau liang. Besarnya  hampir sama dengan ayam betina piaraan, berbobot 1,6 kg. Bulunya berwarna hitam, bagian dada sampai di atas kalu berwarna putih, dan merah jambu keputih-putihan yang  mencolok, ekor tegak, memiliki kaki dan cakar yang kuat, jari-jari kakinya mempunyai selaput renang pada pangkalnya.

Paruh maleo besar, kokoh dan lancip berwama kelabu. Kulit muka dan lingkaran sekitar mata berwarna kuning pucat dan biji mata berwarna hitam.

Dari dekat, kelihatan dada maleo berwarna sawo matang. Bila dilihat dari jauh, antara jantan  dan betina sukar sekali dibedakan. Bila sedang terbang, gerakan sayapnya sangat keras mengingat bobot tubuh yang cukup besar dibandingkan dengan lebar sayap. Walaupun hanya untuk mencapai jarak relatif yang pendek, burung maleo hinggap dulu pada cabang- cabang pohon yang satu ke cabang pohon yang lain.

Usia burung maleo bisa mencapai 25 - 30 tahun, dan mencapai usia dewasa produktivitas setelah 4 tahun.

Pada bagian kepala terdapat benjolan hitam kelam, yang berguna untuk tetap mendinginkan otaknya dari terik udara pantai. Selain itu juga tonjolan kepala ini berfungsi untuk mengukur temperatur tanah yang cocok untuk meletakkan telur.

Burung maleo hidup secara liar, terutama di dalam semak belukar, mulai dari tempat datar yang panas dan terbuka, sampai  ke hutan pegunungan yang lebat dengan batas ketinggian yang belum jelas .

AJ Whitten dan kawan-kawan, dalam buku The Ecologi of Sulawesi (Penerbit Gadjah Mada University Press Yogyakarta, 1987), menyatakan burung maleo hanya ditemukan di Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara.

Namun, MF Kinnaird, dalam bukunya, Sulawesi Utara Sebuah Panduan Sejarah Alam (Penerbit Yayasan Pengembangan Wallacea GEF Biodiversity Collection Project of Sulut, Tahun 1997), berpendapat menurut perkiraan para ahli di Sulawesi terdapat  50 tempat bertelur yang masih digunakan dan kebanyakan terdapat di Sulawesi Utara.

Di Sulawesi Utara, habitat burung maleo terdapat di Desa Tambun, Tumokang, Pusian, Panua, Gunung Tangkoko, dan Desa Waleo .

DN Jones, dan kawan-kawan, dalam buku Bird Families of The World : The Megapodea (Penerbit Stanford University Press. Oxford. 262 p, 1995), burung maleo termasuk dalam jenis hewan omnivor yang makanannya terdiri atas buah-buahan,  biji-bijian, dan invertebrata seperti kumbang, semut, rayap, cacing, serta siput air tawar dan siput darat.

Burung maleo menurut Wikipedia memiliki nama ilmiah  Macrocephalon maleo, Sal., dan memiliki nama daerah yakni  senkawor, sengkawur, songkel,  maleosan (Minahasa), saungke (Bintauna), tuanggoi (Bolaang Mongondow), tuangoho (Bolang Itang), bagoho (Suwawa), mumungo, panua (Gorontalo), molo Sulawesi Tenggara.

Di berbagai negara, maleo dikenal dengan nama megapode maleo (Prancis), hammerhuhn (Jerman), talegalo maleo (Spanyol), maleofowl, gray's brush turkey (Inggris).

Konservasi

Tidak semua tempat di Sulawesi bisa ditemukan maleo. Sejauh ini, ladang peneluran hanya ditemukan di daerah yang memliki sejarah geologi yang berhubungan dengan Lempeng Pasifik atau Australasia.

Menurut Wikipedia, populasi burung endemik Indonesia ini di Sulawesi menurun sebesar 90 persen semenjak tahun 1950-an. Berdasarkan pantauan di Cagar Alam Panua, Gorontalo,  dan juga pengamatan di Tanjung Matop, Tolitoli, Sulawesi Tengah, jumlah populasi maleo terus berkurang dari tahun ke tahun karena dikonsumsi, juga telur-telur yang terus diburu warga.

Maleo bersarang di daerah pasir yang terbuka, daerah sekitar pantai gunung berapi dan daerah-daerah yang hangat dari panas bumi untuk menetaskan telurnya yang berukuran besar, mencapai lima kali lebih besar dari telur ayam. Setelah menetas, anak maleo menggali jalan keluar dari dalam tanah dan bersembunyi ke dalam hutan.

Berbeda dengan anak unggas pada umumnya yang pada sayapnya masih berupa bulu-bulu halus, kemampuan sayap pada anak maleo sudah seperti unggas dewasa, sehingga ia bisa terbang. Hal ini dikarenakan nutrisi yang terkandung di dalam telur maleo lima kali lipat dari telur biasa. Anak maleo harus mencari makan sendiri dan menghindari hewan pemangsa, seperti ular, kadal, kucing, babi hutan, dan burung elang.

Berdasarkan dari hilangnya habitat hutan yang terus berlanjut, tingkat kematian anak burung yang tinggi, populasi yang terus menyusut, serta daerah dimana burung ini ditemukan sangat terbatas, maleo senkawor dievaluasikan sebagai terancam punah di dalam IUCN Red List. Spesies ini didaftarkan dalam CITES Appendice I.

Burung maleo, mengutip dari ksdae.menlhk.go.id, masuk dalam kategori genting (Endangered – EN) menurut kriteria IUCN karena penurunan populasi yang sangat cepat, yang diperkirakan akan terus menurun berdasarkan tingkat eksploitasi dan penurunan kualitas habitat. Populasi global diperkirakan 8.000–14.000 individu dewasa. Selain itu, jenis ini masuk dalam Appendices I CITES sehingga kegiatan perdagangan jenis ini dilarang.

Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) melalui Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH), terus mendorong dan mengawal penyusunan dokumen Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Maleo (Macrocephalon maleo) periode 2018-2028. Kondisi populasi dan habitat maleo senkawor di alam saat ini terus mengalami ancaman.

Jenis ancaman yang terjadi antara lain perubahan lokasi habitat menjadi permukiman, lokasi wisata dan budidaya, terputusnya koridor pergerakan dari hutan ke lokasi peneluran, pengambilan telur di beberapa lokasi, ancaman nonmanusia seperti predator alami dan perkembangan tumbuhan invasif yang menutupi area peneluran.

Kegiatan penyusunan dokumen SRAK ini didukung oleh proyek Enhancing the Protected Area System in Sulawesi Project for Biodiversity Conservation (EPASS).

Editor : Sotyati

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home