Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 02:40 WIB | Senin, 13 Agustus 2018

Malioboro Night Festival 2018 "Regeneration"

Yogyakarta perlu lebih banyak ruang publik dan ikon baru destinasi wisata
Malioboro Night Festival 2018 "Regeneration"
Penampilan grup musik asal Bandung MOCCA di panggung utama gerbang Kompleks Kepatihan pada Maliboro Night Festival 2018, Minggu (12/8) malam. (Foto-foto- Moh. Jauhar al-Hakimi)
Malioboro Night Festival 2018 "Regeneration"
Grup musik Berdua Saja saat tampil di panggung Kimia Farma, Minggu (12/8) malam.
Malioboro Night Festival 2018 "Regeneration"
Komunitas Jazz Mben Senen saat tampil di panggung Depan Gedung DPRD DI Yogyakarta, Minggu (12/8) malam.
Malioboro Night Festival 2018 "Regeneration"
Suasana panggung utama Maliboro Night Festival 2018.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Untuk ketiga kalinya Dinas Pariwisata Pemda DI Yogyakarta menggelar Malioboro Night Festival (MNF) selama dua hari, 11-12 Agustus 2018. Sebanyak tujuh panggung kecil/gigs ukuran 3 m x 4 m disediakan di beberapa titik di sepanjang Jalan Malioboro Yogyakarta.

Dalam dua hari penyelenggaraan tiga puluh kelompok seni pertunjukan (musik, tari, performance dance) bergantian mengisi tujuh panggung. Satu panggung utama berukuran 6 m x 10 m di depan gerbang kompleks Kantor Gubernur Pemda DIY menampilkan sebelas perform tari-musik.

Hari pertama, Sabtu (11/8) malam di panggung utama tampil Jasmine, Anterdans, Kopi Loewak, Tashoora, Widjilan Kids, serta bintang tamu rapper Iwa K & Sweet Martabak. Pada hari kedua, Minggu (12/8) tampil Luna Dance, Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ) Malioboro, kelompok musik jazz ROBBRS, kelompok musik etnik Bhatara Experimental Folk, dan band penutup MOCCA dari Bandung.

Tiga puluh tujuh kelompok seni yang mengakses tujuh gigs pun menampilkan beragam sajian yang hampir semuanya adalah kelompok seni dari kaum muda Yogyakarta yang hingga hari ini terus berproses bersama komunitasnya. Sebutlah Jazz Mben Senen yang secara reguler selalu berproses di Bentara Budaya Yogyakarta, Jogja Koes Plus community yang hampir setiap malam melakukan jamming lagu-lagu Koes plus secara bergantian di komunitasnya, Beatbox Jogjakarta (Bejo), Drummer Guyub Yogyakarta, Revolt Stepper Dance Crew, yang terus menerus terjadi proses regenerasi didalamnya.

Sejak pertama kalinya digelar pada tahun 2016, MNF menjadi salah satu tawaran yang menjanjikan bagi wisatawan untuk dapat menikmati wajah kota Yogyakarta. Mengambil tema “Regeneration” diharapkan dapat membawa spirit Malioboro masa lalu sebagai ruang interaksi sosial antar seniman dan budayawan ke generasi muda dengan mengajak komunitas-seni budaya yang baru dan berkembang, anak-anak muda yang kreatif dan membutuhkan ruang eksistensi yang mewarnai dinamika seni budaya Yogyakarta.

Beberapa catatan terkait penyelenggaraan MNF bahwa antusiasme penonton yang sebagian besar adalah wisatawan pejalan kaki semakin menegaskan bahwa kawasan Malioboro sebagai salah satu destinasi utama wisata Kota Yogyakarta masih menjadi magnet bagi wisatawan. Berada di tengah kota dengan berbagai sarana-prasarana pendukung yang terus dilakukan penataan agar semakin aman-nyaman menjadikan kawasan Malioboro sebagai tujuan wisatawan domestik maupun manca negara yang cukup terjangkau. 

Dalam hitungan kasar, MNF 2018 dikunjungi tidak kurang 10.000 orang setiap harinya. Sebagai sebuah festival, MNF dalam tiga kali penyelenggaraan bisa dikatakan berhasil menghimpun wisatawan pejalan kaki untuk menikmati MNF, dan berkat kerja keras panitia yang sebagian besar adalah kaum muda dan dukungan pengamanan dari berbagai pihak sejauh ini MNF berlangsung aman, lancar, tanpa ada catatan insiden selama penyelenggaraan.

Hanya yang perlu diperhatikan untuk penyelenggaraan di masa datang, menghelat festival dengan panggung rigging besar di pinggir jalan raya cukup beresiko dengan ataupun tanpa ada penutupan atau pengalihan arus lalu lintas. Panggung besar dengan menghadirkan bintang tamu tentu akan menyedot pengunjung dan terkonsentrasi pada satu ruas jalan cukup beresiko ketika jalan raya masih diakses oleh pengguna jalan terutama kendaraan bermotor terlebih pada akhir pekan dimana kawasan Malioboro mulai dari ruas Jalan Abu Bakar Ali hingga Titik 0 Km sepanjang hari diakses kendaraan bermotor dan lalu lalang ribuan pelintas kawasan pedestrian Malioboro.

Tantangan lain bagi dinas terkait adalah membuka ruang-ruang publik lain selain Malioboro sebagai tujuan wisata Yogyakarta. Menyaksikan penampilan talenta-talenta muda Yogyakarta di tujuh gigs dan panggung utama pada MNF 2018, ada satu pesan yang bisa ditangkap: kaum muda Yogyakarta memerlukan lebih banyak panggung dan ruang publik sebagai ruang ekspresi dan ruang apresiasi. 

Dan ketika pinggir jalan dan jalan raya di tengah kota dengan berbagai resiko untuk sebuah festival menjadi ruang dan tempat yang tidak terlalu ideal bagi ekspresi-apresiasi mereka, saatnya pihak-pihak terkait memberikan tawaran untuk membuka ruang-ruang publik baru yang bisa mereka akses sekaligus menjadi destinasi baru wisata Yogyakarta sebagaimana tema yang ditawarkan MNF kali ini: regeneration.  Regenerasi bagi pelaku seni-budaya yang menyasar pada kaum muda serta regenerasi destinasi wisata baru Yogyakarta yang nyaman dan aman bagi siapapun yang mengaksesnya. Toh Malioboro, dengan ataupun tanpa MNF sudah menjadi daya tarik wisata Yogyakarta.

 

UKRIDA
Gaia Cosmo Hotel
Zuri Hotel
Back to Home