Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Ignatius Dwiana 07:00 WIB | Kamis, 01 Januari 1970

Mantan Pengawal Mao Zedong Melukis Paus Fransiskus

Lukisan foto Paus Fransiskus dalam rangka peringatan 40 tahun misi diplomatik Australia ke Vatikan. (Foto: asianews.it)

VATIKAN, SATUHARAPAN.COM – Seorang Mantan Pengawal Tiongkok di masa kepemimpinan Mao Zedong, Jiawei Shen, melukis lukisan foto Paus Fransiskus. Seperti diberitakan pekan lalu.

Gagasan melukis foto Paus berasal dari perjamuan minum teh sore tahun lalu antara Ketua Galleri Hazelhurst Byron Hurst dan Duta Besar Australia untuk Tahta Suci Vatikan John McCarthy. Penyerahan lukisan foto Paus Fransiskus dalam rangka peringatan 40 tahun misi diplomatik Australia ke Vatikan.

Paus Fransiskus mengizinkan fotonya itu dipergunakan untuk lukisan itu setelah mendengar projek itu sekembalinya dari acara Hari Pemuda Dunia di Brasil tahun lalu.

Paus Fransiskus menerima lukisan foto itu ketika sedang beristirahat dari pertemuan G8. Kardinal Pell mengiringi Paus untuk menemui seniman dan delegasi pemerintah Australia.

"Paus menyambut delegasi dengan hangat dan kemudian terpana oleh lukisan itu," kata Byron Hurst.

G8 atau Kelompok Delapan adalah panel dari delapan kardinal yang bertugas membantu Paus dalam mereformasi konstitusi apostolik Gereja Katolik Pastor Bonus (Gembala Baik).

Sementara lukisan foto Paus Fransiskus itu dikerjakan Jiawei Shen yang lahir di Shanghai, Tiongkok. Dia meninggalkan negaranya sebelum pembantaian Lapangan Tiananmen pada 4 Juni 1989 dan menetap di Australia.

Setelah bertemu Paus, dia mengatakan dia teringat kepada seorang perempuan Katolik yang menangis ketika tim Pengawal Merahnya merusak gerejanya. "Aku memikirkan tentang perempuan (di gereja) itu," kata Shen Jiawei. "Aku tidak punya agama yang jelas, tetapi saya percaya pada kekuatan cinta dan pengampunan."

Revolusi Kebudayaan diluncurkan Ketua Mao Zedong pada 1967 dan menjadi salah satu sejarah tergelap Tiongkok. Selama sepuluh tahun, sampai dengan kematian Mao, pelbagai kelompok anak muda didorong menghapus semua segi budaya, agama, dan sosial sisa-sisa masa lalu Tiongkok.

Agama membayar harga tertinggi: uskup Katolik dan imam, pendeta Protestan, biksu dan lama tewas, dipenjara, atau dikirim ke kamp kerja paksa. Tempat ibadah dihancurkan atau diubah menjadi gudang atau pabrik. Sekolah, guru, bahkan pemimpin Komunis sayap kanan turut dibasmi. (asianews.it)

Editor : Yan Chrisna Dwi Atmaja

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home