Google+
Loading...
ANALISIS
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 18:37 WIB | Selasa, 10 Desember 2019

Masihkah Ada Capung di Sekitarmu?

Masihkah Ada Capung di Sekitarmu?
Ciwet kuning (Pantala flavescens/Fabricius, 1798). (Foto-foto: dok. pribadi Wahyu IDS Sigit)
Masihkah Ada Capung di Sekitarmu?
Sambar putih (Zyxomma obtusum/Albarda, 1881).

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Sebuah foto dalam medium vinyl sticker berbentuk lingkaran berdiameter 200 cm dengan obyek capung Sambar putih (Zyxomma obtusum/Albarda, 1881) terpajang di lantai Bentara Budaya Yogyakarta dari tanggal 30 November hingga 8 Desember 2019. Di atasnya karya instalasi  berbahan jerami dengan obyek capung-capung yang digantung melengkapi foto-foto capung dalam pameran seni foto bertajuk “Dragonfly, Pengetahuan dan Citra” karya seniman foto Wahyu Sigit Rahadi.

“Foto capung jenis Sambar putih saya dapatkan pada tahun 2011. Cukup sulit (mendapatkannya). Kebiasaannya yang keluar beraktivitas lebih banyak pada sore hari menjelang petang. Berputar-putar sejenak di sisi-sisi permukaan kolam. Setelah itu pergi menghilang. Ini jenis yang sensitif terhadap kehadiran manusia. Dalam jarak 5 meteran dia akan terbang menghilang jika dirasakan ada manusia atau makhluk lain yang mendekat,” kata Wahyu Sigit mengawali perbincangan dengan satuharapan.com, Kamis (5/12).

Pada satu kesempatan Wahyu menangkap seekor sambar putih yang sedang memangsa nyamuk. “Jika melihat kebiasaan waktu keluarnya (beraktivitas mencari mangsa) sambar putih memang pemangsa nyamuk,” papar Wahyu.

Perilaku capung, identifikasi jenis, identifikasi habitat, tiga hal penting ini menjadi modal utama Wahyu Sigit dalam berburu foto dengan obyek capung, sebuah kecintaan yang sudah digelutinya sejak memutuskan pensiun dini dari mengajar di SMAK St. Albertus Malang.

Dikenal dengan warna tubuhnya yang menarik serta tubuhnya yang terlihat rapuh, masyarakat lebih banyak mengenal capung sebagai serangga yang lucu nan indah. Dibalik keindahannya capung adalah serangga predator bagi serangga lainnya yang banyak membantu menjaga keseimbangan serangga lain agar tidak menjadi hama-penyakit bagi lingkungan dan kehidupan manusia.

Capung yang dalam taksonomi serangga masuk ordo Odonata ini terbagi menjadi dua yakni sub-ordo Anisoptera dikenal dengan nama capung/dragonflies sub-ordo Zygoptera atau dikenal dengan nama capung jarum/damselflies. Hingga saat ini data capung di Indonesia masih belum terkumpul keseluruhan. Melalui aktivitas berburu capung Wahyu Sigit bersama komunitas yang dibentuknya Indonesia Dragonfly Society (IDS) telah mencatat dan mendata capung yang ditemukan selama “perburuan”.

Mengutip data Capung Indonesia dalam infografis yang didisplay pada pameran, di Indonesia terdapat 18 famili, 167 genus, dan 1.125 spesies capung. Sedangkan dari jenisnya terbagi menjadi 433 anisoptera (dragonflies) atau capung dan 692 zygoptera (damselflies) atau capung jarum. Jenis capung Indonesia mencapai 15 persen dari 5.680 jenis capung di dunia.

Wahyu SIgit menjelaskan dalam penelusurannya hingga tahun 2010 penelitian spesifik tentang capung di Indonesia tidak ada, salah satunya terkendala minimnya literatur tentang capung.

 “Infografis yang kita rilis dalam pameran adalah infografis resmi pertama tentang capung yang pernah di-publish di Indonesia dengan dilengkapi sumber-literatur untuk identifikasinya. Minimnya data tentang capung Indonesia menjadi salah satu kendala mahasiswa maupun dunia akademis sehingga jarang melakukan penelitian tentang capung,” papar Wahyu Sigit.

Legenda Naga Terbang

Capung termasuk dalam famili Odonata. Kata ‘odonata’ berasal dari bahasa Yunani yang berarti gigi. Kata ini diberikan kepada famili Odonata karena diyakini mereka memiliki gigi, meskipun pada akhirnya ditemukan bahwa capung mengunyah mangsanya menggunakan rahang. Nama tersebut diambil dari bahasa Yunani: odonta-gnata yang berarti rahang bergigi.

Capung merupakan jenis serangga purba diperkirakan sudah hidup sejak 300 juta tahun yang lalu (zaman Karbon~Carboniferous of Europe). Fosil capung tertua berasal dari Protodonata yang ditemukan pada 325 juta tahun lalu di Eropa dengan rentang sayap mencapai 27 inch (75 cm). Dalam catatan hasil riset yang ditulis K.J. Tennessen dalam buku Encyclopedia of Insects (2009) disebutkan jenis ini diperkirakan punah pada jaman-tahun 247 juta SM.

Sebagian besar capung hidup di daerah tropis, dan lebih sedikit spesies di daerah beriklim sedang. Menyusut bahkan hilangnya ekosistem lahan basah (wetland) menjadi ancamam bagi keberadaan populasi capung di seluruh dunia.

Budaya berbagai bangsa mencatat capung dalam kehidupan mereka. Di Jepang, capung dikaitkan dengan musim panas dan musim gugur dan menjadi simbol kemenangan, kekuasaan, dan kelincahan. Ksatria samurai menggunakan capung sebagai simbol kekuatan dan kekuasaan. Nama capung menjadi nama salah satu senjata legendaris yaitu tonbogiri. Tonbo sendiri berarti capung dalam bahasa Jepang. Dalam budaya penduduk asli Amerika, capung menandakan kebahagiaan, kemurnian, dan kecepatan karena merupakan serangga yang hidup baik di air dan di darat.

Capung digunakan dalam pengobatan tradisional di Jepang dan Cina, dan di sebagian masyarakat di Asia Tenggara capung ditangkap untuk makanan layaknya belalang di Indonesia. Namun yang harus dicatat, capung adalah inang dari trematoda (lalat dalam keluarga Lecithodendriidae) di Asia Tenggara, dan ketika dimakan mentah, mereka dapat menjadi sumber infeksi pada manusia (dengan menelan metacercariae). Di Cina, simbolisme capung meliputi berbagai kualitas seperti kemakmuran, harmoni, dan pesona keberuntungan.

Dalam sejarah peradaban manusia, artefak capung banyak ditemukan pada tembikar, lukisan batu, hingga perhiasan pada masa seni modern (art nouveau). Fosil capung yang ditemukan pada masa Jurrasic kemungkinan adalah moyang capung modern sebelum mengalami evolusi.

Di Indonesia, selain dikenal sebagai capung, serangga ini memiliki berbagai nama lokal/daerah. Di Jawa disebut sebagai kinjeng, semprang, atau coblang. Masyarakat Sunda menyebutnya papatong. Capung juga disebut dengan nama pepatung (Melayu), sipatung (Minangkabau), dan kasasiur (Banjar).

Mata majemuk/faset (compound eyes) yang besar, rahang yang kuat, kaki panjang, dan kemampuan terbang yang tak tertandingi (beberapa lileratur menyebutkan kecepatan terbang capung bisa mencapai 100 km/jam) menjadi adaptasi yang ideal untuk menangkap dan memakan mangsa serangga. Kekuatan rahangnya mampu digunakan untuk memangsa anak ikan/kecoa saat masih dalam fase larva/nimfa/naiad (nympha).

Capung dapat terbang ke segala arah, termasuk menyamping dan mundur, bahkan terbang diam di satu titik selama lebih dari beberapa menit. Kemampuan terbang tersebut bersumber dari dua pasang sayap dengan otot di antara kepala dan abdomen yang dapat bergerak dengan arah berlainan. Dengan bentuk dan kemampuan terbang itulah tidak berlebihan capung menjadi legenda naga terbang (dragonfly).

Seturut dengan penelitian maupun “perburuan” capung di berbagai daerah yang dilakukan Wahyu bersama IDS, dalam perjalanannya untuk keperluan dokumentasi foto capung tidak sekedar mengejar keindahan-impresi visual semata.

“Pemotretan memperhatikan kaidah yang benar-tepat sehingga informasi bisa tersampaikan dengan pas. Bagaimana memotret bagian kepala dengan mata majemuknya, memotret dada (thorax), dan seterusnya hingga memotret habitat hidup capung. Komposisi, angle (sudut pengambilan gambar), arah pencahayaan, serta momen yang tepat menjadi penting untuk merekam informasi sebanyak-banyaknya. Ini yang selalu ditekankan mengingat ini nantinya selain untuk memudahkan identifikasi juga menjadi bagian edukasi kepada masyarakat,” tutur Wahyu Sigit.

Taksonomi Capung : siklus hidup, habitat, dan perilaku

Tidak seperti serangga lebah, lalat, nyamuk, ataupun kupu-kupu yang mengalami metamorfosis sempurna (Holometabela) dalam siklus hidupnya, siklus hidup capung adalah metamorfosis tidak sempurna (Hemimetabola). Fase tersebut meliputi fase telur, larva/nimfa/naiad, dan capung dewasa.

Dalam taksonomi hewan, capung masuk dalam filum Arthropoda, kelas Insecta, ordo Odonata, dengan dua sub-ordo yakni anisoptera dan zygoptera. Sub-ordo Anisoptera terdiri dari famili Aeshnidae, Austropetaliidae, Chlorogomphidae, Cordulegastridae, Corduliidae, Epiophlebiidae, Gomphidae, Libellulidae, Macromiidae, Neopetaliidae, Petaluridae, Synthemistidae.

Sementara sub-ordo Zygoptera terdiri dari famili Amphipterygidae, Calopterygidae Chlorocyphidae, Chorismagrionidae, Coenagrionidae, Dicteriadidae, Diphlebiidae, Euphaeidae, Hemiphlebiidae, Isostictidae, Lestidae,  Lestoideidae, Megapodagrionidae, Perilestidae, Platycnemididae, Platystictidae, Polythoridae, Protoneuridae, Pseudostigmatidae , Synlestidae , Thaumatoneuridae.

Dari kedua sub-ordo tersebut Tennessen mencatat terdapat 643 genus yang terdiri 5.647 spesies capung di seluruh dunia. Keragaman biodivesitas capung terbesar terdapat di negara Brasil dan Indonesia. Sebagai catatan, kedua negara pada masanya memiliki hutan hujan tropis (tropical rain forest) yang sangat luas sebelum mengalami pembalakan besar-besaran akibat booming kayu bulat pada tahun 1970-1990. Dengan segala potensi sumberdaya alamnya, hutan hujan tropis (tropical rain forest) merupakan habitat penting capung.

Siklus hidup capung dimulai dari sebutir telur yang membutuhkan waktu sekitar 2-5 minggu untuk menetas di dalam air. Setelah menetas menjadi larva/nimfa dalam warna transparan berangsur-angsur berubah warna.

Setelah menetas dalam beberap jam larva akan mengalami pergantian kulit. Larva capung hidup di dalam air memakan jasad renik jentik-jentik nyamuk bahkan anak ikan. Selama fase larva biasanya mengalami pergantian kulit sebanyak 5-14 kali hingga menjadi larva dewasa. Usia larva capung cukup lama bisa mencapai 2 tahun bahkan ada larva capung yang hidup enam tahun di dalam air. Kemampuan larva capung memakan jasad renik/jentik turut mengontrol vektor penyakit yang diakibatkan dari jasad renik tersebut.

Kondisi temperatur perairan yang hangat menjadi habitat yang ideal dalam mempercepat larva capung menjadi dewasa. Setelah larva/nimfa capung dewasa perlahan-lahan menuju ke permukaan air yang dangkal mencari tempat aman menuju fase berikutnya. Jika pada metamorfosis sempurna, larva berubah menjadi pupa (kepompong), larva capung bermetamoorfosis langsung menuju capung dewasa, ditandai dengan keluarnya calon capung dewasa dari kulit larva.

Saat mendapatkan tubuh baru capung beradaptasi dengan membiarkan tubuhnya mengeras agar seluruh bagian tubuhnya bisa berfungsi dengan baik termasuk proses ‘pemompaan’ sayap-sayapnya agar siap digunakan terbang. Proses ini memerlukan waktu berjam-jam. Proses metamorfosis dari larva menjadi capung dewasa merupakan momen penting yang banyak didokumentasikan peneliti melalui alat perekam gambar, meskipun harus sabar dan teliti.

Sejak tahun 2009 Wahyu Sigit bersama IDS melakukan “perburuan” capung di beberapa tempat diantaranya di Sumba, Banyuwangi, Malang, beberapa daerah di luar Jawa seperti Sumatera, Kalimantan, Maluku. Tahun 2013 bersama IDS Wahyu membuat project mengumpulkan capung di wilayah Wendit-Malang. Saat itu terkumpul data 42 jenis capung.

“(Saat itu) baru sampai mengumpulkan data visual foto. Belum sampai identifikasi jenis. Meskipun akhirnya dilakukan juga (identifkasi tersebut). Namun pada penyusunan buku tersebut lebih banyak menyajikan data visual,” jelas Wahyu tentang project capung di Wendit-Malang.

Dari project tersebut Wahyu Sigit menerbitkan buku dengan judul “Naga Terbang Wendit: Keanekaragaman Capung Perairan Wendit, Malang, Jawa Timur” yang diterbitkan oleh IDS pada tahun 2013.

Kehadiran capung biasanya pada pagi dan sore, untuk mencari makan/mangsa. Saat siang hari capung berteduh berlindung dari sinar matahari sekaligus menghindarkan diri dari pemangsanya.

Sebagaimana hewan predator yang berada pada puncak piramida makanan, capung biasanya hidup secara soliter. Meski begitu beberapa jenis/spesies hidup secara bergerombol. Sebagai serangga yang cenderung soliter, capung menandai wilayahnya (biasanya perairan dalam lingkup kecil) dan menjaganya. Kehadiran capung lain kerap menimbulkan ‘pertengkaran’ bahkan sampai terjadi pada pemangsaan (kanibalisme). Capung dapat ditemukan di hampir setiap area lahan basah (wetland) yang masih sehat.

Akhir-akhir ini capung digunakan sebagai bio-indikator dampak perubahan iklim. Jeffrey A. McNeely dalam pengantar jurnal Monitoring Climate Change With Dragonflies (2010) menyatakan, capung bisa menjadi alat untuk memantau perubahan iklim dengan relatif mudah karena beberapa alasan. Dalam penelitian tersebut McNeely menunjukkan bahwa penyebaran capung juga sangat sensitif terhadap perubahan iklim.

Meskipun hidup di wilayah perairan yang sehat, perilaku capung tidak sama jenis satu dengan lainnya. Sebagian besar hidup secara soliter, namun ada beberapa famili/jenis yang hidup berkelompok/bergerombol dengan kebiasaan hinggap di batu, permukaan tanah, seresah, ranting dan rerumputan.

Capung sering dijumpai pada habitat dengan intensitas sinar matahari yang tidak terlalu tinggi (terik) dan berada tidak jauh dari sumber air seperti tepi sungai-kolam, area persawahan, hingga pekarangan rumah ataupun pertamanan.

“Ada beberapa yang hidupnya bergerombol salah satunya ciwet kuning (Pantala flavescent) banyak dijumpai di atas tanaman padi. Jenis ini memiliki kemampuan migrasi antar pulau-negara. Satu peneliti dari Inggris pernah meneliti dengan memasang chip yang sangat kecil di atas thorax ciwet putih terpantau bermigrasi dari Afrika hingga Weopa (Turki),” jelas Wahyu Sigit.

Capung tergolong serangga predator yang ganas dengan mangsa serangga lain seperti wereng, kutu daun, kupu-kupu, lebah, bahkan capung lain. Seekor capung mampu memangsa 50-100 ekor nyamuk dalam sehari.

Beberapa jenis capung aktif saat pagi hari ketika matahari belum terbut atau matahari mulai terbenam di sore hari. Jenis capung ini (krepuskular) terbang di atas perairan seperti kolam, tambak, ataupun sungai.

Jenis capung lain memiliki kebiasaan hinggap pada tanaman di tepi sungai yang tidak terlalu tinggi dan ternaungi. Habitatnya hidup di sekitar aliran sungai yang deras di hutan dengan kanopi yang teduh. Jenis lain hidup di sekitar perairan sungai bersih dan mengalir dengan intensitas cahaya matahari sedang seperti dibawah naungan pohon atau bambu.

“Semua jenis capung mempunyai kemampuan sebagai predator serangga bahkan pada capung sendiri (kanibal). Capung menangkap mangsa saat mangsa tersebut bergerak (terbang), bukan mangsa diam. Menangkapnya dengan menabrak mangsa tersebut dengan tubuh dan kakinya membentuk keranjang, makanya disebut dengan kaki keranjang. Tiga pasang kaki dalam posisi tertekuk ke arah depan untuk menangkap mangsa yang ditabraknya,” papar Wahyu tentang kebiasaan pemangsaan yang dilakukan capung.

Secara umum capung bisa ditemukan pada perairan, lahan basah, sungai yang mengalir dengan intensitas cahaya rendah dan di sekitarnya terdapat tanaman yang rimbun. Kondisi ekosistem ini bisa menggambarkan masih terjaganya lingkungan yang menjadi tempat yang nyaman bagi hidup dan berkembangnya capung.

“Sumbangan foto-foto dari Wahyu Sigit bersama komunitas-komunitas seperti ini (pecinta-peneliti capung) bagi perkembangan ilmu pengetahuan sangat penting karena tanpa mereka keberadaan jenis-jenis (capung) ini mungkin tidak diketahui juga. Itulah pentingnya komunitas,” jelas ahli Entomologi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Damayanti Buchori kepada satuharapan.com di sela-sela pembukaan pameran, Sabtu (30/11) malam.

Peran Capung bagi Kehidupan Manusia

“Ada beberapa pengelompokan famili yang memang memiliki karakter-kebiasaan (perilaku) yang berbeda-beda seperti peletakan telur, ruang hidupnya. Makanya untuk kegiatan survei, IDS melakukan dalam dua musim dengan pengulangan sebanyak empat kali pada musim hujan, musim kemarau, peralihan musim kemarau ke musim hujan dan sebaliknya. Ini dikaitkan dengan pola naiad (larva capung) yang dipengaruhi oleh temperatur dan kelembaban udara dalam air dan luar air untuk melakukan proses metamorfosisnya. Pada peralihan musim (pancaroba) itulah biasanya banyak ditemukan capung. Meskipun tidak selalu begitu. Ada beberapa jenis yang justru banyak pas di puncak musim kemarau dan ada juga yang pas musim hujan. Tergantung pola naiad bermetamorfosis. Di Sumba kita melalukan survei bisa sampai dua tahun untuk memastikan pola metamorfosis naiad tersebut,” papar Wahyu Sigit tentang metode pengumpulan data saat “perburuan” capung.

Pencemaran perairan, menyusut bahkan hilangnya areal pertanian maupun ruang terbuka hijau (RTH), alih fungsi hutan dan areal pertanian, penggunaan bahan kimia (insketisida-pestisida, maupun pupuk kimia) dalam duna pertanian, ditambah dengan peningkatan sampah-limbah domestik dan industri menyempitkan ruang hidup (habitat-ekosistem) capung di alam. Dengan perannya sebagai bio-indicator maupun bio-control bagi lingkungan yang sehat, capung dalam ancaman seturut dengan degradasi lingkungan akibat menurunnya daya dukung-daya tampung lingkungan.

Pada gilirannya hal tersebut akan berdampak pada kehidupan manusia modern yang hari ini pun telah banyak terjangkit penyakit degeneratif akibat perubahan pola gaya hidup. Ditambah dengan menurunnya daya dukung lingkungan akibat aktivitas manusia, tantangan manusia modern dalam mengakses lingkungan yang sehat semakin berat di masa datang.

Sungai-sungai di Indonesia, yang penting untuk kegiatan sosial, pertanian, dan industri hari-hari ini sebagian besar berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan karena tercemar limbah domestik (rumah tangga) dan industri. Kondisi kesehatan lingkungan sebuah sungai menjadi gambaran bagaimana kondisi kesehatan daerah aliran sungai (DAS) sungai tersebut.

Idealnya DAS sebuah sungai minimal menyisakan 30 persen wilayahnya bagi penutupan tegakan hutan. Dalam besaran angka minimal tersebut, fungsi hutan sebagai pengatur hidro-orologi, pencegah banjir-longsor lahan, kawasan resapan air, serta fungsi lingkungan lainnya termasuk peyediaan air bersih bagi kehidupan berada dalam ambang minimal dalam menyediakan daya dukung bagi DAS tersebut.

Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah atau Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) dalam sebuah penelitian menyebutkan 400-an sungai di Jawa Timur tercemar dalam kategori ringan, sedang hingga berat.

Pada tahun 2013 Green Cross Switzerland dan Blacksmith Institute menyatakan Sungai Citarum sebagai salah satu tempat paling tercemar di dunia. Peringkat Citarum berada dibawah Agbogbloshie, gunung sampah elektronik di Ghana, dan Chernobyl, kota yang mati akibat radiasi nuklir yang disebabkan bocornya reaktor nuklir di Rusia.

Tiga masalah utama teridentifikasi pada Citarum yang memiliki panjang 269 kilometer ini. Lahan kritis yang menyebabkan erosi tanah, pengendapan/sedimentasi di sepanjang aliran sungai yang menyebabkan bencana banjir, serta pencemaran kotoran ternak, sampah rumah tangga, dan limbah pabrik. Berbagai senyawa beracun muncul di daerah aliran sungai (DAS) Citarum yang berdampak buruk pada 35 juta orang di 13 kabupaten/kota yang dilaluinya.

Dalam catatan satuharapan.com, bulan September lalu Sungai Bengawan Solo yang melalui wilayah Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, diduga tercemar limbah menyusul tampilan airnya yang berwarna hitam. Kepala Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Ngawi Joko Sutrisno mengatakan hasil uji sampel laboratorium Mojokerto oleh dinasnya diketahui bahwa air sungai besar tersebut positif tercemar limbah kimia berbahaya.

Meski tidak sampai menimbulkan keracunan ataupun kematian, namun dimungkinkan limbah tersebut berpotensi mengganggu kesehatan warga dan merusak ekosistem air. Joko Sutrisno menduga, limbah itu berasal dari kawasan hulu sungai di daerah luar Ngawi mengingat hasil penelusuran sepanjang aliran bengawan di wilayah Ngawi, tidak didapati tanda-tanda adanya pabrik yang membuang limbah berbahaya tersebut.

Di Indonesia terdapat 458 daerah aliran sungai (DAS) dimana sebanyak 108 DAS sudah dikategorkan kritis. Secara umum sungai-sungai di Jawa memiliki masalah yang sama. Kondisi ini menjadi gambaran tidak tumbuh-berkembangnya budaya sungai bagi masyarakat sekitar sungai dan masyarakat luas dimana sungai masih dijadikan pembuangan sampah-limbah domestik bahkan industri. Selain berdampak terhadap air bersih warga di sekitar sungai, ekosistem yang ada di sungai pun tergangggu, bahkan bisa bermigrasi karena tidak bisa beradaptasi dengan sungai yang tercemar,

Terkait menurunnya daya dukung lingkungan akibat pencemaran udara, air, tanah, dihubungi secara terpisah, sosiolog Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) Puji Qomariyah mengaitkan dengan revolusi hijau di Indonesia yang merupakan  bagian perubahan yang terjadi dalam sistem pertanian dalam pola tradisional ke modern dengan tujuan efektivitas-efisiensi pengolahan lahan dan produktivitas hasil pertanian yang mensyaratkan adanya penyediaan air melalui sistem irigasi, sarana produksi pertanian (saprotan) dan juga sarana produksi padi (saprodi) termasuk di dalamnya benih-bibit unggul, tersedianya pupuk yang teratur, dan juga bahan kimia pemberantas hama dan penyakit tanaman.

Revolusi hijau di Indonesia yang terjadi hampir bersamaan dengan booming kayu bulat justru menjadi awal kerusakan ekosistem, ketergantungan petani pada pupuk dan zat kimia pembasmi hama merusak dan memutus mata rantai alami pembasmi hama dan penyakit. Ketika ketergantungan tinggi terhadap zat kimia dan hilangnya mata rantai predator pembasmi alami (bio-control) pada gilirannya akan berpengaruh terhadap kedaulatan pangan dan terganggunya produksi bahan pangan lokal.

“Bagaimana kemudian deforestasi yang berlangsung masif sejak pertengahan tahun 1970-an dengan karakternya yang padat modal dan revolusi hijau yang didukung mekanisasi-industrilisasi menjadi pintu masuk bahan-bahan kimia sebagai salah satu bagian dari pest control management kala itu,” jelas Puji kepada satuharapan.com, Selasa (3/11).

 Puji menambahkan kejadian malaria misalnya yang banyak terjadi di luar Jawa salah satunya disebabkan oleh keterbukaan hutan dan beralih fungsinya lahan menjadi hutan monokultur ataupun perkebunan telah menghilangkan fungsi hutan sebagai habitat utama serangga salah satunya capung. Belum lagi jika ditambah dengan penggunaan pestisida-insektisida. Berkurang atau bahkan hilangnya capung sebagai sebagai salah satu predator alami serangga berstatus hama pada kawasan hutan tersebut kerap diikuti dengan meningkatnya jumlah jentik nyamuk dan vektor penyakit pada perairan-lahan basah di wilayah tersebut.

Penelitian yang dilakukan sosiolog Lehigh University, Kelly Austin pada tahun 2015 berjudul “Anthropogenic forest loss and malaria prevalence: a comparative examination of the causes and disease consequences of deforestation in developing nations” menyebutkan deforestasi dapat mempengaruhi prevalensi malaria melalui beberapa mekanisme, salah satunya adalah: meningkatkan jumlah sinar matahari dan genangan air di beberapa area. Dalam penelitian tersebut secara umum banyaknya jumlah genangan air dan sinar matahari sangat bagus bagi pertumbuhan dan perkembangbiakan sebagian besar spesies nyamuk Anopheles yang menjadi vektor utama transmisi malaria.

Bisa dibayangkan, jika terjadi pembukaan hutan dan alih fungsi lahan diikuti dengan pencemaran air, udara, tanah pada kawasan hutan tersebut spesies capung sebagai salah satu predator jentik malaria yang sensitif terhadap perubahan lingkungan, pencemaran udara-air-tanah akan bermigrasi dari wilayah tersebut atau bahkan mati saat masih dalam fase naiad/larva.

Menjadi predator baik saat masih menjadi larva/nimfa maupun saat sudah berubah menjadi capung dewasa, selain menjadi bio-indicator lingkungan yang sehat, capung juga menjadi bio-control serangga berstatus hama-pembawa vektor penyakit yang disebabkan oleh jasad renik maupun jentik nyamuk. Dalam catatan, nyamuk menjadi hewan/serangga penyerang terbesar yang menyebabkan pada kematian manusia. Kasus kematian akibat gigitan nyamuk malaria mencapai 600.000 jiwa/tahun.

Membandingkan jumlah jenis capung di Indonesia dengan capung di negara Brasil ada benang merah dimana hutan hujan tropis (tropical rain forest) sesungguhnya surga bagi berkembangnya capung-capung. Di Indonesia sendiri jenis capung terbanyak terdapat di Papua mencapai 400-an jenis/spesies. Di masa lalu keberadaan hutan hujan tropis di Indonesia merupakan mega-biodiversity sumber plasma nutfah. Eksploitasi pada hutan hujan tropis dengan berbagai alasan telah mengubah bentang alam sekaligus menurunkan daya dukung-tampung lingkungan terlebih ketika laju deforestasi yang tinggi diiringi dengan perubahan fungsi hutan-lahan bagi peruntukan yang lain.

Rumah bagi capung, rumah bagi kehidupan

“Pengetahuan tentang capung dan habitat serta perannya sampai saat ini belum cair di publik, meskipun pergerakan dari teman-teman peneliti-pemerhati-pecinta capung cukup pesat berkembang di berbagai kota,” papar Wahyu tentang pergerakan IDS bersama komunitas-komunitas pecinta-pemerhati capung.

Dengan pameran ini Wahyu berharap paling tidak menambah informasi ke publik tentang peran-manfaat capung bagi kehidupan manusia serta keragamannya bisa diketahui publik, Hal-hal kecil sepele yang ada di sekitar kita sering tidak diperhatikan meskipun memiliki peran yang efektif bagi kehidupan manusia.

Eksperimen Wahyu pada areal seluas 1 hektar di Banyuwangi menjadi menarik ketika tawaran metode tersebut menggunakan capung sebagai upaya pengendalian hama tanaman seperti wereng yang kerap menyerang padi dengan menghadirkan keragaman capung di areal pertanian sebanyak-banyaknya. Eksperimen tersebut dilakukan Wahyu pada areal seluas 1 hektar di Banyuwangi. Pada tahap awal ditemukan 12 jenis capung di areal tersebut.

Dunia pertanian kerap mengaitkan bahwa capung menjadi predator bagi serangga yang berpotensi menjadi hama. Dengan demikian capung menjadi pengendali populasi serangga di alam.

“Kalau benar capung itu menjadi predator yang efektif untuk serangga-serangga yang statusnya hama (seperti wereng), ya sudah bagaimana caranya menghadirkan keragaman capung di area lahan pertanian sebanyak-banyaknya untuk mengendalikan,” papar Wahyu tentang rekayasa lingkungan yang dilakukan.

Dalam eksperimen tersebut Wahyu membuat kolam-kolaman dengan ukuran 1x2 m2 di tiap pojok dan tengah lahan pertanian tersebut dan ditanami dengan umbi-umbian di pinggirnya sementara di tengah kolam ditanam kangkung.

“Di pematangnya saya tanami kacang panjang dengan ajir (dari belahan bambu) untuk menjalarkan tanaman kacang. Dalam waktu 3-5 bulan saya lakukan pengamatan ternyata jumlah capung bertambah menjadi 22 jenis. Rekayasa yang saya buat itu (kolam, penanaman di pinggir-tengah kolam serta pematang) sebenarnya memberikan ruang bagi capung untuk hinggap karena ada beberapa jenis capung yang memerlukan itu. Adanya tempat hinggap dan berdatangannya capung menjadi penanda sumber makanan (mangsa) bagi capung tersebut,” papar Wahyu.

Wahyu menambahkan dalam eksperimen tersebut juga menandakan bahwa air yang ada di kolam-kolam pada areal pertanian tersebut masih belum tercemar insektisida-pestisida ditandai dengan bertambahnya capung jarum sawah (Argiocnemis spp dan Ischnura senegalensis). Penambahan capung tersebut bisa mengendalikan serangga-serangga agar tidak menjadi hama.

“Capung jarum itu naiad/larvanya merupakan jenis yang sensitif terhadap air yang tercemar. Adanya pertambahan capung jarum menandakan air kolam yang bersumber dari air tanah belum tercemar. Pada gilirannya dengan kemampuan terbang di sela-sela tanaman padi, capung jarum tersebut bisa menjadi salah satu pengendali (bio-control) hama wereng sebagai predator alaminya. Hasil dan temuan eksperimen ini pernah kita sampaikan ke stakeholder di bidang pertanian, meskipun respon mereka sampai hari ini ya biasa-biasa saja,” jelas Wahyu.

Kehadiran capung menjadi penanda awal sehatnya ekosistem sebuah kawasan. Dikenal dengan warna serta bentuk tubuhnya yang menarik dan eksotik, capung kerap mengalami perburuan oleh manusia dalam arti sesungguhnya untuk sekedar diawetkan menjadi hiasan atau bahkan diselundupkan ke luar negeri dalam perdagangan gelap. Praktik ini cukup mengkhawatirkan mengingat peran-fungsi capung di alam sebagai bio-indicator dan bio-control justru lebih besar dibanding fungsi estetis capung menghiasi dinding-dinding dalam bentuk spesimen serangga awetan.

Lebih mengkhawatirkan lagi ketika kehadiran atau ketidakhadirannya di alam belum disadari sebagai sebuah pesan dimana ada air-perairan yang bersih-sehat di situ ada capung-capung yang hinggap dan beterbangan.

Bagaimanapun air adalah sumber kehidupan. Masihkah ada capung di sekitarmu?

 

UKRIDA
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home