Loading...
INSPIRASI
Penulis: Sabar Subekti 08:11 WIB | Sabtu, 17 Agustus 2013

Masihkah Lagu Indonesia Raya Menginspirasi Kehidupan Kita?

Patung Wage Rudolf Supratman (1903 -1938) pencipta lagu kebangsaan \\\\\\\"Indonesia Raya.\\\\\\\" (Foto: istimewa)

SATUHARAPAN.COM – Apa yang membuat pemenang hadiah Noble perdamaian dan mantan Presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela, bertahan di tengah tekanan dan siksaan selama 30 tahun di penjara? Dia mengaku terinspirasi oleh sebuah puisi Victoria berjudul "Invictus" (tak terpatahkan). Salah satu barisnya berbunyi "Aku adalah kapten bagi jiwaku."

Lagu "Amazing Grace", yang diciptakan John Newton (1725–1807), juga menginspirasi banyak orang tentang perubahan hidup. John Newton adalah pekerja pada kapal perdagangan manusia (perbudakan dari Afrika) dan kemudian berubah menjadi pendukung penghapusan perbudakan.

Pada hari-hari mengenang kemerdekaan Indonesia, masihkah kita menggali inspirasi dari "Indonesia Raya”, lagu kebangsaan kita? Sayangnya, terhadap lagu kebangsaan kita ikut-ikutan korup, dan sering hanya menyanyikan stanza pertama. Stanza kedua dan ketiga terlupakan, dan pesannya terabaikan.

Pada dua stanza itu, ada frasa penting bagi kehidupan bangsa ini. Pada stanza kedua disebutkan: Indonesia tanah yang mulia (yang sekarang kita sia-siakan dengan kehancuran lingkungan), Indonesia tanah pusaka. Pusaka kita semua (tetapi banyak dikuasai oleh kelompok elite saja, dan banyak warga yang terpinggirkan di tanahnya sendiri). Kemudian, Sadarlah hatinya, sadarlah budinya (banyaknya korupsi, sementara kemiskinan dan penganguran masih banyak, berarti  banyak yang hatinya tidak sadar dan tidak berbudi).

Pada stanza ketiga ada frasa: Indonesia tanah yang suci (sayangnya kita sering tidak menjaga kecusian ini, termasuk sebagai rahmat Sang Pencipta), Marilah kita berjanji Indonesia abadi (sayangnya, justru integrasi bangsa ini semakin ringkih). Selamatlah rakyatnya, Selamatlah putranya, Pulaunya, lautnya, semuanya (tetapi tragedi nyaris tak pernah sepi.)

Berikut ini lirik lengkap dari dua stanza itu: Stanza II: Indonesia tanah yang mulia / tanah kita yang kaya / Di sanalah aku berdiri / untuk selama-lamanya.// Indonesia tanah pusaka / Pusaka kita semuanya / Marilah kita mendoa / Indonesia bahagia. // Suburlah tanahnya / Suburlah jiwanya / Bangsanya, rakyatnya, semuanya / Sadarlah hatinya / sadarlah budinya / untuk Indonesia Raya.//

Stanza III: Indonesia, tanah yang suci / Tanah kita yang sakti / Di sanalah aku berdiri / N'jaga ibu sejati. // Indonesia tanah berseri / Tanah yang aku sayangi. / Marilah kita berjanji / Indonesia abadi. // Selamatlah rakyatnya / Selamatlah putranya / Pulaunya, lautnya, semuanya / Majulah Negerinya / Majulah pandunya / untuk Indonesia Raya.

Jadi, masihkan lagu ini menginspirasi kehidupan kebangsaan kita?

editor: Sabar Subekti

email: inspirasi@satuharapan.com

 


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home