Loading...
HAM
Penulis: Bayu Probo 11:18 WIB | Senin, 23 Mei 2016

Masjid Ahmadiyah Kendal Dirusak, Alquran Diobrak-abrik

Struktur bangunan Masjid Ahmadiyah Gemuh, Kendal, Jawa Tengah. (Foto-foto: Ahmadiyah Gemuh)

KENDAL, SATUHARAPAN.COM – Masjid Ahmadiyah Gemuh, Kendal, Jawa Tengah dihancurkan tadi, Minggu (22/5) malam saat hujan. Alquran turut diobrak-abrik dan dibiarkan berserakan.

Tidak ada laporan korban jiwa dalam perusakan tersebut. Sebab, masjid dalam kondisi mangkrak akibat pembangunannya terhenti oleh kasus pelarangan kegiatan pada empat tahun lalu. Beberapa bulan lalu, pembangunan dilanjutkan lagi. Namun, buku-buku dan Alquran yang disimpan di ruangan permanen dalam masjid diobrak-abrik.

Alquran jadi korban perusakan masjid.

Sejauh ini, belum ada yang mengaku bertanggung jawab atas perusakan tersebut juga motifnya. Namun, berdasarkan saksi sejak masjid dibangun lagi, terjadi intimidasi pada para tukang yang bertujuan menghalangi pembangunan. Bahkan, sebagian tukang mundur dari pekerjaannya karena tidak tahan intimidasi.

Empat Tahun Lalu

Penganut Ahmadiyah di Gemuh Kendal, Jawa Tengah masih mengalami tekanan dari lingkungan masyarakatnya ataupun aparat pemerintahan. “Tekanan yang dialami penganut Ahmadiyah itu adalah diminta menandatangani surat pernyataan agar penganut Ahmadiyah tak melakukan kegiatan-kegiatan Ahmadiyah,” kata Syaiful Uyun, mubalig Ahmadiyah Jawa Tengah, di Semarang, pertengahan Juni 2012 lalu.

 “Yang meminta penandatanganan adalah pejabat kecamatan beserta sekelompok warga,” kata Syaiful.

Massif Setelah Orde Baru

Dr. Munawar Ahmad dalam bukunya, Candy’s Bowl: Politik Kerukunan Umat Beragama di Indonesia, Pada zaman Belanda, pengawasan dilakukan oleh pemerintah terhadap kehidupan beragama. Dulu, yang mengawasinya adalah Het Kantoor voor inlandsche zaken. Munawar menambahkan bahwa agama menjadi entitas yang efektif dalam memunculkan timbulnya kekerasan. “Konflik berbasis agama, merupakan konflik yang dipacu dan dipicu oleh perselisihan dengan entitas agama terlibat langsung,” kata Munawar.

Konflik yang terjadi terhadap Ahmadiyah, tutur Munawar, berbeda setiap fasenya. Pada tahun 1925-1945 pola konflik bersifat singular. Konflik bersifat atomis sebagai dampak perselisihan antara individu. Di sana belum ada gerakan massif dan kolektif. Kebencian terhadap Ahmadiyah lebih karena alasan ajaran Ahmadiyah. Dan kebencian itu yang kemudian melahirkan kekerasan.

Pola itu berbeda dengan yang terjadi pasca-tahun 1970. Sejak tahun 1970, konflik sudah menggunakan kekuatan kolektif. Keterlibatan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam peta kekerasan menjadi indikator lahirnya pola kekerasan baru yakni collective violence.

Yang terakhir, Munawar menuturkan satu pola baru yang disebut sebagai structural violence. Di sini kekerasan sudah terstruktur dan terjadi sejak dikeluarkannya SKB 3 Menteri tentang Ahmadiyah tahun 2008.

Dalam situasi itu, Munawar menawarkan perspektif tentang politik kerukunan yang disebutnya sebagai candy’s bowl atau wadah permen. Ini merupakan imajinasi dari bentuk sosial yang berupaya menampung segala warna, rasa, tampilan dari sebuah keunikan masyarakat. Meski warna, rasa dan tampilan masing-masing elemen itu mencolok, akan tetapi tiap elemen itu tidak saling mengubah warna, rasa maupun tampilan. Akan tetapi mereka di dalam wadah itu saling menguatkan satu dengan yang lain sebagai masyarakat yang heterogen.


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home