Google+
Loading...
SAINS
Penulis: Sotyati 11:19 WIB | Rabu, 03 September 2014

Masuk Era TI, Guru Tak Boleh Kalah dari Murid

• Guru di lingkungan SMAK Penabur menjalani uji kompetensi information and communication technology.
Guru-guru SMAK Penabur menjalani uji kompetensi ICT (information and communication technology) di laboratorium bahasa dan laboratorium komputer. (Foto: bpkpenabur.or.id)

SATUHARAPAN.COM – Melek teknologi, berpikir kritis, dengan rasa ingin tahu yang sangat besar kini menjadi ciri umum murid-murid sekolah di era teknologi informasi ini. Penilaian itu dikemukakan Maria Bernadette Betaningdyas, guru pada Primary Years Program di Sekolah Ciputra, Surabaya, tentang murid-muridnya.

Pendapat Betaningdyas itu tak jauh berbeda dengan pendapat Prof Dr HAR Tilaar. Guru Besar Emeritus Universitas Negeri Jakarta (UNJ) itu merujuk pada masyarakat abad ke-21, yang disebutnya masyarakat yang hidup di dalam kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, yang ia singkat “ipteks”.

Kenyataan seperti itu, seperti dikemukakan Ketua BPK Penabur Jakarta Ir Robert Robianto, mendatangkan konsekuensi tersendiri bagi sekolah, pengelola sekolah, dan tentu bagi guru sendiri dalam menghadapinya.

Seiring kemajuan zaman, ada perbedaan mengurus anak-anak zaman sekarang yang disebut Generasi Y (Millennial Generation, yakni generasi, seperti dikatakan para peneliti demografi, dilahirkan awal 1980 – awal 2000, Red). “Kalau guru mengajar dengan pola yang sama, tidak mengikuti perkembangan zaman, mereka bisa di-bully oleh murid-muridnya,” Robert menggambarkan.

Guru masa kini, menurut Prof Tilaar, seyogianya menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.

Mantan Presiden BJ Habibie, yang punya kepedulian besar pada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, ketika menjadi pembicara kunci pada suatu Konvensi Pendidikan yang diselenggarakan Persatuan Guru RI, menegaskan guru-guru harus lebih canggih daripada murid-muridnya, mengingat generasi muda kini sudah mampu memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dengan baik.

Betaningdyas, lulusan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, mengamini pendapat Prof Tilaar dan Prof Habibie di atas. Dengan menggenggam pemahaman seperti itu, ia menyadari menjadi guru harus terus mencoba menjadi long life learner. “Artinya, ya, terus belajar dan aware dengan kemajuan teknologi sekarang. Kita juga harus bisa belajar sesuatu dari murid, jadi tidak melulu mengajari mereka. Terkadang kita juga belajar dari mereka,” katanya.

Yang tak kalah penting, menurut pendapatnya, guru mempunyai cara menghadapi murid-murid zaman sekarang.

Guru yang Baik

Grup band Seurieus dalam sebuah lantunan lagu pernah menyanyikan “rocker juga manusia”. Dalam hal ini, guru pun tak jauh berbeda. Guru juga manusia, dengan suasana hati naik-turun. Namun, dalam keadaan apa pun, menurut Yuventius dari Jakarta, Indonesia, seperti dapat dibaca di laman unicef.org, guru harus selalu tersenyum walaupun murid-muridnya sedang mengacaukan suasana hatinya.

Laman Badan Anak-anak PBB itu pernah mengumpulkan pendapat dari seluruh dunia tentang “Menjadi Guru yang Baik”. Definisi yang dimuat bukanlah definisi umum yang berlaku di seluruh dunia. Juga bukan definisi yang dilontarkan ahli pendidikan terkenal.

Franziska Lindenthal asal Kiel, Jerman, di laman itu menuliskan pendapatnya, "Guru, sebagai pamong, haruslah menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang akan ditularkan kepada peserta didik dan membawa peserta didik memasuki dunia yang tanpa batas karena kemajuan teknologi komunikasi dan ilmu pengetahuan dan seni. Guru sebagai ahli dalam bidangnya atau sekurang-kurangnya ahli, dapat membawa peserta didik memasuki dunia ilmu pengetahuan serta dunia komunikasi," ujarnya.

Guru yang baik adalah guru yang selalu sabar, yang selalu berkeinginan meningkatkan metode pengajarannya, yang menguasai subjek yang diajarkannya, yang selalu termotivasi memberikan atau menularkan minat yang sama atas subjek yang ia kuasai untuk muridnya. Guru yang baik juga harus memahami tingkah laku dan dinamika anak-anak didiknya. Guru yang baik tidak akan pernah lupa bahwa ia juga pernah kecil dan jadi murid.

Marie Garcia dari Oyster Bay, New York, Amerika Serikat, di laman yang sama menambahkan, seorang guru yang baik memungkinkan siswa mengajukan pertanyaan. Ia menghormati semua siswa dan mendorong kinerja yang baik. Guru yang baik memiliki aturan kelas dan prosedur yang membantu siswa mengetahui apa yang diharapkan dari mereka dan bagaimana siswa dapat membantu diri mereka sendiri.

Pendapat Prafull Bhasarkar dari Babupeth, Chandrapur, India, juga patut disimak. Guru yang baik, menurut pendapatnya, adalah orang yang membantu murid-muridnya dalam segala hal. Guru membuat murid-muridnya mampu menjalani kehidupan yang lebih baik. Dia mengajarkan siswa untuk mampu mengambil keputusan dalam semua kondisi.

Program Pelatihan

Memang, tidak mudah menjadi guru yang baik, apalagi jadi idola murid-murid. BPK Penabur Jakarta, seperti dikemukakan Robert Robianto, mempersiapkan guru-guru dengan memasukkan terlebih dulu mereka ke pendidikan khusus untuk guru, Penabur Learning Center. “Sebelum ke kelas, masuk ke pusat pelatihan terlebih dulu selama enam bulan,” kata Robert. 

Guru di lingkungan SMAK Penabur, contohnya, menjalani uji kompetensi ICT (information and communication technology), untuk mengetahui kemampuan guru dan karyawan di bidang itu.

Kesejahteraan guru juga menjadi perhatian pengurus yayasan. Dalam periode tertentu, guru diajak bertamasya ke luar negeri. “Sebagian besar murid bepergian ke luar negeri setiap liburan sekolah. Kalau guru bekerja dengan baik, kami juga akan mengajak mereka berlibur ke luar negeri dalam periode tertentu,” katanya.

Jika guru termotivasi mengajar dengan baik, dan sekolah memfasilitasi kegiatan belajar-mengajar dengan baik, bukan hal mustahil akan melahirkan banyak guru yang baik, seperti yang diharapkan banyak orang di laman unicef.org.

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home