Google+
Loading...
INSPIRASI
Penulis: Endang Hoyaranda 07:20 WIB | Senin, 25 Februari 2019

Maya Angelou

”Kau bisa menembakku dengan kata-katamu, kau bisa mengirisku dengan matamu, kau dapat membunuhku dengan kebencianmu, akan tetapi, seperti udara, aku akan tetap naik” (Maya Angelou).
May Angelou (foto: istimewa)

SATUHARAPAN.COM – Maya Angelou adalah pribadi yang luar biasa.

Terlahir sebagai anak Afro-American bernama Marguerita Johnson, pada usia yang sangat muda orang tuanya berpisah. Maya beserta kakak lakinya dikirimkan ayah mereka untuk tinggal bersama nenek mereka, seorang pemilik toko kecil yang tangguh, yang bisa bertahan sekalipun seringkali dilecehkan dan dirundung oleh orang kulit putih di mana ia tinggal. Masa itu, di pertengahan abad ke 20, suasana rasisme di Amerika Serikat amat kental.

Menjadi warga yang terpinggirkan adalah keseharian Maya. Dengan  keluarga yang berantakan, kehidupan dua kakak beradik itu semakin kacau, berpindah tempat tinggal bersama nenek, kemudian ayah, lalu ke tempat ibu. Kemudian kembali ke tempat nenek, pindah lagi ke tempat ibu dari neneknya. Kedua anak itu mengalami demikian banyak perubahan nilai moral dan cara hidup yang patut membuat mereka gegar nilai terus- menerus.

”Mereka dipindah-pindah seperti buah catur,” demikian sebuah resensi menuliskannya. Dan ketika tinggal bersama ibunya itulah, Maya diperkosa oleh teman lelaki ibunya. Beberapa waktu kemudian lelaki yang memperkosanya ditemukan terbunuh. Maya merasa seakan dialah yang membunuh laki itu karena ia sempat membocorkan kejadian perkosaan itu kepada seorang pamannya dan sepertinya paman-paman Maya lalu membunuh lelaki itu.

Begitu besar rasa bersalah Maya,  sehingga ia takut berkata apa pun karena ”setiap kata yang ia keluarkan bisa membunuh orang”. Konon selama lima tahun ia membisu, tidak berkata-kata apa pun akibat traumanya itu. Dalam masa itulah ia belajar banyak dari buku-buku yang ia baca, dan jatuh cinta pada tulisan Shakespeare.

Trauma Maya tidak berhenti di situ. Pernah ia dibawa bepergian oleh ayahnya yang menimbulkan amarah besar pasangan ayahnya, sehingga  Maya ditinggalkan di tempat kawan ayahnya, namun ia melarikan diri dan mendapatkan dirinya bersama kelompok anak muda tunawisma di penimbunan sampah yang kemudian menjadi tempat tinggalnya  sampai ibunya datang menjemputnya. Pada usia 16 tahun ia melahirkan anak sebagai orang tua tunggal.

Akan tetapi, Maya bukanlah Maya kalau ia tidak berjuang untuk bangkit setiap kali terjatuh. Ia berusaha untuk mandiri dengan mencari kerja dan menjadi kondektur bis berkulit hitam pertama di California. Ia menjadi pejuang antirasisme, dan kemudian bergabung dengan Martin Luther King.

Suatu hari kelak, ketika ia sudah keluar dari status terpinggirkannya, ia menjadi ”Perempuan Penulis Amerika Hitam Pertama”. Ia menulis buku yang diberinya judul: I know Why the Caged Birds Sing ’Saya tahu mengapa burung yang dikurung di sangkar tetap bernyanyi’. Sekalipun mereka tidak berhasil terbebas dari sangkarnya meski terus berusaha mendobrak hingga terluka, namun mereka memiliki pesan kepada dunia luar, yaitu bahwa perjuangan tak boleh terhenti.

Maya memang akhirnya terbebas dari sangkarnya dan berkat semangatnya untuk terus bangkit, ia menjadi perempuan Amerika yang dihormati. Pada pelantikan Bill Clinton sebagai Presiden, Maya diundang untuk membacakan puisinya berjudul On the Pulse of Morning, yang merupakan pesan untuk tidak takut melihat ke belakang sebelum kemudian bergerak maju penuh harap.

Maya menjadi semakin ternama setelah itu. Maya juga menjadi penasihat bagi Oprah Winfrey, yang sangat menginspirasi dunia melalui ‘talkshows’ nya.

Rahasia kehidupan Maya yang senang dibagikannya adalah: senantiasalah mencintai, memaafkan, membagikan kasih kepada lingkungan, menjadi pelangi bagi awan kelam orang lain. Mengampuni, menurut Maya, adalah hadiah terbesar yang bisa diberikan orang kepada dirinya sendiri: maafkanlah semua orang yang pernah menyakitimu!

Kehidupan yang dialami Maya bukan milik Maya seorang. Kita banyak membaca kisah kehancuran yang dilawan dengan perjuangan untuk bangkit. Ada kekuatan luar biasa di belakang setiap perjuangan, jika segala sesuatu itu diperjuangkan untuk sesuatu yang mulia. Selalu ada tangan yang tak tampak yang akan memberi jalan, asalkan tetap tangguh untuk berjuang.

Kiranya prinsip hidup Maya Angelou dapat menjadi inspirasi bagi setiap orang yang merasa terpinggirkan.

Editor : Yoel M Indrasmoro

Back to Home