Google+
Loading...
OLAHRAGA
Penulis: Reporter Satuharapan 09:38 WIB | Kamis, 06 Desember 2018

Medali Emas Olimpiade Tokyo 2020 Didulang dari Limbah Elektronik

Ilustrasi. Atlet triathlon Amerika Serikat, Gwen Jorgensen, meraih medali meas dalam Olimpiade Rio 2016. (Foto: Samoa Observer/David Goldman)

SATUHARAPAN.COM – Keunikan menanti ketika para atlet yang berlaga dalam Olimpiade Tokyo 2020 menerima medali.

Logam yang akan menggantung pada leher mereka bakal dibuat dari berbagai telepon seluler bekas pakai jutaan warga Jepang.

Diego Arguedas Ortiz, wartawan bidang sains dan perubahan iklim, BBC Future, menuliskan laporan, menurut rencana sebanyak 5.000 medali emas, perak, dan perunggu akan didulang dari limbah elektronik, sebagai bagian dari komitmen Jepang dalam menggunakan materi daur ulang.

Limbah elektronik (e-waste) yang mencakup baterai bekas hingga telepon seluler, merupakan salah satu jenis sampah domestik paling banyak di dunia saat ini.

Limbah jenis ini memang sangat beracun, tapi juga tergolong sebagai “tambang urban”, mengingat banyak logam berharga terkandung pada barang-barang elektronik.

Panitia penyelenggara Olimpiade Tokyo 2020 melihat fakta ini sebagai kesempatan. Mereka kemudian mengundang warga Jepang menyumbangkan ponsel bekas dan barang elektronik usang lainnya.

Melalui cara ini, warga dapat membuang limbah elektronik dengan aman, di sisi lain pembuat medali mendapat pasokan sumber daya.

Kurang dari setahun sejak proyek pengumpulan dimulai pada April lalu, panitia Olimpiade telah mendapat 16,5 kilogram emas (54,5 persen dari target seberat 30,3 kg) dan 1.800 kg perak (43,9 persen dari target seberat 4.100 kg).

Adapun target pengumpulan untuk perunggu seberat 2.700 kg sudah tercapai.

“Inisiatif ini menjadi kesempatan bagi orang-orang di seantero negeri untuk berpartisipasi dalam Olimpiade Tokyo 2020,” sebut juru bicara panitia Tokyo 2020, Masa Takaya, kepada BBC Future.

Perjuangan Mengatasi Limbah Elektronik

Proyek ini juga mencerminkan harapan dalam perjuangan mengatasi limbah elektronik.

Data PBB menyebutkan, masyarakat dunia menghasilkan 44,7 juta ton limbah elektronik pada 2016, angka yang terus menanjak antara 3 persen hingga 4 persen setiap tahun.

Sebagai gambaran, jika Anda menumpahkan seluruh limbah itu ke truk-truk berbobot 40 ton dan memiliki 18 roda, diperlukan 1,23 juta unit truk untuk menampungnya—cukup untuk memadati jalan dua lajur antara Paris dan Singapura.

Hingga 2021, jumlah limbah elektronik diperkirakan mencapai 52 juta ton.

Sebagian besar limbah ini tidak pernah sampai ke pusat pengolahan, baik itu di Jepang maupun di tempat lain.

Laporan PBB memperkirakan hanya 20 persen dari barang elektronik usang yang berhasil didaur ulang. Sisanya memenuhi tempat pembuangan akhir, berlalu lalang dari satu negara ke negara lain (biasanya dari negara kaya ke negara kurang berkembang), atau berdebu di laci rumah.

Dari sudut pandang ekologi, fakta ini jelas buruk karena bahan beracun yang terkandung pada barang elektronik mencemari tanah dan air jika tidak ditangani secara benar. Adapun bagi negara miskin tambang, barang elektronik usang yang tidak diolah justru amat disayangkan.

“Jepang adalah negara miskin sumber daya alam dan mereka tidak punya peluang lain untuk memperoleh sumber daya yang jarang dan berharga selain mendulang sampah,” kata Ruediger Kuehr, pakar limbah elektronik dari Universitas PBB dan penulis laporan PBB.

Dalam beberapa kasus, menurut Maria Holuszko selaku asisten profesor dari Universitas British Columbia, nilai satu ton material yang didulang dari limbah elektronik mencapai 100 kali lipat dari material serupa yang didapat dari penambangan konvensional.

Contohnya, terdapat tiga hingga empat gram emas dari satu ton bijih logam yang didapatkan dari tambang. Sedangkan dari satu ton telepon seluler ada sebanyak 350 gram emas.

Penambangan barang elektronik ini tidak hanya mengatasi limbah elektronik, tapi juga mengurangi penambangan konvensional dari tambang.

Holuszko memperkirakan penambangan barang elektronik bisa memenuhi 25 persen hingga 30 persen permintaan emas dari seluruh dunia.

“Statistik langsung menunjukkan bahwa ada peluang bisnis,” kata Holuszko, yang turut mendirikan Pusat Inovasi Penambangan Urban di Universitas British Columbia.

Mendapat Sokongan dari Warga Jepang

Penggunaan materi daur ulang untuk membuat medali bukan pertama kalinya terjadi di Olimpiade Tokyo 2020.

Hampir 30 persen bahan medali perak dalam Olimpiade Rio 2016 didapat dari cermin usang, solder bekas, plat sinar-X. Adapun 40 persen logam tembaga yang digunakan untuk membuat medali perunggu didapat dari sampah baru.

Kemudian, pada Olimpiade Musim Dingin di Vancouver pada 2010, sebanyak 1,5 persen kebutuhan logam untuk pembuatan medali didapat dari logam daur ulang di Belgia.

Upaya panitia Olimpiade Tokyo 2020 unik dalam dua hal. Pertama, mereka bertujuan menghasilkan semua medali dari 100 persen materi daur ulang. Kedua, materi tersebut didapat hanya dari limbah elektronik warga Jepang.

Iktikad itu mendapat sokongan dari warga Jepang. Hingga Juni 2018, toko-toko ponsel telah mengumpulkan 4,32 juta ponsel bekas dari sumbangan publik. Kemudian pemeritah daerah menerima sekitar 34.000 ton perangkat elektronik ukuran kecil.

“Saya membawa lima ponsel usang yang sudah tidak saya gunakan,” ujar seorang perempuan lansia Jepang dalam rekaman video yang diproduksi Kementerian Luar Negeri Jepang. “Senang rasanya menjadi bagian dari Olimpiade,” tambahnya.

Dari 35 hingga 40 ponsel, sebanyak satu gram emas bisa didulang. Jumlah tersebut merupakan seperenam dari medali emas seberat enam gram yang ditentukan Komite Olimpiade Internasional. (Logam lain yang terkandung di dalam medali emas sejatinya perak).

Ikhtiar untuk mendapatkan logam-logam tersebut menarik banyak perhatian dari sejumlah kalangan. Beberapa peraih medali emas dalam olimpiade-olimpiade sebelumnya menyumbangkan gawai lama mereka. Bahkan, Menteri Luar Negeri Inggris, Boris Johnson, urun serta saat mengunjungi Tokyo pada 2017.

Bagaimanapun, kesuksesan proyek medali ini merupakan simbolis dan hanya akan merujuk salah satu tantangan besar kesinambungan dalam olimpiade.

Barang elektronik yang dikumpulkan sejauh ini mewakili kurang dari 3 peren limbah elektronik tahunan Jepang. PBB memperkirakan jumlahnya mencapai dua juta ton.

Isu lain yang patut dipertimbangkan adalah nasib “komponen non-logam” yang terkandung dalam sebagian besar komponen barang elektronik.

“Jika kita hanya mendulang logam dan membuang sisanya ke tempat pembuangan akhir, ini bisa menyebabkan banyak polusi,” kata Holuszko, yang juga berfokus pada cara membuat ponsel yang 100 persen bisa didaur ulang.

Panitia penyelenggara Olimpiade Tokyo 2020 hanya menerima logam, perak, dan perunggu (gabungan tembaga dan seng) dari mitra-mitra pendaur ulang sehingga nasib komponen non-logam juga tidak jelas bagi mereka.

Juru bicara panitia mengatakan pernah “mendengar beberapa perusahaan mendaur ulang elemen-elemen sisa menggunakan metode pemrosesan regular”. Namun, dia tidak bisa menjamin.

Mengubah Pemahaman Soal Elektronik

Pertanyaan soal limbah elektronik menumpuk selagi masyarakat terus menggunakan barang elektronik. Kuehr memperkirakan jumlah limbah elektronik dunia bisa berlipat menjadi 80 juta ton dalam beberapa dekade mendatang.

Kita harus mengubah pemahaman soal elektronik, kata dia. Solusinya adalah berhenti membeli dan memiliki gawai seperti petapa analog, alih-alih berubahlah menjadi orang nomaden digital.

“Ketimbang membeli ponsel itu sendiri, mengapa kita tidak mempertimbangkan membeli layanan yang mereka sediakan?” tanyanya.

Sistemnya bakal seperti menyewa, namun Anda tidak akan pernah memiliki produk tersebut.

Apple atau Samsung akan menyediakan layanan “komunikasi seluler” atau “pencuci piring elektronik rumahan” dan pelanggan akan membayarnya.

Jika peranti rusak, perusahaan akan memberikan pengganti selagi mereka memperbaikinya. Manakala gawai mencapai akhir masa pemakaian, perusahaan idealnya akan menyalurkan komponen gawai itu ke proses produksi.

Ada puluhan tantangan yang harus diatasi untuk mewujudkan ini, tapi 80 juta ton limbah juga perlu diberi solusi nan ambisius.

Mungkin perubahan bisa dimulai di Jepang—markas raksasa perusahaan elektronik seperti Hitachi, Mitsubishi, Panasonic, dan Sony, kata Kuehr yang menempuh studi pascadoktoral di Tokyo.

Ambisi tersebut jelas di luar cakupan proyek medali Olimpiade Tokyo 2020 dan perlu strategi internasional yang mumpuni.

Untuk saat ini, 5.000 medali dari logam daur ulang merupakan awal yang baik.

“Saya cukup senang melihat Jepang menyediakan bukti bahwa penambangan urban itu mungkin dilakukan,” tutup Holuszko. (bbc.com)

 

Back to Home