Google+
Loading...
SMASH AYUB
Penulis: Ayub Yahya 16:58 WIB | Senin, 12 Maret 2018

Melayani di Gereja

Ilustrasi. (Foto: Picabay)

SATUHARAPAN.COM-  Kadang begini....

Rutin ke gereja. Terus aktif dalam kegiatan gereja; aktivitas komisi, persekutuan wilayah, paduan suara, dsb. Punya semangat melayani yang besar. Potensial. Orangnya juga baik; tidak neko-neko, supel pula. Lalu jadi anggota Majelis Jemaat. Koma.

Setelah itu rapat demi rapat. Lalu ribut demi ribut. Hal gampang jadi sulit, hal sulit jadi tambah sulit. Mulai merasakan "gerah" di gereja. Eyel-eyelan. Uyel-uyelan. Sampai hampir timpuk-timpukkan. Dari yang kagak-kagak, sampai yang iya-iya. Koma.

Relasi dengan si A, B, dan C dulu smooth dan asyik-asyik saja, sekarang mulai ada yang mengganjal; kayak ada jerawat batu di bawah hidung. Dulu terasa tak berjarak, sekarang serasa dibatasi tembok tinggi dan tebal. Koma.

Dari "gerah" jadi "panas". Tidak ada lagi "keademan" di gereja. Bawaannya emosi melulu. Lalu berhenti dari kemajelisan. Lalu kapok-pok-pok. Tidak mau lagi terlibat dalam kegiatan ini itu di gereja. No way. Hanya datang kalau kebaktian minggu. "Lebih tenang dan sejahtera begini," katanya. Titik.

 

Maka.....

Di sinilah pentingnya kita melayani di gereja bukan dengan semangat berdagang (saya memberi, karena itu saya harus mendapat); atau semangat unjuk diri (ini loh saya, ya saya ini loh); atau juga semangat "pahlawan tanpa tanda jasa" (itu kan berkat saya, karena saya, saya yang punya andil). Tetapi dengan semangat belajar.

Belajar apa?

Belajar untuk sabar. Belajar untuk tidak emosional. Belajar lebih rendah hati. Belajar untuk menyalibkan ego (egoistis dan egosentrisme). Belajar untuk berbeda pendapat. Belajar untuk berbagi tanpa berharap kembali. Belajar untuk tersenyum, walau hati tengah merana gundah dan gulana. Belajar bekerja sama dengan orang lain, bahkan dengan orang yang sulit diajak bekerja sama. 

Terutama, dan ini yang paling penting, belajar untuk menghargai pengorbanan Kristus atas kita. Dan bersyukur karenanya.

Begitulah. Bahwa pelayanan gereja bukanlah cafe tempat kita berleha dan memuaskan diri. Bukan pula panggung untuk kita unjuk gigi atau mencari identitas diri. Tetapi sekolah tempat kita menimba ilmu kehidupan; untuk menjadi pribadi yang lebih bijak dalam berucap kata, dan lebih bajik dalam bertingkah laku.

Lha koq susah, sih? Ya, memang. Namanya juga pelayanan. Kalau tidak susah bukan pelayanan, tetapi pelayaran.

 

Lalu......

Bagaimana kalau, misalnya, kita sudah sebegitu tersakiti dan terzholiminya di sebuah gereja?! Hati kita benar-benar sudah tidak geunah lagi. Boro-boro ada damai di hati, yang ada malah kejengkelan dan kekesalan.

Harus diakui, bahwa tidak semua orang di gereja atau lembaga Kristen itu baik-baik adanya (punya bulatan malaikat di kepalanya), kadang malah bertanduk dan bertaring; bahwa tidak semua orang yang mulutnya saleh, hati dan pikirannya juga saleh; dan bahwa tidak serta merta yang namanya pejabat gerejawi itu berhati surgawi, kadang malah lebih mirip politisi petugas partai.

 

Jadi, menurut saya nih, kalau kita benar-benar sudah tidak tahan; tidak ada lagi damai sejahtera dalam hati, malah mendengar kata “rapat gereja” pun langsung diare atau kepala cekot-cekot mau copot. Relasi dengan orang-orang terdekat pun terganggu. Kita stress, bahkan sejengkal lagi mungkin bisa stroke.

Kita benar-benar sudah mentok-tok; tidak ada lagi hal baik yang bisa kita lakukan atau berikan untuk gereja itu. Malah kehadiran kita bisa menimbulkan “kubu-kubuan” yang tidak sehat. Sungguh terlalu mahal harga yang harus dibayarkan; tidak membawa berkat baik bagi orang lain, maupun bagi diri sendiri. 

Itulah saatnya untuk kita mengebaskan debu di kaki, dan melangkah pergi. Pergilah dengan damai sentosa. Mungkin kita akan lebih menjadi berkat di tempat lain, dan mungkin gereja itu juga akan lebih baik tanpa kita ada di sana. Yang penting kita tidak membawa luka atau pun dendam kesumat. Biarlah yang lama berlalu, kita jelang yang baru dengan hati bersih pikiran jernih.

 

Editor: Tjhia Yen Nie

 
Back to Home