Google+
Loading...
INSPIRASI
Penulis: Priskila Prima Hevina 12:16 WIB | Minggu, 19 November 2017

Melewatkan Yesus

Dia selalu mampir.
Mampirlah dengar doaku (foto: istimewa)

SATUHARAPAN.COM – Tengah hari pada tengah pekan yang padat aku mendapat kesempatan berjumpa dengan Yesus. Akan tetapi, sayang seribu sayang, aku melewatkan-Nya begitu saja. Tanpa sepotong ucap, tanpa sekilas tatap. Jeda kurang dari enam puluh detik selanjutnya aku baru menyadari ampiran-Nya. Terlambat, Dia sudah pergi.

Jam-jam pada sisa hari itu menjadi berat kuhadapi. Seonggok penyesalan di dada rasanya lebih berat dari pada sekarung beras. Aku telah menyia-nyiakan kesempatan langka bertemu muka dengan Dia yang agung bersahaja.

Mataku basah saat berhasil tidur. Pagi berikutnya aku terbangun dengan perasaan yang kutata baik-baik. Sebuah tekad baru kucamkan segera: ”Apabila aku boleh berjumpa lagi dengan-Nya, aku tidak akan melewatkan-Nya untuk kedua kali. Aku memasang janji, apabila Dia berkenan mampir di antara waktu yang kumiliki, aku tidak bakal membiarkan-Nya pergi tanpa kusambut. Aku tidak ingin menanggung beban sesal di ujung hari nanti.

Dan demi kasihNya yang seluas semesta itu, kulihat dengan mata kepalaku sendiri Dia berkenan mampir lagi. Rupa-Nya banyak kujumpai hari ini tadi. Seorang penjual martabak yang dipalak preman di pasar. Seorang kurir yang kehujanan saat mengantar paket. Seorang karyawan bank yang ban motornya bocor. Seorang siswi SMP yang mematung di tepi jalan raya menunggu bus.  Seorang penari jathilan yang berpeluh di perempatan jalan raya.

Dia memiliki banyak rupa. Rupa-Nya itu tidak asing, kerap kulihat di tiap sudut ruang kehidupanku. Kalau begitu, apa jangan-jangan aku sudah melewatkan Dia puluhan kali, ratusan kali, ribuan kali? Ya, selama ini aku terlalu terbiasa memikirkan diriku sendiri sehingga tidak menyadari kedatangan-Nya.

Rupa Yesus yang kelaparan butuh secuil roti. Yesus yang telanjang kedinginan butuh selembar baju. Yesus yang seorang asing butuh disambut dengan sapaan ramah. Bagaimana bisa aku tidak pernah mengarahkan mataku kepadaNya yang berkeliaran di sekelilingku? Bagaimana bisa aku masih saja meminjam doa Fanny J. Crosby: ”Mampirlah dengar doaku Yesus penebus?”

”Mampirlah dengar doaku Yesus penebus, orang lain Kau hampiri jangan jalan terus.” Aku mengucap doa itu memohon perjumpaan denganNya. Aku minta agar Dia mau mampir, agar Dia jangan melewatkanku. Sementara yang sesungguhnya terjadi, aku yang tidak peka mempersilakan Dia. Yesus tidak pernah tidak mampir! Dia selalu mampir!

 

Email: inspirasi@satuharapan.com

Editor : Yoel M Indrasmoro

Back to Home