Google+
Loading...
OPINI
Penulis: Woro Wahyuningtyas 00:00 WIB | Senin, 05 Desember 2016

Melihat Castro dari Prambanan: In Memoriam Fidel Castro

Berpulangnya Fidel Castro, pemimpin Kuba yang legendaris beberapa waktu lalu, mengakhiri kisah “legenda” tentang diri dan perjuangannya. Namun visi Castro telah memberi inspirasi bagi banyak orang.

 

SATUHARAPAN.COM - Sabtu pagi, 26 November 2016, saya tidak langsung membuka sosial media, karena memang ingin mengistirahatkan badan dan pikiran. Tepat seminggu, batuk nan garang bersarang dalam tubuh yang aku yakini sebagai bentuk kelelahan. Menjelang siang, saya mulai membuka sosial media, dan berita paling hits adalah Fidel Castro, sang Komandate dari negara kecil nan gagah, Kuba, berpulang.

Rasanya mungkin berlebihan, tapi karena Castro, saya yakin bahwa gerakan kiri itu nyata adanya. Bisa hidup dan beradaptasi serta tetap bisa memperjuangkan ketidakadilan rakyat. Selama Orde Baru berkuasa di Indonesia, memang wacana kiri menjadi sangat menyeramkan, “kiri” dianggap kejam, tidak berperikemanusiaan. Padahal menurut, Chomsky gerakan kiri adalah gerakan yang merepresentasikan nilai-nilai ideal tradisional kaum kiri seperti keadilan, kebebasan, solidaritas, dan simpati. Membaca kisah hidup Castro adalah membaca pengalaman nyata, bagaimana konsistensi sebuah perjuangan itu layak dilakukan.

 

Pilihan dan Ispirasi dari Castro

Castro adalah sosok yang melawan ketidaksetaraan antar bangsa. Kita tahu bagaimana dia melawan oposisi dari 2 negara besar pada awal tahun 1960-an, Amerika dan Uni Soviet. Perlawanan itu dilakukan dengan menggalang kekuatan negara-negara lain, terutama negara di Amerika Latin.

Pada usia yang sangat muda, umur 30-an awal, Castro telah memenangkan gerakan revolusinya, umur yang lebih muda dari saya saat ini. Setelah berhasil menggulingkan diktator militer Batista,  program andalan Castro pasca revolusi tahun 1959 menitikberatkan pada pendidikan dan kesehatan. Kita tahu, di bawah pemerintahan Batista, kesehatan tidak bisa dinikmati oleh semua golongan. Orientasi yang mengabdi pada profit membuat rakyat Kuba tidak bisa mengakses kesehatan yang gratis dan berkualitas.

Pilihan program bernuansa sosialis dari Castro ini bukan tanpa alasan, kepercayaan memperbaiki kualitas hidup manusia Kuba ini akan menjadikan rakyat Kuba sejahtera (bukan kaya). Pendidikan dan pelayanan kesehatan gratis ini menjadikan rakyat Kuba mampu meningkatkan taraf hidupnya. Hal inilah yang diinginkan Castro.

Nilai kemanusiaan sangat kental dalam pemerintahan Castro. Di masa sulit pasca revolusi yang dimenangkannya, Kuba telah aktif mengirimkan brigade medis untuk membantu rakyat di berbagai belahan dunia. Tahun 1960-an, Kuba sudah mengirim relawan medis untuk membantu korban gempa di Chile. Pada tahun 1963, Kuba juga mengirim para medis ke Aljazair.

Di luar program revolusioner dalam bidang pendidikan dan kesehatan, Castro juga menasionalisasi sumber daya yang dimiliki oleh Kuba. Tidak berhenti di situ, Castro juga memenjarakan kelompok yang dia anggap sebagai kelompok Kapitalis. Karena Castro percaya, rakyatnya di Kuba hanya akan menderita selama kelompok kapitalis masih mendapatkan kekuasaan di Kuba.

Perjalanan Kuba tentu tidak mulus. Sikap keukeuh Castro tidak mau bekerjasama dengan Amerika Serikat tidak selamanya mendapatkan dukungan dari rakyatnya. Tetapi Castro memiliki sebuah keyakinan yang besar. bahwa pasca perang dingin, di mana dominasi kolonial dari negara-negara besar harus dihentikan.

Dominasi Amerika terhadap Kuba dalam pemerintahan Batista dihentikan oleh Castro melalui nasionalisasi perusahaan yang mengambil sumbr daya di Kuba. Castro juga membuktikan kepada rakyatnya dari sisi kesehatan (pelayanan dan alat medis) serta pendidikan, rakyat Kuba mendapatkan prioritas (layanan gratis). Prestasi Castro antara lain menurunkan tingkat kematian bayi Kuba lebih baik dibandingkan dengan masyarakat yang paling maju di muka bumi.

 

Ingatan Gempa 2006 di Yogyakarta dan Klaten

Gempa di tahun 2006 di Yogyakarta dan Klaten tidak bisa dipisahkan dari Castro. Mungkin tidak banyak yang tahu soal kisah ini. Kuba mengirimkan brigade kesehatannya ke Indonesia dalam misi kemanusiaan di masa darurat gempa ini.

Seorang kawan menuliskan dalam wawancaranya dengan salah satu anggota tim dari Kuba bahwa Castro sendiri yang memberikan arahan sebelum tim berangkat ke Indonesia. Betapa hebat presiden Kuba ini, “hanya” untuk tim kesehatan yang akan melakukan misi kemanusian, dia turun tangan memberikan pengarahan. Tentu menjadi wajar, saat kita mengingat bagaimana persahabatan Castro dengan Soekarno dan juga dengan Abdurrahman Wahid, alias Gusdur.

Tim kesehatan Kuba ini berjumlah 135 orang, yang melakukan pelayanan dalam rumah sakit darurat di kawasan Kabupaten Klaten, dan juga melakukan pelayanan di desa-desa yang tidak terdampak gempa.

Ibu saya bercerita bagaimana para dokter dari Kuba ini sangat serius melayani pasien di kampung kami saat itu. Sempol Bimo bukan desa yang rusak karena gempa, namun atas undangan para eks tapol 65. Saya tidak tahu persis motivasi para eks tapol 65 tersebut, mungkin secara psikologis merasa dekat dengan Kuba, sehingga meminta dokter-dokter dari Kuba itu untuk melakukan misi kemanusiaan di luar tenda rumah sakit darurat.

Para dokter tersebut melakukan pelayanan kesehatan secara cuma-cuma. Kata ibuku, mereka serius mendengarkan keluhan, memeriksa dan bertanya pada setiap orang yang datang. Meskipun sulit berkomunikasi dengan para pasien, karena tidak ada penterjemah, para pasien sangat memberikan apresiasi positif pada dokter-dokter tersebut.

Selain testimoni ibu saya, seorang pasien dari desa yang terdampak gempa di desa Pereng, Prambanan mengatakan, anaknya mendapatkan layanan operasi dan pasca operasi dengan baik oleh rumah sakit darurat tersebut. Dan tentu saja, semuanya free of charge, alias gratis.

Ingatan akan pelayanan rumah sakit darurat ini, mengingatkan juga bahwa Kuba bukan negara kaya. Kuba adalah negara kecil yang bisa dikatakan miskin. Tetapi misi kemanusian dalam bidang kesehatan tidak pernah terhambat karenanya. Para dokter bekerja dengan penuh cinta, karena mereka mendapatkan pendidikan yang baik dan gratis dari pemerintah Kuba. Hal ini tidak akan pernah terjadi pada negara yang menghamba pada modal, alias negara kapitalis.

Kuba mendapatkan embargo dari Amerika sejak tahun 1960, dan berjuang dengan bantuan Soviet sampai tahun 1980-an. Pasca tahun tersebut, Kuba berjuang sendiri menjadi negara yang mandiri. Pasti tidak mudah, tetapi dalam segala kesulitan, Castro tetap mengutamakan program pendidikan dan kesehatan gratisnya, sehingga pada masa sulitnya, Kuba tetap bisa berbagi kepada negara yang sedang mengalami penderitaan dengan tim kesehatannya.

 

Hasta la victoria siempre

Sosok Castro, dan juga Che tentu saja, adalah sosok yang membuat saya jatuh cinta. Jatuh cinta dan sekaligus percaya, bahwa gerakan kiri itu nyata. Up to date, bisa beradaptasi pada segala jaman dan cuaca. Castro memang identik dengan Kuba, dengan perubahan-perubahan yang baik, sekaligus kritik padanya yang dinilai sebagai diktator. Namun, konsistensinya melawan Amerika serikat, bahkan mungkin lebih dari 2/3 hidupnya. Kebijakan Obama di awal tahun 2014 untuk membuka hubungan diplomatik dengan Kuba tidak jua membuatnya percaya pada Pemerintah Amerika. Konsistensi akan perjuangan yang panjang ini layak untuk diapresiasi dan menjadi teladan.

Kerja revolusioner ternyata lekat dan dekat dengan kerja kemanusiaan, dan Castro membuktikan ini. Kuba yang miskin tidak absen pada kerja kemanusiaan dalam bidang kesehatan. Nafas panjang perjuangan Castro tentu menginspirasi kerja-kerja kemanusiaan kita bersama. Sama dengan kalimat yang dikeluarkan oleh Castro sebagai pembakar semangat, Patria o muerte! (Tanah air atau mati), layak kita adaptasi. Kemanusiaan atau mati, karena kerja kemanusiaan adalah memuliakan manusia, dan jika itu tidak terjadi, berarti kita berada dalam ambang kematian.

Selamat berpulang, kamerad! Teladanmu menginspirasi nilai kemanusiaan dalam pilihan hidupku.

 

Penulis adalah Direktur JKLPK (Jaringan Kerja Lembaga Pelayanan Kristen)

Editor : Trisno S Sutanto

Back to Home