Google+
Loading...
OPINI
Penulis: Musa Maliki 03:36 WIB | Senin, 29 Juli 2019

Membangun Indonesia dari Diri Sendiri: Lesson Learned dari Bima dan Naruto

Musa Maliki

SATUHARAPAN.COM - Tradisi orang berilmu dimanapun, mereka berusaha tawadhu’. Tawadhu’ adalah usah maksimal untuk rendah hati. Sikap tawadhu’ bukan rendah diri, tapi jika tidak mampu mengendalikan sikap sombongnya maka rendahkanlah dirimu. Merendahkan diri sendiri adalah level dimana seseorang sudah selesai dengan dirinya sendiri atau levelnya sudah di atas manusia rata-rata.

Contoh kontemporer, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang suka sekali melawakkan diri sendiri. Contoh dalam sejarah banyak terjadi oleh para Nabi yang telah dihina dan dicaki, tapi tetap welas asih terhadap yang mencaci dan menghina. Banyak pula kisah para sufi/spiritual yang merendahkan dirinya demi pergulatannya dengan diri sendiri, khususnya, mengendalikan sifat sombongnya atau merendahkan diri sendiri dengan maksud menjadikan dirinya cermin bagi orang lain yang sedang melakukan tindakan negatif.

Ada dua hal yang perlu digarisbawahi dari sikap seseorang yang kadang merendahkan diri sendiri: pertama, semakin tinggi level spiritual dan keilmuan seseorang biasanya semakin berat beban dan tantangan dalam dirinya. Jadi urusannya sudah bukan dengan orang lain, tapi bagaimana mengendalikan diri sendiri atas ‘kapital’ yang dianugerahkan Tuhan.

Kedua, kepercayaan diri bahwa dirinya sudah selesai sehingga cacian, hinaan, ancaman, dan sejenisnya sudah tidak penting lagi. Di dalam dirinya tidak ada lagi perasaan marah, melainkan kasih sayang atau welas asih (compassion).

Untuk mencapai tahapan seperti itu, seseorang perlu latihan dan menempa diri dengan keras (disiplin). Sangat menarik lesson learned dari mitologi seperti kisah Bima dan Naruto. Di bawah saya kasih sekilas narasi Bima dan Naruto agar mudah dipahami. Mitologi adalah ‘alat’ dalam sejarah umat manusia untuk memperoleh makna eksistensial hidup, bukan fakta hidup.

 

Kisah Bima dan Naruto 

Dalam kisah mitologi perwayangan, “Bima” (Wrekudara) bertemu dengan Dewa Ruci dalam mencari air kehidupan (tirta perwita). Kisah ini adalah perjalanan Bima dalam mencari jati dirinya sebagai suatu wujud dari kesempurnaan hidup. Sesuai dengan perintah gurunya, Resi Dorna, dalam perjalanannya, Bima menghadapi banyak rintangan seperti melawan raksasa di Gunung Candradimuka, melawan naga di laut, hingga bertemu dengan Dewa Ruci di dalam laut. Walaupun gurunya sebenarnya ingin Bima mati, tapi Bima selalu bersikap lurus, menurut, dan berpikir positif. Bima taat seratus persen pada gurunya, karena tanpa gurunya dia bukan apa-apa (rendah dirinya).

Pertemuan dengan Dewa Ruci adalah kondisi fisik Bima yang sedang bermeditasi (multi-interpretatif). Dewa Ruci memerintahkan Bima untuk masuk ke dalam dirinya melalui telinga. Setelah bisa masuk ke dalam dirinya, Dewa Ruci mengatakan bahwa air kehidupan untuk kesempurnaan sebenarnya berada dalam diri manusia sendiri. Dari hal ini, maka Bima meneliti dan mengamati dirinya sendiri. Dia berusaha memilah-milah hati (batin) nya, mana yang sukma sejati dan mana yang sebenarnya kegelapan (diilustrasikan dengan warna hitam, merah dan kuning).

Setelah ‘paham’ dan menemukan akan sukma sejati yang tampak cahaya terang benderang (diilustrasikan putih), Dewa Ruci bersabda bahwa Bima sudah menguasai semua ilmu. Semua proses penemuan ilmu ini sangat pribadi dan hayati. Dari penguasaan ilmu inilah Bima bisa membawa dirinya di Perang Baratayuda (Kurukshetra) dan mengalahkan lawan-lawannya.

Ada pula kisah mitologi Jepang yang diilustrasikan dalam kisah “Naruto”. Pada satu titik, Naruto akan memperoleh puncak kesempurnaan ilmunya. Namun demi mencapai kesempurnaan tersebut, utamanya dia harus melawan sisi gelap dari dirinya sendiri di air terjun kebenaran (kesempurnaan/kesejatian). Kebenaran ini adalah pengetahuan akan diri sendiri dan kepercayaan diri. Kepercayaan diri adalah modal bagi seseorang untuk mengatur sisi negatif dari diri sendiri seperti amarah, benci, takut, iri hati, cemburu, dan sejenisnya. Dalam perkelahian dengan dirinya sendiri dalam kondisi meditasi, Naruto masih belum menguasai sisi gelapnya (alam bawah sadarnya).

Terbangun dari kondisi meditasi, Naruto bertanya pada Motoi sahabat dari Killer Bee. Killer Bee adalah seorang yang sudah bisa menguasai dirinya sendiri. Naruto bertanya bagaimana mengalahkan sisi gelap dari diri sendiri? Motoi hanya memberi petunjuk dari apa yang dialami Killer Bee selama hidupnya. Kisah ini diamati oleh Naruto dengan seksama. Motoi mengisahkan masa-masa Killer Bee menjalani penghayatan hidupnya. Semasa hidupnya sejak kecil, Killer Bee dipinggirkan, diacuhkan, dan tidak disukai oleh lingkungannya.

Dia lalu diasingkan dari teman-temannya dan terhinakan oleh lingkungannya karena perbedaan yang dimilikinya. Namun, Killer Bee tetap ceria dan positif bersikap. Dalam konteks ini, analisis tentang Naruto saya disudahi terlebih dahulu, karena pesan inilah yang ingin disampaikan. Singkatnya, dia perlu mengulas ulang dirinya, berusaha memahami dirinya, lalu menemukan sisi gelap mana dalam momen sejarahnya terkonstruksi dan terakumulasi. Naruto menemukan sisi gelapnya, yakni kebenciannya terhadap lingkungannya yang terus menerus mengejeknya, mengasingkannya, merendahkannya, membodoh-bodohkannya, seolah-olah dirinya pembawa sial, karena dirinya yang beda dengan yang lainnya.

Setelah kembali bermeditasi, Naruto berdialog dengan dirinya demi memenangkan kesejatian dirinya. Dia mengatakan kepada sisi gelapnya, “Kamu tak perlu khawatir, percayalah kepadaku. Dengan percaya diri maka orang lain lambat laut akan mengakui dan mempercayaimu juga. Tak usah ragu bahwa orang lain meragukan kebaikanmu.” Akhirnya sisi gelap dirinya dipeluknya dan menghilang. Sisi gelap berupa ketakutan bahwa orang lain akan terus curiga atas dirinya dan kebencian atas lingkungan yang terus menaruh curiga kepadanya. Ketakutan atas lingkungannya yang terus meminggirkannya dan amarah terhadap orang-orang di lingkungan tersebut karena tidak mau mengakui keberadaannya. Rasa dendam akan hinaan orang lain yang melihatnya berbeda dan mempunyai sejarah buruk tak terlupakan.

Dua kisah di atas saya ambil sepenggal-sepenggal, tetapi pesan yang ingin disampaikan di atas adalah selesaikan urusan dirimu sendiri demi tahu tentang dirimu sendiri. Dari hal ini, tumbuhlah sikap kepercayaan atas diri sendiri. Kepercayaan diri inilah yang juga sanggup menghilangkan mentalitas korban (victim mentality) yang menghinggapi bangsa Indonesia pada umumnya, khususnya kaum beragama dewasa ini.

Dalam konteks hubungan antar and inter umat beragama menjadi bermasalah karena secara alamiah manusia selalu menemui masalah. Bisa jadi sebagai manusia mereka belum bisa mengatasi problem dirinya sendiri. Efeknya, walaupun mayoritas beragama atau mayoritas apapun, tetap saja mereka takut dan merasa terpinggirkan. Jika ada golongannya yang pindah ke golongan lainnya, mereka merasa terancam dan gelisah.

Ada pula kelompok yang telah memperoleh kemenangan, tapi dengan mudah menangkap seseorang yang mengkritiknya dengan dalih-dalih hukum. Ada pula yang merasa toleran dan merasa di atas angin berkumpul dan berbicara seolah-olah kelompoknya telah memenangkan suatu perang besar. Mereka merasa telah menorehkan sejarah besar bangsa ini dengan secara implisit menegasikan yang lainnya. 

Problem bangsa ini begitu dalam dan sulit terselesaikan sebab sisi gelap hati dalam dirinya belum didialogkan. Hanya dirinya sendiri yang bisa mengobati dan faktor eksternal dari orang-orang dilingkungan hanyalah inspirasi. Perasaan terasing dan diacuhkan akan terus menghantui dan menggerogoti seperti virus sehingga menciptakan amarah, sakit, dan sejenisnya dalam segala dimensi kehidupannya.

Selain Bima dan Naruto, untuk menyelesaikan masalah atas sisi gelap diri sendiri demi mencapai perdamaian ekternal, pesan yang mendalam sebenarnya sudah ada dalam agama-agama yang dianut. Nabi Isa A.S (Yesus)  berkata “love your enemies”. Hal ini begitu berat karena kita harus berdamai dengan kebencian kita atas musuh kita.

Nabi Muhammad SAW memberi pesan “jihad al nafs”. Hal ini begitu berat karena semua hal yang buruk-buruk dalam diri kita harus dicari, diakui, dan dicari hikmahnya. Konfusius memberi pesan, “mudah untuk membenci, sulit untuk mencintai. Begitulah proses kehidupan. Semua yang baik-baik sulit sekali untuk dicapai dan segala yang buruk/jelek mudah sekali dicapai”.

Jika bangsa ini sibuk mengurusi keburukan sesama anak bangsa, saling menyalahkan dan menghakimi sesama anak bangsa, maka bangsa ini sulit bersaing dengan bangsa lain, kecuali memang mereka sudah merasa hebat (walaupun hebatnya hanya terjadi di memori masa lalunya) atau sudah merasa tidak perlu lagi bersaing dengan bangsa lainnya. Hal ini adalah pilihan anak bangsa dalam dialektikanya menentukan arah ke depan bangsa ini. 

 

Penulis adalah pengajar tetap UPN Veteran Jakarta, Kandidat Doktor Charles Darwin University, Anggota Kehormatan Jaringan Intelektual Berkemajuan.

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home