Loading...
INSPIRASI
Penulis: Endang Hoyaranda 23:39 WIB | Minggu, 05 April 2020

Memelihara Optimisme

Dan selalu, selalu, selalu… ada alasan untuk bersyukur. (Anonim)
Mekar Berseri (foto: Hiếu Hoàng)

SATUHARAPAN.COM – Sudah lebih dari tiga minggu sebagian besar pekerja diberi kelonggaran untuk tidak bekerja di kantor melainkan di rumah.  Pada mulanya tampak menyenangkan: tidak usah bangun ekstra pagi karena tidak ada mesin absensi yang memantau, tidak usah menggunakan seragam kantor yang amat membosankan itu, tak perlu pulang malam akibat pekerjaan  menumpuk yang harus diselesaikan sore itu juga di kantor.

Namun,  dalam perkembangannya, kelonggaran itu tidaklah senyaman itu. Setiap hari kita menyaksikan meningkatnya jumlah kasus Covid-19 yang belum mau turun, beberapa kali kita mendengar ada rekan atau kerabat atau kerabatnya rekan terkena Covid19, bahkan sampai ada yang meninggal dunia, dan pastilah kecut hati kita menjadi saksi atas semua itu. Apalagi ketika kita sendiri yang terkena.

Beberapa kali kita juga menerima terusan pesan engenai nasib keluarga yang begitu tragis karena ditinggalkan oleh sang ayah, sementara sang ibu berada di rumah sakit; anak-anak yang masih kecil harus diisolasi di rumah tanpa ada orang dewasa menemani. Hati kita teriris menyaksikan itu semua.

Atau teman yang begitu mendadak ditinggalkan oleh pasangan hidupnya, bahkan tanpa bisa ikut memberikan layanan pemakaman yang layak. Belum lagi jika kita mendengar betapa beberapa negara lain jauh lebih buruk situasinya dibandingkan kita di Indonesia. Mengerikan menyaksikan keadaan di Italia, Amerika Serikat, Spanyol dan lain-lain. Apakah Indonesia akan sampai pada situasi seburuk itu?

Banyak analisis, perkiraan, perhitungan statistik sahih yang mendukung betapa buruknya masa depan dunia  dan Indonesia akibat wabah Covid-19 ini. Jutaan manusia akan meninggal dunia.  Ekonomi hampir semua negara akan hancur.  Dunia tidak akan pernah kembali kepada situasi sebelum Covid-19. Akan ada ”a new normal” yang berlaku dalam peradaban manusia. Zaman normal masa lalu tidak akan ada lagi.  Alangkah menyedihkannya. Sungguh pantas kita bersikap pesimis.

Meskipun demikian—dalam sudut pandang lain—apa untungnya bersikap pesimis? Apakah kekhawatiran akan menambah umur kita sedetik saja? Anthony de Mello, agamawan Katolik dan penulis banyak buku bijak, bahkan bercerita tentang iblis yang hendak membunuh seribu orang melalui serangan wabah, namun ternyata sepuluh ribu orang yang mati. Sembilan ribu orang yang tidak terkena wabah mati karena ketakutan dan kekhawatirannya. Stres menurunkan daya tahan tubuh dengan berbagai akibatnya. Pesimisme hanya merusak diri sendiri.

Bagaimana caranya menjadi optimis? Adakah alasan untuk melihat masa depan dengan cerah?

Jawabannya: ya. Sungguh ada. Asalkan ada kemauan untuk melihat sisi positif dari bencana ini. Mari kita cari alasannya!

Pertama, kita yakini bahwa wabah ini akan berakhir, meskipun kita tidak tahu tepatnya kapan. Badai pasti berlalu. Semua wabah yang pernah terjadi di dunia ini nyatanya berakhir.

Kedua,  kita mengimani bahwa tidak ada sesuatu pun di muka bumi ini, bahkan di seluruh alam semesta ini yang akan terjadi tanpa perkenan dari Ia yang  memiliki, menciptakan dan menyayangi alam semesta dan isinya. Pernahkah ada dalam sejarah alam semesta yang kita ketahui, di mana Tuhan Yang Maha Kuasa memiliki rencana yang buruk bagi makhluk yang dikasihiNya?

Sudahkah kita memandang ke langit akhir-akhir ini dan melihat langit biru yang telah lama tak bisa kita nikmati akibat tingginya polusi, dan menyadari bahwa ternyata polusi di seluruh dunia tiba tiba menurun drastis sejak terjadinya pandemi  ini?

Telah kita dengar dan lihatkah bahwa binatang hutan tiba-tiba mulai masuk ke kota sejak hidup mereka tidak terancam oleh manusia yang mengusik dan mendesak mereka menyepi semakin dalam ke hutan?

Telah sampaikah berita, yang semoga benar, bahwa lapisan ozon yang bocor selama puluhan tahun akibat polusi ulah manusia, kini mulai menutup?

Mengapakah saat yang dipilih oleh Tuhan adalah tepat ketika bangsa China sedang bersiap merayakan Imlek, kemudian berlanjut umat beragama Kristen mempersiapkan perayaan atas peristiwa paling besar dalam sejarah manusia, Paskah, dan berlanjut lagi umat Islam mempersiapkan bulan Ramadhan berikut Idul Fitri?

Adakah itu semua kebetulan belaka? Nyatanya, tak ada yang kebetulan dalam hidup. Mungkinkah Tuhan  ingin manusia berintrospeksi?

Jika demikian, bukankah itu sisi baik dari bencana ini? Dan jika kita ingin melihat dari sisi optimisme, maka selalu, selalu, selalu... ada alasan untuk bersyukur. Bahwa di balik bencana, ada rencana besar yang indah yang sedang dipersiapkan oleh Ia yang Empunya alam semesta ini.

Mungkin bukan untuk kita yang hari ini masih diberikan kehidupan, namun bagi anak cucu kita yang  diberikan kesempatan untuk kelak menikmati dunia yang lebih baik. Segalanya akan menjadi indah pada waktunya. Pada waktu-Nya.

Ketiga, statistik dan berbagai analisis pesimis adalah peranti yang cerdas dan baik untuk mempersiapkan diri menghadapi masa depan. Namun, menggunakan statistik  dan analisis sedemikian hingga meniadakan optimisme,  hanya akan menghancurkan semangat. Bermanfaat secara ilmiah, tetapi bisa merusak secara spiritual. Seperti diceritakan Bernie Legge, motivator asal Kanada, pada akhir abad ke-20, tentang seorang penjual burger kaki lima yang putranya berpendidikan tinggi dalam bidang ekonomi.

Si anak  meramalkan bahwa segera akan terjadi resesi dan karena itu sebaiknya sang ayah menutup bisnisnya dan menjual hartanya sebelum resesi menyerang demi tidak terdampak. Resesi itu nyatanya tak pernah dating, namun sang ayah telah terlanjur bangkrut karena tak memiliki penghasilan, sementara hartanya lambat laun habis digerogoti oleh kebutuhan hidupnya.

Pandangan berimbang selalu penting. Namun, tidak melupakan bahwa ada harapan di balik tiap bencana, lebih penting lagi.

Editor : Yoel M Indrasmoro


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home