Google+
Loading...
RELIGI
Penulis: Reporter Satuharapan 12:00 WIB | Jumat, 25 Agustus 2017

Menabung 20 Tahun sebagai Penarik Becak untuk Naik Haji

Maksum Sapii Bunet bin Wahab (kiri). (Foto: kemenag.go.id)

MEKKAH, SATUHARAPAN.COM – Haji adalah panggilan. Demikian pesan bijak yang sering didengar. Maka, mereka yang berhaji diidentikkan sebagai orang yang mendapat panggilan.

Haji diwajibkan bagi yang mampu. Namun, kemampuan tidak selalu identik dengan kekayaan materi. Karena, banyak orang yang mampu secara materi tidak kunjung berhaji.  Sebaliknya, ada juga orang yang tidak mampu secara materi, mendapat panggilan untuk menunaikan ibadah haji.

Salah satunya adalah Maksum Sapii Bunet bin Wahab. Kakek 79 tahun asal Madura ini berprofesi sebagai tukang becak, dengan penghasilan harian yang tentu tidak menentu. Adakalanya sampai Rp50.000, namun tidak jarang juga jauh dari angka itu.

Kenyataan seperti itu tidak menyurutkan niatnya untuk berhaji. Pelajaran rukun iman yang didapatnya sewaktu kecil, menjadi fondasi dasar akan keyakinannya untuk menunaikan rukun Islam kelima ini.

“Saya dulu ngaji arkanul iman (rukun iman). Satu, harus percaya kepada Allah, baik dan buruknya takdir Allah,” ujarnya kepada Mastuki seperti dilansir kemenag.go.id, saat ditemui di hotel 605 tempatnya menginap yang berada di wilayah Syisyah, Mekkah, Rabu (23/8).

“Kedua, saya meyakini pesan ayat Surat Yasin, Innama amruhu idza arada syaian an yaquula lahu kun fayakun. Kalau Allah menghendaki, tidak ada yang bisa menghalangi. Saya percaya itu,” ia menambahkan.

“Jadi kuncinya percaya kepada Allah, lalu berusaha sambil meminta. Kalau Allah menakdirkan, saya yakin. Kalau Allah menghendaki, saya akan berangkat,” katanya lagi.

Kepercayaan akan kekuasaan Allah adalah fondasi utama. Selanjutnya, Maksum berusaha untuk mewujudukan niatnya berhaji.

Dengan becak, Maksum mencari nafkah untuk dirinya, yang kini sudah tidak lagi direpoti anak-anaknya. Enam dari 14 keturunannya yang masih hidup sudah mempunyai kehidupan sendiri-sendiri. Maka, jika masih ada sisa dari hasil menarik becak, Maksum mengumpulkannya sampai 20 tahun hingga bisa mendaftar haji pada 2010.

“Nabung sedikit demi sedikit. Sebab, pendapatannya tidak tentu, kadang dapat Rp50.000, kadang kurang,” ia mengenang.

“Saya narik becak di Pasar Atoom Surabaya. Tiap hari. Tapi kalau nabungnya tidak tentu,” ia menambahkan.

Setelah menunggu tujuh tahun, Maksum bisa berangkat haji tahun ini. Tergabung dalam kloter 6 Embarkasi Surabaya (SUB 06), dia mengaku bahagia bisa memenuhi panggilan Allah, sesuai yang dicita-citakannya sejak lama. “Alhamdulillah. Sampai disini juga. Saya merasa kagum dan kaget,” tuturnya.

Maksum mengaku sampai sekarang masih menarik becak, meski usianya sudah mulai senja. Sepulang haji, dia juga mengaku ingin terus menarik becak, karena profesi itu yang selama ini ia jalani.

“Kalau masih kuat kerja, masih pengen terus agar tidak merepotkan anak,” katanya. (kemenag.go.id)

Editor : Sotyati

Back to Home