Google+
Loading...
RELIGI
Penulis: Reporter Satuharapan 12:19 WIB | Jumat, 15 Februari 2019

Menag Ajak Rohaniwan Buddha Isi Ruang Publik dengan Pesan Ajaran Agama

Dewan Pengawas Sangha Agung Indonesia Bhikhu Nyanasuryanadi Mahathera di akhir audiensi menyerahkan sebuah buku kepada Menag Lukman Hakim Saifuddin. (Foto: Sugito/kemenag.go.id)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin meminta kepada segenap rohaniawan Buddha Indonesia untuk mengisi ruang-ruang publik dan sosial media dengan substansi ajaran agama.

Menurut Menag, tantangan hal ihwal kehidupan keagamaan di Indonesia ke depan semakin kompleks. Potensi sengketa semakin marak, terutama melalui sosial media. Sosial media seakan menjadi medium tersendiri bagi mereka yang tidak bisa melampiaskan emosi. Mereka jadikan sosial media untuk tempat saling menghujat dan caci maki.

“Tidak ada pilihan lain, kita harus mengisi ruang ruang publik. Saya minta rohaniawan Buddha proaktif mengisi ruang publik terkait esensi ajaran agama Buddha. Saya bersyukur umat Budhha di Indonesia eksis dalam mengamalkan ajarannya seperti menjaga harkat martabat kemanusiaan,” ujar Menag saat menerima audiensi rohaniawan Buddha dan pengurus Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) di ruang kerja Menag, Kantor Kemenag Jalan Lapangan Banteng Barat No 3-4, Jakarta Pusat, Kamis (14/2), seperti dilaporkan Benny Andriyos dan dilansir kemenag.go.id.

Audiensi bersama Menag tersebut dihadiri Dewan Pengawas Sangha Agung Indonesia Bhikhu Nyanasuryanadi Mahathera, Ketua Umum Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) Masa bakti 2018-2023 Amin Untario, Ketua Umum Wanita Buddhis Indonesia, Lucy Salim, dan pengurus badan otonom di bawah MBI.

Dalam kesempatan tersebut, Amin Untario yang terpilih sebagai Ketua Umum Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) lewat Musyawarah Nasional menyatakan, MBI adalah organisasi Buddhis pertama di Indonesia, yang didirikan pada tanggal 4 Juli 1955 di Watugong-Semarang, oleh Mahabiksu Ashin Jinarakkhita. MBI mengedepankan nilai-nilai nonsektarian, pluralisme, inklusivisme, dan universalisme. Cakupan wilayah layanannya pada 26 Provinsi dan 127 kabupaten/kota.

“Saat ini, MBI sudah ada di 26 provinsi dan 127 cabang dari Aceh hingga Papua. Dalam MBI ada struktur dewan konsultatif yang berisi tokoh berbagai agama yang memudahkan MBI dalam berkoordinasi. Basis kami banyak di desa desa, seperti di Jawa dan Lampung,” ujarnya.

Ia menambahkan, para tokoh agama Buddha yang tergabung dalam Sangha Agung Indonesia (Sagin), merupakan perkumpulan para biksu/biksuni, generasi penerus dari biksu pelopor kebangkitan agama Buddha di Indonesia, penerima Bintang Mahaputera Utama Mahabiksu Ashin Jinarakkhita.

MBI memiliki empat Badan Otonom, yakni Paguyuban Warga Usia Lanjut Bahagia (Wulan Bahagia), Wanita Buddhis Indonesia (WBI), Sarjana dan Profesional Buddhis Indonesia (Siddhi), dan Pemuda Buddhayana (Sekber PMVBI).

Sementara itu Dewan Pengawas Sangha Agung Indonesia Bhikhu Nyanasuryanadi Mahathera menambahkan pada Pada 27 April 2019 mendatang umat Buddha Indonesia akan merayakan ulang tahun Sangha Agung Indonesia ke-60.

“Acara akan digelar selama tiga hari di Kota Medan Sumatera Utara. Kami berharap Bapak Menteri Agama berkenan hadir dalam acara nanti,” ujar Bhikhu Nyanasuryanadi Mahathera di akhir gelaran audiensi dan menyerahkan sebuah buku kepada Menag Lukman Hakim.

 

Editor : Sotyati

Back to Home