Google+
Loading...
RELIGI
Penulis: Reporter Satuharapan 17:48 WIB | Kamis, 21 Februari 2019

Menag Luncurkan Kampanye #MeyakiniMenghargai Convey Day 2019

Ilustrasi. Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin. (Foto: Dok satuharapan.com/Dedy Istanto)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menjadi keynote speaker sekaligus meluncurkan kampanye  Festival#MeyakiniMenghargai 2019 yang diselenggarakan Convey Indonesia bekerja sama dengan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat Universitas Islam Negeri (PPIM UIN) Jakarta dan UNDP (United Nations Development Programs).

Acara yang dihadiri ratusan kaum millenial dan masyarakat umum ini digelar di Nine Thamrin Ballroom, Jakarta Pusat, Rabu (20/2).

Festival#MeyakiniMenghargai menjadi wadah diseminasi peningkatan kesadaran dan call to action seluruh eleman masyarakat dalam mencegah ekstremisme kekerasan.

Menag Lukman dalam keynote speech menyampaikan bahwa menjadikan kaum millenial sebagai target dan sasaran utama Convey, sangat tepat dalam konteks mempersiapkan masa depan kehidupan keagamaan yang damai di Indonesia.

“Kita semua tahu bahwa pada 2045 Indonesia akan mendapatkan bonus demografi dengan 70 persen jumlah penduduk dalam usia produktif. Di antara mereka adalah anak-anak dan remaja yang akan menentukan wajah Indonesia,” kata Menag, seperti dilaporkan Benny Andriyos dan dilansir kemenag.go.id.

Mengapa masa depan dan wajah Indonesia sangat terkait dengan agama? Menurut Menag, itu karena berbagai kajian mengkonfirmasi bahwa Indonesia menempati urutan teratas sebagai negara yang warganya menempatkan agama sebagai faktor penting dan menentukan sikap hidupnya.

“Mengamalkan ajaran agama adalah cara kita menjaga Indonesia. Sebagaimana menunaikan kewajiban negara adalah wujud pengamalan ajaran agama,” ujar Menag.

Tampak mendampingi Menag Staf Ahli Oman Fathurahman, Team Leader of Convey Indonesia, Jamhari, dan UNDP Deputy Resident Representative in Indonesia, Sophie Kemkhadze. 

Menurut Menag, seiring dengan era disrupsi di mana terjadi perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat, karakter dan perilaku beragama kaum muda milenial juga banyak berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka adalah umat digital, senang dengan materi keagamaan yang dikemas kreatif, inovatif, menyenangkan dan sekaligus mudah diakses.

“Jika kita tidak hadir di tengah-tengah mereka untuk menyediakan materi keagamaan yang sejuk, damai, toleran dan sesuai dengan watak milenialnya, maka jangan disalahkan kalau bandul kecendrungan kehidupan keagamaan Indonesia di masa depan mengarah kepada sikap-sikap intoleran, eksklusif, ektrem, penuh kekerasan, dan bahkan mungkin tindakan terorisme,” kata Menag,

Ia menambahkan, program-program yang telah dijalankan Convey Indonesia sesungguhnya bukan hanya kebutuhan kelompok agama tertentu saja atau satu dua kelompok keagamaan. Melainkan kebutuhan semua, yakni kebutuhan untuk merawat keragaman, mencegah ektremisme dan kekerasan serta membangun peradaban.

Area program Convey Indonesia, lanjut Menag, cukup komprehensif; mencakup riset, survei, advokasi kebijakan dan kampanye public, yang sebagian menyasar stakeholder Kementerian Agama, antara lain: para penyuluh agama, takmir masjid, dosen dan guru agama, siswa siswi madrasah, dan lainnya.

“Tentu program tersebut sejalan dengan komitmen Kementerian Agama untuk terus menerus menggaungkan pentingnya moderasi beragama, yakni mengedepankan sikap dan perilaku selalu mengambil posisi di tengah-tengah (wasathiyah), selalu bertindak adil, berimbang dan tidak ekstrem dalam praktik beragama,” Menag menandaskan.

 

Back to Home