Google+
Loading...
RELIGI
Penulis: Reporter Satuharapan 10:06 WIB | Senin, 29 April 2019

Menag Minta Umat Buddha Amalkan Nilai Luhur Buddha Dharma

Ilustrasi. Maha Bhiksu Ashin Jinarakkhita Mahastavira, banyak jasa yang ditorehkan di masa hidupnya yang menjadi catatan dalam kehidupan umat Buddha Indonesia. (Foto: Alchetron)

MEDAN, SATUHARAPAN.COM – Perayaan peringatan HUT ke-60 Sangha Agung Indonesia (Sagin) tahun ini mengangkat tema “Maha Bhiksu Ashin Jinarakkhita untuk Agama Buddha Indonesia”. Peringatan itu dibuka Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan diselenggarakan di Vihara Borobudur, Medan.

Menag mengatakan, umat Buddha Indonesia sudah semestinya termotivasi dan terinspirasi dengan nilai-nilai yang dibawa dan diperjuangkan mendiang Maha Bhiksu semasa hidupnya. Nilai-nilai tersebut tentu masih relevan hingga sekarang.

“Memperingati Hari Sangha Agung Indonesia, tentu tidak dapat dilepaskan dari figur Guru Dharma yang sangat dekat di hati para Umat Buddha Indonesia. Beliau adalah Maha Bhiksu Ashin Jinarakkhita Mahastavira. Banyak jasa yang ditorehkan oleh beliau di masa hidupnya, yang sangat fenomenal, yang terus menjadi catatan dalam kehidupan umat Buddha Indonesia," kata Menag di Medan, Sabtu (27/4) seperti dilaporkan Bella dan dilansir kemenag.go.id.

Menurut Menag, Maha Bhiksu Ashin dikenal sebagai sosok yang mampu mengangkat keberadaan agama Buddha di Indonesia pasca 500 tahun keruntuhan Majapahit hingga tumbuh kembali menjadi sebuah entitas agama yang mampu menyumbangkan nilai dan tradisi khas yang telah berusia ratusan tahun.

“Perjalanan kebangkitan kembali agama Buddha di Indonesia itulah yang dikenal dengan Buddha Jayanti, ditandai dengan perayaan Hari Tri Suci Waisak di Candi Borobudur tahun 1953,” tuturnya.

“Di sinilah umat Buddha mempunyai tanggung jawab untuk lebih proaktif dalam mengamalkan nilai-nilai luhur Buddha Dharma di Negara Kesatuan," ia menambahkan.

Dalam acara yang dihadiri 1200 Bikhu Sangha Indonesia serta 200 umat Buddha, Menag mengingatkan tentang nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan.

“Umat Budhha hendaknya mampu menanamkan karakter keindonesiaan dalam rangka mewujudkan masyarakat Indonesia yang menjungjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan. Inilah yang harus diwujudkan dalam beragama, yang saya sebut dengan Moderasi Beragama,” ia berpesan.

Wilayah Indonesia, Menag mengingatkan, merupakan sesuatu yang wajib dijaga bersama agar senantiasa damai, masyarakatnya rukun penuh kasih sayang satu sama lain. Sehingga, terhindar dari konflik atau sengketa di antara anak bangsa. Dengan begitu, nilai-nilai agama dapat diaplikasikan di kehidupan nyata.

Dalam acara perkumpulan para Bhikku yang tertua di Indonesia tersebut, ucapan terima kasih dan rasa syukur juga Menag sampaikan atas karya Sangha Agung Indonesia yang telah diukir dengan baik.

“Selamat dan terima kasih kepada Sangha Agung Indonesia yang tiada hentinya membimbing dan memberikan pelayanan Dharma kepada Umat Buddha Indonesia,” ucap Menag.

Ia berharap agar kesadaran bergama itu hakikatnya berindonesia menjadi acuan, agar eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berlandaskan Ketuhanan Yang Maha Esa dapat tetap terjaga dan terpelihara dengan baik.

 

Back to Home