Google+
Loading...
ANALISIS
Penulis: Anil Dawan 08:25 WIB | Selasa, 20 Agustus 2019

Menanggulangi Remaja-remaja Putus Harapan

Salah satu isu remaja belakangan ini adalah rasio bunuh diri yang cukup signifikan.
Indahya masa remaja (foto: istimewa)

SATUHARAPAN.COM – Hari Remaja Internasional (International Youth Day), 12 Agustus, merupakan pengingat untuk memperhatikan para remaja. Hari Remaja Internasional dicetuskan pertama kali oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 1998. Banyak negara besar di dunia yang tergabung dalam PBB merasa perlu hari khusus yang dijadikan momen merayakan hal-hal terkait remaja.

Salah satu isu remaja belakangan ini adalah rasio bunuh diri yang cukup signifikan. Data 2018 menunjukkan, rasio bunuh penduduk Indonesia sebesar 2,9 per 100.000 orang. Indonesia menduduki peringkat 65.

Kasus bunuh diri remaja di Blitar, Jawa Timur, dalam waktu berdekatan menggambarkan rapuhnya ketahanan remaja masa kini serta lemahnya dukungan sosial dari keluarga inti. Peristiwa mengejutkan itu menimpa dua remaja yang mengakhiri hidupnya karena persoalan keluarga.

EPA usia 16 Tahun, yang baru saja lulus SMP, ditemukan meninggal dunia di kamar kosnya (29/5/2018). Semula ada dugaan kuat bahwa korban mengakhiri hidupnya karena merasa khawatir tidak diterima di sekolah favorit lantaran sekolah itu berada di luar wilayah domisili (zonasi). Akan tetapi, hal tersebut dibantah dengan ditemukannya 10 surat yang dibuatnya sebelum mengakhiri hidupnya.

Sementara satu remaja lagi, BI usia 15 tahun warga desa Kanigoro, Blitar, diduga karena keputusasaan korban yang melabel dirinya sebagai anak nakal dan depresi karena sering menyakiti hati orang tuanya (31/52018).

 

Generasi yang Mudah Patah

Mencari penyebab peristiwa bunuh diri yang dilakukan remaja sejatinya dapat ditemukan dari aspek psikososial tahap perkembangan remaja. Pada usia remaja (13-18 th) anak remaja diperhadapkan pada pencarian identitas diri. Mereka mengalami banyak perubahan secara fisik dan berusaha mengembangkan diri baik secara intelektual, emosi, konsep serta perilaku menurut perangkat nilai dan sistem yang ada serta dapat dipertanggungjawabkan secara sosial.

Pada periode sosial tersebut, remaja cepat berinteraksi dengan lingkungan sosial sekitarnya. Mereka sangat cepat berinteraksi dengan perkembangan lingkungan sekitarnya, maka tidak heran jika mereka pun mudah dipengaruhi. Celakanya dalam era perkembangan teknologi informasi sekarang ini, referensi anak remaja sangat bergantung pada informasi yang diperoleh melalui berita, media sosial via internet.

Dunia maya telah menjadi referensi hidup—referensi moral dan nilai-nilai. Referensi tersebut harus difilter dengan daya kritis dahulu sebelum diterapkan begitu saja karena tidak semua mengandung hal positif. Jika salah mengambil referensi, maka salah juga pengambilan keputusan untuk menyelesaikan masalah hidup.

Remaja juga semakin menyukai teman-teman atau kelompok seusianya. Mereka senang membentuk group-group yang cocok dengan kebiasaan, kemampuan, dan kesukaan mereka. Hal inilah yang menyebabkan relasi mereka dengan orang tua dan keluarga makin berkurang.

Akibatnya begitu remaja memiliki masalah, mereka tidak lagi berbagi kepada orang tua dan keluarga mereka. Mereka tidak lagi menjadikan keluarga sebagai tempat rujukan utama untuk mencari solusi dan pemecahan persoalan kehidupan. Jika persoalan remaja terjadi karena keluarga, maka akan menambah beban stres dan terakumulasi menjadi depresi karena mereka tidak mampu memecahkan masalah, tidak sanggup menanggung beban mental yang berat. Akibatnya mereka menjadi generasi yang mudah patah karena tiga sebab yaitu pada masa pencarian identitas diri, tidak memiliki rujukan hidup dan nilai pada hal-hal positif, dan relasi renggang dengan orang tua dan keluarga sehingga tidak memiliki tempat mencari solusi terhadap masalah.

 

Menumbuhkan Harapan, Membangkitkan Asa

Pengasuhan orang tua kepada anak remaja yang didasari dengan cinta yang tulus adalah kunci memahami remaja. Orang tua dan lingkaran keluarga perlu intensif memberikan perhatian untuk mendampingi anak-anaknya agar mereka tidak merasa sendirian dan mampu menghadapi persoalan hidup dengan lebih tegar.

Memfasiltasi aktifitas remaja yang kreatif dan produktif dalam rangka menjadikan masa-masa produktif remaja untuk dapat menggali dan mengembangkan kemampuan mereka. Ekspresi dan kreasi adalah bagian dari hal berarti yang mereka miliki yang patut dikembangkan dan difasilitasi pelaksanaanya melalui  jalur ekstrakurikuler di sekolah. Kegiatan melalui sanggar-sanggar remaja di tingkat desa, kecamatan ataupun kabupaten dan kota bisa berupa kegiatan kebudayaan melalui seni dan olahraga karena kegiatan yang sangat digemari remaja untuk unjuk potensi dan talenta mereka.  

Pengembangan potensi dan kompetensi melalui pengembangan kepemimpinan kapasitas remaja akan mendorong pengembangan diri yang positif  dan mampu melatih citra diri yang positif sekaligus keterampilan untuk mempengaruhi teman-temanya dengan aktivitas yang produktif. Membangun kerjasama tim bersama rekan-rekan sebaya dan latihan pengambilan keputusan menjadi sarana yang mendorong daya tahan dan daya juang untuk memecahkan masalah-masalah yang remaja hadapi sehari-hari.

Akhirnya penguatan spiritual melalui ibadah sesuai dengan iman keyakinan remaja menjadi fondasi yang kokoh bagi remaja untuk merajut masa depan tanpa mengalami ”patah” oleh kekecewaan dan kesulitan yang dihadapi.

Tokoh agama seperti pendeta, Ustadz atau Kyai dan guru-guru, konselor di sekolah berperan dalam membangun hubungan timbal balik (interpersonal relationaship) untuk membantu remaja mengidentifikasi masalah dan membangun kekuatan iman dan spiritualitas dalam mencari solusi untuk masalahnya. Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan tidak lagi ada remaja yang putus harapan dan mengakhiri hidupnya. Sebab sejatinya masa remaja adalah masa yang paling indah dan menyenangkan. 

Editor : Yoel M Indrasmoro

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home