Google+
Loading...
OLAHRAGA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 00:16 WIB | Jumat, 06 Juli 2018

Menarilah Modric!

Jelang Pertandingan 8-Besar: Kroasia vs Rusia
Pertandingan persahabatan kesebelasan Rusia melawan Kroasia dengan hasil akhir 3-1 untuk Kroasia di Rostov-on-Don, 17 November 2015. (Foto: vestnikkavkaza.net)

SATUHARAPAN.COM - Kesebelasan Kroasia dan Rusia yang bertemu di babak 8-besar Piala Dunia 2018 memenangi pertandingan sebelumnya dalam drama adu penalti. Kroasia mengalahkan tim Dynamite Denmark setelah pada waktu normal dan babak perpanjangan waktu hanya mampu bermain 1-1, sementara Rusia menyingkirkan Spanyol.

Meskipun sama-sama memenangi drama adu penalti, kedua kesebelasan meraihnya dalam gaya permainan yang berbeda sama sekali. Kroasia sebagaimana biasanya selalu berusaha tampil untuk menguasai bola (ball possesion) untuk memenangi pertandingan sementara Rusia mengulang strategi yang mereka terapkan saat menghadapi kesebelasan Uruguay: memperkuat pertahanan dilanjutkan dengan serangan balik saat mereka menguasai bola pemain lawan memasuki wilayah pertahanannya. Jika pada percobaan pertama saat mereka gagal menjinakkan Uruguay, pada babak 16-besar Rusia berhasil membuat frustrasi Iniesta dan kawan-kawan dan memaksa mereka angkat koper.

Kesebelasan Kroasia dan Rusia sudah saling bertemu sebanyak tiga laga. Catatan pertandingan lebih memihak Kroasia, dimana pada pertemuan terakhir pada sebuah laga persahabatan Kroasia mengalahkan Rusia dengan skor 3-1 di Rostov-on-Don tahun lalu. Tiga gol Kroasia dicetak Nikola Kalinic, Marcelo Brozovic, dan Mario Mandzukic sementara gol Rusia dicetak oleh Smolov. Dalam perjumpaan yang keempat mereka akan menjadi andalan masing-masing kesebelasan.

Pertahanan Terbaik adalah Menyerang (?)

Menerapkan strategi bertahan dengan mengandalkan serangan balik dalam permainan sepakbola modern saat ini dianggap sebagai sebuah permainan negatif. Di saat sepakbola berkembang semakin cepat dengan doktrin pertahanan terbaik adalah menyerang, penguasaan bola menjadi syarat utama bagi permainan tim. Pep Guardiola adalah salah satu pelatih yang konsisten menerapkan strategi menyerang. Tidak peduli timnya sedang dalam posisi menang ataupun tertinggal, Pep selalu menginstruksikan pemainnya untuk sebanyak dan selama mungkin menguasai bola dan mendistribusikan dalam serangan.

Dengan sikap konsistennya, Pep banyak mengoleksi trofi dan membuat prestasi yang mengagumkan saat menangangi Barcelona. Dan pada musim kompetisi terakhir di Manchester City, gaya permainannya menciptakan banyak rekor mulai dari jumlah gol terbanyak dalam satu musim kompetisi, jumlah poin terbanyak menembus angka 100, hingga barisan pemain-pemain produktif yang selalu bersaing sehat menampilkan yang terbaik bagi klub yang dibelanya.

Dua laga pada babak 16-besar PD 2018 harus diselesaikan dalam drama adu penalti pada fase gugur menjadi indikasi bahwa pragmatisme permainan sepakbola menjadi pilihan pelatih saat dirasakan skuadnya tidak mampu mengimbangi permainan lawan di semua lini. Ini menjadi kampanye negatif bahwa gaya bertahan dianggap sebagai sebuah "dosa" dalam permainan sepakbola saat ini.

Pilihan strategi bermain dengan lebih mengandalkan serangan balik setelah memperkuat pertahanannya adalah sebuah pilihan yang sah adanya. Selama hal tersebut dilakukan dalam sebuah permainan yang fair, apapun pilihan strategi bukanlah sebuah hal yang tabu. Dengan gaya permainan bertahan toh Islandia mampu menampilkan permainan yang menarik melalui serangan balik yang cepat dan mematikan saat menghadapi Argentina di pertandingan pertama fase grup D.

Menghadapi kesebelasan Rusia yang diperkirakan akan menerapkan strategi bertahan dengan pola 4-5-1, barisan gelandang Kroasia akan diuji lagi membongkar pola-pola permainan bertahan. Pada fase grup Luka Modric dan kawan-kawan mampu melumpuhkan strategi yang diterapkan Hallgrimson meskipun memerlukan waktu hingga babak kedua bergulir untuk bisa membongkar pertahanan Islandia yang dikawal Sigurdsson-Ingason-Saevarsson.

Bagi tim asuhan Zlatko Dalic, lebih mudah menghadapi kesebelasan dengan gaya menyerang dibanding tim dengan strategi bertahan. Strategi bertahan yang diterapkan pelatih Denmark Hareide 'mengingkari' gaya permainan Denmark yang meledak-ledak mampu memaksa Modric dan kawan-kawan menyelesaikan pertandingan dengan adu penalti. Meskipun akhirnya kalah, Hareide seolah memberikan sinyal kepada Stanislav Cherchesov bagaimana menahan permainan impresif Kroasia.

Stanislav Cherchesov berhasil membuat tim Spanyol yang menjadikan possesion ball sebagai komando permainan menjadi tidak berarti dalam kawalan pemain Rusia yang menerapkan gaya bertahan total. Hasilnya Diego Costa, Asensio, Isco, dan Silva tidak mampu membuat gol ke gawang Akinfeev. Keasikan menyerang justru Spanyol lupa pada pertahanannya. Dalam sebuah serangan balik yang cepat mereka menekan dan berbuah tendangan sudut yang akhirnya menjadi hadiah penalti saat Pique berusaha menahan bola atas yang justru berujung pada handball di dalam kotak penalti.

Pertahanan total Rusia bukannya tanpa celah. Dengan pola serangan yang terorganisir dan tidak terburu-buru melakukan penetrasi ke kotak penalti, Suarez dan Cavani berhasil membongkar pertahanan Kutepov, Ignashevich, Fernandez. Hasilnya mereka menekuk tuan rumah Rusia dengan tiga gol tanpa balas pada pertandingan terakhir fase grup A.

Yang diperlukan Luka Modric dan kawan-kawan saat menjalani laga 8-besar menghadapi Rusia adalah kesabaran menunggu pemain belakang Rusia membuat kesalahan. Di sinilah peran Perisic dan Rakitic akan sangat menentukan bagaimana mereka menarik barisan pertahanan Rusia keluar dari wilayahnya. Ketidaksabaran hanya akan mengulang kesalahan yang dilakukan pemain-pemain Spanyol yang harus tersingkir di tangan Rusia. 

Ketika Modric dan kawan-kawan mampu melumpuhkan permainan bertahan Islandia serta mengimbangi permainan "tidak biasa" Denmark, menghadapi Rusia meskipun didukung penonton sebagai pemain kedua belas, selagi anak asuh Zlatko Dalic tampil sabar mereka berpeluang besar mengulang sejarah dua puluh tahun silam saat mampu menembus babak empat besar. Setidaknya Kroasia memiliki serangan yang lebih terorganisir dibanding Spanyol.

Pertandingan babak 16-besar antara Rusia melawan kesebelasan Kroasia akan berlangsung pada Sabtu (7/7) di Stadion Fisht, Sochi.

Perkiraan susunan pemain:

Kroasia (4-2-3-1) : Subasic (gk), Vida, Corluka, Strinic, Lovren/Jedvaj, Rakitic, Brozovic, Perisic, Modric, Kovacic, Mandzukic/Pjaca | pelatih: Zlatko Dalić

Rusia (4-2-3-1) : Akinfeev (gk) Fernandes, Kutepov, Ignashevich, Zhirkov, Samedov, Gazinskiy, Zobin, Samedov, Dzagoev/Kuzyayev, Golovin/Miranchuk, Smolov/Dzyuba.| pelatih: Stanislav Cherchesov

 

Back to Home