Google+
Loading...
INSPIRASI
Penulis: Yoel M Indrasmoro 18:19 WIB | Jumat, 09 Agustus 2019

Menaruh Kepercayaan

Kepercayaan itu tidak berdasarkan situasi dan kondisi Abram.
Abraham (foto: istimewa)

SATUHARAPAN.COM – ”Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar” (Kej. 15:1). Demikianlah sapaan Allah kepada Abram. Mengapa Allah memulai sapaannya dengan frasa ”janganlah takut”?

Kelihatannya Abram memang dalam kondisi takut. Dan Allah mengetahuinya. Bagaimanapun, janji yang diberikan Allah sejak panggilan di Haran memang belum digenapi.

Dengan jujur, Abram menanggapi sapaan Allah tadi, ”Ya Tuhan ALLAH, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu” (Kej. 15:2).

Jelaslah bahwa Abram memang takut. Dia menyadari bahwa usianya hampir suntuk. Namun, anak yang dijanjikan Allah itu tidak kunjung muncul. Abram dengan lugas berkata, ”Engkau tidak memberikan kepadaku keturunan, sehingga seorang hambaku nanti menjadi ahli warisku.” (Kej. 15:3). Bagi Abram anak merupakan masa depan. Apa pun yang menjadi miliknya sekarang ini terasa sia-sia karena hambanyalah yang akan mewarisinya.

Abram menyatakan kekecewaannya. Kemanusiaannya membuat dia mencurahkan isi hatinya kepada Allah. Dia pun agaknya tak mampu lagi membendung apa yang ada di dalam hati dan pikirannya. Akan tetapi, dengan lugas pula Allah menjawab, ”Orang ini tidak akan menjadi ahli warismu, melainkan anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu”. (Kej. 15:4).

Dan Allah merasa perlu menguatkan iman Abraham. Caranya unik disimak. Allah mengajak Abram ke luar kemah serta berfirman: ”Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya...  Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.” (Kej. 15:5).

Menarik pula disimak bahwa penulis Kitab Kejadian menulis: ”Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran” (Kej. 15:5). Apakah artinya ini?

Abram percaya kepada Allah. Jelaslah bahwa kepercayaan itu tidak berdasarkan situasi dan kondisi Abram. Baiklah kita ingat bahwa Abram belum mendapatkan tanah, juga anak. Akan tetapi, dia menaruh kepercayaannya kepada Allah semata. Sekali lagi, dia meletakkan pengharapannya kepada Allah semata.

Editor : Yoel M Indrasmoro

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home