Google+
Loading...
OLAHRAGA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 20:22 WIB | Senin, 09 Juli 2018

Mencetak Sejarah: Bukan Spesialis Semifinalis

Jelang Pertandingan 4-Besar: Inggris vs Kroasia
Pemain Kroasia Mladen Petric (10) berebut bola dengan pemain Inggris Gareth Bary (11) pada kualifikasi Piala Dunia 2010 grup 6 zona Eropa di Stadion Wembley, 9 September 2009 yang berakhir 5-1 untuk kemenangan Inggris. (Foto: zimbio.com)

SATUHARAPAN.COM - Lolos ke babak 4-besar, Inggris dan Kroasia melewati pertandingan yang terjal. Sebelum menjungkalkan kesebelasan Swedia dengan dua gol tanpa balas, Kane dan kawan-kawan harus menjalani drama adu tendangan penalti di babak 16-besar saat bertemu Kolombia.

Untuk lolos ke babak 4-besar, kesebelasan Kroasia harus bermain dalam babak tambahan waktu dan adu penalti pada dua laga. Dua laga harus dijalani dengan adu penalti. meskipun keduanya dimenangi namun menyisakan kelelahan fisik dan psikis bagi pemain-pemain Kroasia. Tampil dominan dan materi yang kuat hampir di semua lini tidak serta merta membuat Modric dan kawan-kawan memenangi laga dalam waktu normal.

Kedua kesebelasan menghadapi babak 4-besar dengan ambisi yang sama: lepas dari bayang-bayang partai semi final. Setelah menjuarai PD 1966, prestasi terbaik kesebelasan Inggris adalah peringkat keempat PD 1990. Sementara Kroasia yang membuat debut pada PD 1998 dengan menempati peringkat ketiga, tidak pernah lolos fase grup PD berikutnya.

Pada turnamen resmi kedua kesebelasan pernah bertemu pada Piala Eropa 2004 saat tergabung dalam grup B. Dalam fase grup tersebut Inggris mengalahkan Kroasia dengan skor  4-2 yang memaksa mereka pulang lebih awal pada Piala Eropa 2004.

Pada kualifikasi Piala Eropa 2008 Kroasia mengalahkan Inggris pada laga kandang-tandang. Dengan kekalahan tersebut Steven Gerrard dan kawan-kawan gagal ke Austria-Swiss. Rooney dan kawan-kawan membalas pada kualifikasi PD 2010. Akibat kekalahan 4-1 dan 5-1 pada laga kandang-tandang, Niko Kovac dan kawan-kawan gagal melaju ke Afrika Selatan.

Pada babak 4-besar PD 2018, Inggris dan Kroasia datang dengan kekuatan yang berimbang. Inggris dengan perpaduan pemain yang matang permainan di klub dengan talenta muda, sementara Kroasia bermaterikan bintang-bintang yang merumput di klub-klub besar liga mayor Eropa. Kroasia memiliki barisan pemain bertahan terbaik dari empat kesebelasan yang ada. Hal ini dibuktikan dengan penampilan terakhir menghadapi Rusia yang bermain habis-habisan dengan serangan balik bergelombang.

Pertemuan kedelapan kedua kesebelasan diwarnai aroma balas dendam anta keduanya. Kalinic-Corluka-Modric merasakan pahitnya tidak lolos PD 2010 karena disingkirkan Inggris di kualifikasi zona Eropa.

Kesempatan terakhir Modric

Krosia menjalani lima laga menghadapi tim-tim kuat dengan gaya bermain yang bervariasi. Nigeria yang datang dengan skuad muda dan permainan bertenaga mampu mereka redam dengan permainan bola-bola pendek yang efektif. Hasilnya dua gol tanpa balas mereka lesakkan. Trend permain berlanjut saat menghadapi tim Tanggo yang mereka tundukkan tiga gol tanpa balas. Di hadapan Modric dan kawan-kawan, Messi tidak mampu mengembangkan permainan timnya. Saat menghadapi tim defensif Islandia yang terkenal dengan pertahanan berlapisnya, Modric kembali berjaya dengan skor 2-1.

Inggris yang datang dengan perpaduan pemain senior-muda mengawali fase grup dengan baik saat mengalahkan Panama dan Tunisia mereka taklukkan dengan skor telak 6-1. Pada pertandingan ketiga melawan Belgia mereka kalah 1-0 saat menurunkan hampir sebagian besar skuad pelapisnya.

Pada babak 16-besar Inggris seolah menemui tembok kuat Kolombia dan harus menjalani pertandingan dengan drama adu penalti yang menjadi momok kesebelasan Inggris selama ini. Beruntung mereka mampu lolos dan bertemu dengan tim Skandinavia Swedia yang kerap merepotkan mereka. Pertandingan melawan Swedia menjadi titik balik permainan Inggris saat mereka mampu mendominasi permainan dan memenangi laga dengan dua gol tanpa balas. Inggris telah menemukan permainan terbaiknya dengan gaya kick and rush yang bertenaga. Permainan bola-bola panjang serta umpan silang yang selama ini menjadi warna Inggris diperagakan Kane dan kawan-kawan. Inggris yang kerap memenangi bola-bola atas mencetak dua gol ke gawang Olsen dengan sentuhan akhir bola-bola atas.

Pertemuan antara Inggris melawan kesebelasan Kroasia, Kane dan kawan-kawan diuntungkan dengan kondisi yang lebih segar karena Modric dan kawan-kawan memenangani laga melawan tuan rumah Rusia dalam laga yang menguras energi: adu tendangan penalti. Dua kali laga harus diselesaikan Modric dan kawan-kawan pasti menguras tenaga dan mental yang memerlukan recovery sebelum menghadapi laga krusial menghadapi Inggris di partai semi final.

Pertandingan menarik yang mempertemukan Kroasia dengan permainan bola-bola pendek cepat dan efektif melawan Inggris yang mengandalkan bola-bola panjang/atas untuk menembus pertahanan lawan.

Lima gelandang yang ditempatkan oleh masing-masing kesebelasan akan beradu kreativitas. Pertarungan Brozovic, Perisic, Modric, melawan  Henderson, Lingard, Young, akan menyajikan permainan dalam pola yang berbeda. Dengan permainan terbuka Kuzyazev-Zobnin terbukti mampu membongkar pertahanan Strinic-Lovren. Titik ini cukup krusial bagi Kroasia manakala mereka tidak mampu menahan pergerakan dua pemain Inggris Delle Ali dan Raheem Sterling yang berhasil membongkar pertahanan Lindelof-Granqvist.

Inggris saat ini dalam kepercayaan diri yang tinggi. Dalam posisi demikian akan menjadi kekuatan bagi kesebelasan Inggris untuk bermain lebih bebas. Setidaknya mereka telah mampu melepaskan diri dari tekanan adu penalti yang berhasil mereka lalui saat menghadapi Kolombia. Rasanya berat bagi Modric dan kawan-kawan menyingkirkan Inggris jika seluruh pemain Inggris dalam performa terbaiknya. Mereka kuat dalam bola-bola atas sekaligus kuat di kedua sayapnya melalui pergerakan dua pemain mudanya. 

Yang perlu diantisipasi Kane dan kawan-kawan adalah serangan balik Kroasia yang cepat. Kebiasaan Stones dan Maguire yang turut naik membantu serangan kerap meninggalkan celah terbuka pada pertahanan saat terjadi serangan balik. Beruntung saat menghadapi Denmark dan Swedia, kedua timnas tidak memiliki barisan penyerang yang mematikan.

Kesebelasan Inggris akan lebih senang jika Kroasia bermain terbuka. Dengan begitu mereka berkesempatan memainkan umpan-umpan lambung dan silang yang menjadi salah satu keahlian pemain-pemain Inggris. Di sinilah peran Rakitic, Brozovic, Perisic, memotong aliran bola-bola panjang Inggris. Jika ketiganya mampu menahan pergerakan pemain dan permainan bola panjang Inggris, di lapangan tengah Modric berkesempatan menyusun orkestrasi permainan Kroasia. Ketiganya memainkan peran tersebut dengan rapi saat Kroasia menghadapi Argentina, Nigeria, dan Rusia.

Pada laga babak 4-besar, kedua kesebelasan akan saling menguji meskipun ujian yang dihadapi Kroasia sejauh ini lebih bervariasi. Dengan laga yang telah dilewati Modric dan kawan-kawan, Kroasia akan menjadi ujian sesungguhnya bagi kesebelasan Inggris. Sementara bagi Modric dan kawan-kawan, sejauh ini ujian tersebut lebih pada motivasi mereka memenangi Piala Dunia 2018. 

Kroasia saat ini mampu mengalahkan kesebelasan manapun, sementara bagi Inggris inilah saat terbaik bagi mereka membuat sejarah dengan materi pemain yang bertenaga, gaya permainan terbaik dalam satu dekade terakhir, dan semangat yang sedang dalam puncaknya. Pada pertemuan kedua kesebelasan, yang mampu bermain efektif akan mencetak sejarah dalam perhelatan Piala Dunia 2018.

Pertandingan babak 4-besar antara Inggris melawan kesebelasan Kroasia akan berlangsung pada Sabtu (11/7) di Stadion Luzhniki, Moskow.

Perkiraan susunan pemain:

Inggris (3-4-2-1) : Pickford (gk), Walker, Stones, Maguire, Trippier, Henderson, Lingard, Young, Delle Ali, Sterling/Vardy, Kane. | pelatih: Gareth Southgate

Kroasia (4-2-3-1) : Subasic (gk), Vida, Corluka, Strinic, Lovren/Jedvaj, Rakitic, Brozovic, Perisic, Modric, Kovacic, Mandzukic/Pjaca | pelatih: Zlatko Dalić

 

Back to Home