Google+
Loading...
ANALISIS
Penulis: Evelyn Suleeman 23:45 WIB | Rabu, 04 September 2019

Menebar Bibit, Mengatasi Kebakaran

Salah satu cara untuk mengatasi kebakaran gambut adalah menghutankan lahan gambut dengan menyebar biji-bijian. Pohon peneduh akan melindungi permukaan tanah dari teriknya sinar matahari langsung dan embusan angin.
Foto: Istimewa

SATUHARAPAN.COM – Baru saja kita merayakan kemerdekaan negara Indonesia yang sudah berusia 74 tahun. Ada banyak yang bertanya, apa yang sudah kita lakukan buat negara ini. Mungkin ajakan untuk mengumpulkan berbagai biji tumbuh-tumbuhan terlihat sangat sederhana tetapi dapat berdampak luas.

Pada 7 Agustus 2019 BMKG mendeteksi adanya 85 titik panas kebakaran hutan di wilayah Sumatera di mana 54 titik berada di Provinsi Riau. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan enam provinsi di Indonesia masuk kategori siaga darurat kebakaran hutan. Keenam provinsi tersebut meliputi Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Lahan dan hutan terbakar paling banyak juga terjadi di Kalimantan Timur (5.153 ha), Kepulauan Riau (4.969 ha), Sumatera Selatan (2.274 ha) juga Kalimantan Utara dengan luas lahan-hutan terbakar mencapai 792 ha.

Kebakaran lahan ini baru muncul pada Januari 2019. Padahal, dari 2016 sampai 2018, tidak ada kebakaran lahan dan temuan titik api. Terakhir itu ada asap kebakaran hutan ya tahun 2015. Pada waktu itu, jutaan warga Riau terpapar ISPA karena kepungan asap kebakaran hutan lahan. Penyebab kebakaran hutan dan lahan, 99 persen dilakukan oleh manusia, terutama mereka yang sengaja membakar hutan untuk membuka lahan. Sebagian besar tanah di Riau, terutama di daerah pesisir, berstruktur gambut. Karakteristik gambut adalah kering di permukaan sehingga mudah terbakar.

Salah satu cara untuk mengatasi kebakaran gambut adalah menghutankan lahan gambut dengan menyebar biji-bijian. Pohon peneduh akan melindungi permukaan tanah dari teriknya sinar matahari langsung dan embusan angin.

Beberapa waktu yang lalu sempat ramai ajakan di media sosial untuk mengumpulkan biji buah ke tempat sampah, tetapi mencuci dan mengeringkannya di bawah sinar matahari, membungkusnya dengan koran dan menyimpannya di mobil. Bila menemukan tanah kosong terbuka di jalan desa atau di pinggir jalan raya, buang biji-bijian tersebut.

Ajakan ini terinspirasi dari negara Thailand. Pada 2005, pemerintah Thailand mengkampanyekan Double A Paper Tree untuk petani padi, jagung dan singkong. Tujuannya untuk meningkatkan pendapatan petani dengan menanam 200 juta pohon untuk bahan kertas.  Selain itu ada program The Billion Tree Campaign 2009 di Sirindhorn International Environment Park. Program ini jadi bagian The Billion Tree Campaign yang diluncurkan oleh UNEP (United Nations Environment Programme).

Tentu saja tidak semua biji cocok disebar di lahan gambut, sebab jenis bibit tertentu hanya bisa tumbuh baik di jenis lahan tertentu pula. Secara umum biji pohon dapat dibedakan menjadi biji ortodoks dan biji recalcitrant. Biji tipe ortodoks adalah biji-biji yang umumnya berkulit tebal dan keras, kandungan airnya rendah serta dapat disimpan dalam jangka panjang (tahunan). Misalnya mangium, sengon dan sawo kecil. Biji pada tipe ortodoks dapat langsung tumbuh apabila diletakan di atas tanah tanpa treatment. Jadi biji ortodoks tidak perlu dibungkus dan dikeringkan seperti yang sebarkan lewat medsos. Cukup dianginkan saja.

Sedangkan biji tipe recalcitrant adalah biji-biji yang umumnya berkulit lunak, kandungan air tinggi serta tidak dapat disimpan dalam jangka panjang. Misalnya meranti, mahoni, nangka, durian, rambutan, dan mangga. Jenis biji-bijian ini, dapat tumbuh dengan menggemburkan tanah sebelum ditanam. Untuk biji-bijian kelompok recalcitrant seperti  durian dan mangga, memang harus dicuci sampai bersih. Tujuannya untuk menghilangkan jamur. Setelah itu baru ditanam.

Kalong adalah menyebar biji yang paling baik. Akan Tetapi, tentu saja manusia juga bisa membantu menyebarkan bibit. Pihak BNPB mengajak semua pihak yang ingin bekerja sama dengan Badan Restorasi Gambut untuk menghutankan lahan gambut.

Menurut informasi dari Nahum Eka Wanda, petani organik tanaman yang cocok untuk di lahan gambut adalah tanaman yang menjadi ”pabrik air”, artinya tanaman yang menghasilkan air. Misalnya, aren atau kawung. Bila ada 3 atau 4 pohon aren yang tumbuh rapat berdampingan akan menghasilkan 1 mata air. Ketika ada kebakaran, tanaman aren tahan api, dia tetap hidup. Begitu juga kurma, kelapa, dan mimba. Malah mimba daunnya akan bertambah lebat justru ketika musim panas yang panjang.

Biji-biji lain yang juga bisa ditebar adalah kersen/cherry, kapuk, nangka, biji kopi.  Walaupun banyak yang mengatakan sawit juga cocok untuk ditanam di lahan gambut, tetapi Nahum mengingatkan bahwa sawit justru akan mengeringkan rawa.

Semua biji tanaman ini bisa ditabur dari pesawat ketika awal musim hujan. Bila sudah menyebar biji-bijian tersebut, tahun depan baru ditanam dengan tanaman hutan yang lain.

Buat Anda yang tertarik dan ingin berbuat sesuatu buat negara kita tercinta, ayo mulai kumpulkan berbagai biji seperti aren, kapuk randu, nangka, kopi, kurma, kersen/cherry, salak, dan masih banyak lagi. Bila sudah cukup banyak, Anda dapat mengontak bapak Nahum Eka Wanda di 0819-4648-3642 yang akan mengambilnya. Sepanjang musim hujan biji-bijian tersebut akan ditabur di lahan gambut.

Ayo, siapa mau?

Editor : Yoel M Indrasmoro

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home