Google+
Loading...
ANALISIS
Penulis: Albertus Patty 19:29 WIB | Jumat, 08 November 2019

Menemukan Spiritual Keugaharian In Action

Albertus Patty, di tengah acara Sidang Raya PGI di Waibakul, Sumba. NTT. (Foto: Ist)

WAIBAKUL, SATUHARAPAN.COM-Kepada seorang Bapak, anggota jemaat Gereja Kristen Sumba di Waibakul (Sumba, Nusa Tenggara Timur-Red.), saya sampaikan: 'Terima kasih banyak, pak atas keramah-tamahan, senyuman dan hadiah  tenunan selendang dan kain khas Sumba." Beliau tersenyum, lalu berkata:' Kami gembira dengan pesta iman ini. Setelah ini kami akan bergumul dengan penuh semangat menghadapi segala kekurangan dan kemiskinan kami.'

Tiba-tiba saya diingatkan pada realitas betapa tingkat kemiskinan di Sumba secara nasional di atas rata-rata daerah lain. Tingkat pertumbuhan sumber daya manusia juga termasuk yang terendah di Indonesia. Si Bapak tersenyum dan menjabat tangan saya sambil menyatakan beberapa kalimat yang menyentak saya: "Kami semua, jemaat GKS, bukan memberi dalam kelebihan pak. Kami memberi dalam segala kekurangan dan keterbatasan kami, tetapi hati kami tulus."

Saya memeluk si Bapak. Kagum! Melalui aksi dan pelayanan seluruh anggota jemaat Gereja Kristen Sumba (GKS), spiritualitas Keugaharian bukan lagi teori atau rumus-rumus kosong, tetapi telah diwujudkan dalam praktik hidup. Kekurangan dan kemiskinan bukan alasan untuk tidak memberi yang terbaik, termasuk kepada para peserta sidang PGI (Persekutan Gereja-gereja di Indonesia). Bagi saya, inilah spiritualitas keugaharian in action. Suatu spirit penyangkalan diri yang mengutamakan kepentingan orang lain daripada kepentingan diri maupun kelompok.

Ada satu hal lain yang menarik dalam aksi dan pelayanan jemaat yaitu bahwa pelayanan itu telah mengubah makna kaya dan miskin. Orang miskin adalah mereka yang sebanyak apa pun hartanya tidak dapat memberi dan mengasihi orang lain karena selalu merasa kekurangan. Hidup orang seperti ini penuh dengan keluhan dan ketidakpuasan. Sebaliknya, orang kaya adalah mereka yang sesederhana apa pun kemampuan ekonominya tetap mampu memberi karena selalu merasa cukup. Orang seperti ini selalu berbahagia dan bersyukur. 

Spiritualitas keugaharian in action inilah yang hampir hilang dalam dunia yang sarat dengan spirit kompetisi dan eksploitasi terhadap sesama dan alam raya ini. Kita bersyukur karena kita telah menemukan kembali spirit berharga ini. Kita menemukannya kembali di tanah Sumba, melalui aksi orang-orang 'kecil.' Tugas gereja-gereja kita adalah menghidupkan terus kekayaan spiritualitas keugaharian ini melalui gerakan oikoumene kini dan di masa depan dalam spirit Injil Kristus yang berisi keadilan dan perdamaian bagi semua!

Editor : Sabar Subekti

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home